Doa Penyerahan

"Kuserahkan semua. Semua kepadamu Juru Selamatku yang mulia, kuserahkan SEMUA"

(Lirik sebuah himne lama)

Siapapun yang mengenal saya dengan baik tahu bahwa saya percaya pada pendekatan bulldog untuk berdoa: terus berdoa dan tidak pernah berhenti sampai jawabannya datang. Tuhan berkata dalam Yakobus 4:2, “Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa” dan dalam Lukas 11:9, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.”Jauhlah dari padaku untuk mengabaikan perintah yang penuh kuasa seperti itu!

Tidak mengherankan, banyak instruksi doa saya berputar di sekitar menjadi ulet dan tegas. Saya juga sangat mengagumi dan merekomendasikan doa yang keluar dalam keputusasaan seperti Hanna di Perjanjian Lama ketika dia berdoa untuk anak dan mendapatkan Samuel. Tidak diragukan lagi, Allah menghormati doa yang dinaikkan dengan rasa putus asa. Namun, di sinilah saya sekarang ingin menunjukkan jenis doa yang secara praktis adalah kebalikan dari semua itu.

Penyerahan melanggar semua aturan

Saya menyebut jenis doa ini sangat penuh kuasa, doa penyerahan. Seefektif itu, saya jarang menggunakannya dan saya nanti akan menjelaskan mengapa. Penyerahan cukup banyak melanggar semua aturan yang biasa: tidak bertanya, mengikat dan melepaskan, puasa, doa perjanjian, menyatakan Firman Tuhan atau menegur musuh. Dan - tidak diperlukan keputusasaan. Sebaliknya, penyerahan menyerah pada keadaan apa adanya. Seperti yang saya pikir, mungkin itu benar-benar mengambil langkah melampaui rasa putus asa.

Pengantar pertama saya tentang doa ini tampaknya begitu bertentangan dengan watak alami saya yaitu dari sebuah kisah yang diceritakan oleh almarhum Catherine Marshall tentang hidupnya sendiri dalam bukunya Meeting God at Every Turn [Bertemu dengan Allah di Setiap Belokan]. Mungkin saya menerimanya pada awalnya karena saya sangat mengagumi Catherine dan Tuhan sering berbicara kepada saya melalui tulisannya – sampai sekarang juga masih. Meskipun dia tidak pernah tahu itu, dia adalah seorang mentor rohani besar bagi saya dan karena dialah saya punya harapan bahwa suatu hari nanti saya juga akan menjadi penulis yang akan menguatkan orang lain.

Catherine didiagnosis menderita tuberkulosis pada tahun 1943. Pikiran pertamanya adalah bahwa dia tidak mungkin terkena penyakit ini atau mematuhi perintah dokter untuk benar-benar beristirahat. Bagaimanapun, ia memiliki seorang putra berusia tiga tahun untuk dirawat dan merupakan istri seorang pendeta penting Washington DC dengan jemaat yang banyak. Tetapi, hal itu nyata, dan bulan demi bulan penyakitnya memburuk dan membuatnya membutuhkan kesembuhan ilahi.

Setelah dua tahun melakukan rontgen dada setiap bulan, tidak ada perbaikan apapun yang tampak meskipun semua macam doa dan semua iman telah dikerahkannya, dia "jatuh dalam keputusasaan yang sesungguhnya" seperti yang ia katakan. Apa lagi yang bisa dilakukannya? Ini adalah bagaimana kemudian dia menceritakan apa yang terjadi selanjutnya.

"Hanya satu cara yang tersisa. Mungkin saya telah menahan sebuah keinginan hatiku. Jadi, setelah beberapa hari berjuang, saya menyerahkan kepada Tuhan setiap sisa-sisa terakhir dari diriku, bahkan keinginan kuat saya untuk sembuh seluruhnya. Akhirnya saya bisa berdoa, 'Tuhan, aku tidak mengerti bagian ini, tetapi jika Engkau menghendaki aku untuk sakit selama sisa hidupku - baiklah, itu terserah kepada-Mu. Aku menyerahkan diri di tangan-Mu, untuk keadaan yang lebih baik atau lebih buruk. Aku hanya memohon agar aku melayani Engkau. "

Kemudian, di tengah malam yang sama ia tiba-tiba terbangun dengan Yesus secara harfiah di dalam ruangan. Yesus berbicara dengannya, penampakan dan petunjuk-Nya kepadanya menghasilkan kesembuhan total. Saat dia menceritakan kisah itu lebih dari 35 tahun kemudian dalam bukunya, ia mengatakan tentang peristiwa tersebut sebagai, "tetap sampai hari ini, itu merupakan pengalaman yang paling nyata dan hidup di dalam hidupku."

Esensi penyerahan

Di sana kita memiliki esensi doa penyerahan. Setuju untuk berhenti meminta, bahkan untuk meminta apa yang kita asumsikan sebagai kehendak Allah yang terbaik (pastinya adalah kesembuhan). Setuju untuk menerima keadaan kita dan tidak terus berdoa untuk terjadinya perubahan. Melepaskan kehendak kita sendiri dalam hal itu dan percaya kepada Tuhan untuk rencana dan tujuan yang lebih besar daripada yang bisa kita lihat sekarang. Menyerah! Oh betapa pahitnya pil yang harus ditelan karena Anda harus bersungguh-sungguh. Saya tahu.

Pertama kali saya berdoa doa penyerahan saya melakukannya di bawah paksaan meskipun situasi saya tidak semalang Catherine. Saya malu untuk mengakui itu tapi saya cukup bodoh sehingga Tuhan mengirimkan kepada saya seorang utusan untuk memberitahu saya apa yang diperlukan dalam kasus saya.

Saya berada di sebuah tempat dalam pekerjaan saya di mana saya benar-benar merasa habis. Akhir dari segalanya. Saya begitu putus asa untuk perubahan yang tampaknya sedikit kemungkinannya untuk bisa terjadi. Bulan demi bulan bergulir begitu terus seperti tikus di roda latihan yang tidak pergi ke mana-mana. Saya tidak terhindar dari upaya keras mengeluh, bergumam dan memohon di kelompok doa mingguan saya agar Tuhan MENGELUARKAN SAYA DARI SANA. Mereka dengan setia berdoa bagi saya setiap kali dan kami melihat tidak ada hasil.

Suatu malam saya mendapat telepon dari seorang pria dalam kelompok dan dia mengatakan bahwa dia merasa bahwa Allah telah memberinya kata-kata kepada saya mengenai situasi saya, dan dia ingin datang dan berbicara dengan saya. Saya terkejut dia tidak ingin menunggu sampai Jumat malam ketika kita semua akan bersama-sama berdoa, tetapi kemudian saya juga senang mendengar apa yang dia katakan. Saya sangat senang yaitu, sampai ia benar-benar mengatakan hal itu.

Dia berkata bahwa Tuhan telah mengingatkannya pada suatu waktu dalam hidupnya ketika ia merasakan hal yang sama tentang pekerjaannya tapi kemudian ketika ia akhirnya menyerah kepada Tuhan sepenuhnya tanpa harapan bahwa apa pun akan pernah berubah ke arah baru yang dibukakan secara ajaib. Dia berkata, "Barbara, saya pikir Tuhan ingin Anda untuk melakukan hal yang sama. Menerima untuk puas tepat di mana Anda berada dan percayalah pada Tuhan. Saya merasa Allah begitu ingin saya memberitahu Anda begitu. "

Saya tidak dikuatkan tapi tidak ingin dia tahu itu. Saya berterima kasih karena dia telah setia mentaati Allah dan kemudian berkata, "Yah Steve, sebenarnya aku benar-benar telah melakukan itu. Tetapi, aku akan memikirkan ini dan berdoa tentang hal itu." Setelah ia pergi, pikiran itu terlintas dalam pikiran saya," KAPAN kau sudah melakukan itu? "Saya tidak bisa menunjukkan waktunya kapan saya telah melepaskan rencana saya sendiri sama sekali. Dengan langkah yang terseret saya pergi ke kamar tidur dan berlutut di dekat kursi goyang dan berbicara keras mengucapkan kata-kata penyerahan.

Meskipun saya tidak merasa apa-apa sama sekali ketika saya berdoa dan tidak merasa jauh berbeda setelah tahu saya bersungguh-sungguh dengan kata-kata itu dengan segenap hati. Sekarang hal itu berada di tangan Allah untuk melakukan sesuatu atau tidak – yang mana yang dikehendaki-Nya. Tidak ada lagi doa. Tidak ada lagi mengeluh. Setelah beberapa hari berlalu dengan tenang (atau mungkin kata yang lebih baik adalah kepuasan) menetap. Tidak ada yang berubah di tempat kerja tapi saya telah berubah. Setidaknya keputusasaan akhirnya diangkat.

Tepat tiga minggu kemudian "sesuatu" yang besar terjadi setelah semuanya. Perusahaan saya melakukan reorganisasi besar dan saya ditawari promosi yang menarik dan menantang. Saya keluar dari jalur cepat. Apakah doa penyerahan saya membuka beberapa pintu untuk hukum rohani yang sedikit saya mengerti? Tampaknya begitu.

Apa yang dibutuhkan?

Nah, Anda mungkin berkata, mengapa tidak melewatkan saja semua jenis doa lain di depan dan langsung menaikkan doa penyerahan? Saya tidak menuntut untuk memahami semua misteri itu, tetapi tampaknya hal itu tidak bekerja seperti itu. Penyerahan biasanya muncul hanya setelah setiap jenis doa lainnya telah sepenuhnya dicoba dan kehabisan tenaga. Termasuk keputusasaan!

Saya sebutkan sebelumnya bahwa saya jarang menggunakannya dan itulah salah satu alasan mengapa. Tetapi, terutama itu adalah kenyataan bahwa Anda harus benar-benar bersungguh-sungguh ketika Anda menyerah. Anda tidak dapat menyerahkan kehendak Anda sendiri sebagai taktik untuk membuat Tuhan bergerak. Dia tahu. Dan di dalam hati Anda, Anda juga tahu. Jadi penyerahan itu sangat sulit karena ada beberapa hal yang sangat kita pedulikan sehingga kita tidak pernah bisa sungguh-sungguh meletakkan hal-hal itu di kaki Tuhan dan kemudian meninggalkannya.

Anda mungkin bertanya-tanya apakah doa semacam ini sesuai dengan kitab suci karena kata "penyerahan” tidak ditemukan dalam Alkitab sejauh yang saya tahu. Namun, saya pikir konsep ini pasti ada. Bukankah itu ada di hati Ayub ketika ia berkata, "Meskipun Dia membunuhku, aku akan berharap pada-Nya." (Ayub 13:15) Tetapi, saya pikir Yesuslah yang menyatakan doa penyerahan terbaik. "Bapa, jika Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku, namun bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu yang terjadi" (Lukas 22:42)

Apakah Anda sudah mencoba segalanya? Apakah Anda siap untuk mengakhiri cara Anda dan hanya menerima cara-NYA? Mungkin doa ini milik Anda.(t/Jing Jing)

Diterjemahkan dari:

Nama situs : hannahscupboard.com
Alamat : http://hannahscupboard.com/prayer-relinquish.html
Judul asli artikel : Prayer of Relinquishment
Penulis artikel : Barbara Lardinais
Tanggal akses : 25 Juni 2013

Komentar