Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Doa

Loading

Doa Dan Puasa 1

Alkitab mengemukakan dua hal yang sepintas lalu terlihat saling bertentangan, tetapi sesungguhnya sama-sama berlaku di dalam kehidupan. Di satu sisi, rencana atau kehendak Tuhan yang diungkapkan-Nya pasti akan tergenapi. Di sisi lain, kadang-kadang Allah menginginkan agar manusia menggunakan iman mereka dan turut mengambil keputusan sendiri sebagai syarat yang dibutuhkan, supaya rencana-Nya tergenapi. Untuk melakukan doa syafaat atau mendoakan orang lain sebagai pihak perantara, kita perlu benar-benar memahami hal itu.

Doa Syafaat Daniel

Salah satu contoh yang membuat kita mengerti hal tersebut adalah pelayanan doa syafaat Daniel. Daniel melaporkan: "pada tahun pertama kerajaannya itu aku, Daniel, memperhatikan dalam kumpulan Kitab jumlah tahun yang menurut firman TUHAN kepada nabi Yeremia akan berlaku atas timbunan puing Yerusalem, yakni tujuh puluh tahun. Lalu aku mengarahkan mukaku kepada Tuhan Allah untuk berdoa dan bermohon, sambil berpuasa dan mengenakan kain kabung serta abu." (Daniel 9:2-3)

Daniel bukan saja sebagai nabi. Dia juga seorang ilmuwan yang rajin belajar dan dengan saksama menyelidiki nubuat-nubuat. Ketika mempelajari nubuat Nabi Yeremia, ia menemukan salah satu janji Tuhan, "Sebab beginilah firman TUHAN: Apabila telah genap tujuh puluh tahun bagi Babel, barulah Aku memperhatikan kamu. Aku akan menepati janji-Ku itu kepadamu dengan mengembalikan kamu ke tempat ini." (Yeremia 29:10) Daniel tahu bahwa masa tujuh puluh tahun tersebut sudah hampir berakhir. Ia menyadari bahwa saat yang dijanjikan Tuhan bagi kelepasan dan pemulihan Israel sudah sangat dekat.

Daniel berdoa secara teratur bagi pemulangan bangsa Israel ke negeri nenek moyang mereka, bahkan sampai tiga kali dalam sehari. Dengan memerhatikan apa yang dilakukan Daniel setelah mendapatkan pewahyuan tersebut, kita dapat belajar sesuatu yang penting mengenai pelayanan doa syafaat. Seorang yang masih berpikiran duniawi, yang membaca janji Tuhan melalui nabi Yeremia itu, mungkin saja menarik kesimpulan bahwa untuk selanjutnya ia tak perlu berdoa lagi. Mengapa kita masih harus mendoakannya? Bukankah Allah sudah pasti menepati janji-Nya untuk memulihkan keberadaan bangsa Israel pada masa itu?

Tindakan Daniel justru sebaliknya. Ia tidak memandang janji Tuhan itu sebagai sesuatu yang membebaskannya dari kewajiban untuk mendoakan bangsanya. Ia justru melihatnya sebagai suatu tantangan untuk mencari wajah Tuhan dengan lebih bersungguh-sungguh daripada sebelumnya. Semangat baru untuk berdoa diungkapkannya dengan begitu indah: "Lalu aku mengarahkan mukaku kepada Tuhan Allah ..." (Daniel 9:3) Dalam kehidupan doa setiap orang, akan tiba saatnya untuk "mengarahkan muka". Saat itu tak ada yang bisa menghalang-halangi kita lagi -- baik itu kekecewaan atau pertentangan yang kita hadapi, sampai doa kita benar-benar dijawab dan kita mendapatkan suatu pegangan atas dasar firman Tuhan.

Ketika mencari wajah Tuhan dengan sungguh-sungguh, Daniel menyadari bahwa doanya perlu didukung oleh puasa -- Berkatalah Daniel, Aku mengenakan kain kabung serta abu. Kain kabung dan abu merupakan tanda lahiriah orang yang berdukacita. Sekali lagi, kita melihat betapa eratnya hubungan antara puasa dan perkabungan. Kalau kita meneliti lebih lanjut doa Daniel yang tercatat dalam ayat-ayat berikutnya, kita akan melihat bagaimana puasa dan perkabungan juga dikaitkan dengan merendahkan diri. Menurut standar manusia, Daniel adalah salah seorang yang paling saleh dan takut akan Allah, yang disebutkan di dalam Alkitab. Tetapi, Daniel sendiri tidak pernah menganggap dirinya lebih saleh atau lebih benar daripada orang-orang yang didoakannya. Ia bahkan menyamakan diri dengan bangsanya yang bersikap memberontak dan sering murtad terhadap Tuhan.

Dalam doanya, Daniel selalu berkata, "Kami telah berbuat dosa dan salah, kami telah berlaku fasik ... Ya Tuhan, Engkaulah yang benar, tapi patutlah kami malu seperti pada hari ini ..." (Daniel 9:5,7) Daniel selalu mengatakan dengan kata "kami". Di dalam doanya, Daniel selalu menganggap dirinya sebagai salah seorang yang pantas untuk turut mendapat hukuman yang akan ditimpakan Tuhan atas Umat-Nya. Jadi, doa-doa Daniel menjadi lebih efektif karena ia mengakui dirinya turut bersalah. Hal ini diungkapkan melalui tiga hal yang saling berkaitan yaitu puasa, perkabungan, dan merendahkan diri. Dalam 2 Tawarikh 7:13-14, Tuhan memberitahukan persyaratan yang harus dipenuhi oleh umat-Nya, agar negeri mereka dipulihkan -- "Bilamana ... umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa, dan mencari wajah-Ku lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari Surga dan mengampuni dosa mereka; serta memulihkan negeri mereka."

Ada empat persyaratan yang diberikan Tuhan; umat-Nya harus merendahkan diri, berdoa, mencari wajah Tuhan, dan berbalik dari jalan-jalannya yang jahat. Apabila semua persyaratan tersebut dipenuhi, Allah bersedia mendengarkan doa umat-Nya dan memulihkan negeri mereka. Melalui contoh yang diberikan Daniel ini, kita mempelajari tujuan sebenarnya dari semua persyaratan itu. Daniel merendahkan diri; ia berdoa, ia mencari wajah Tuhan, ia merasa dirinya turut bersalah dalam dosa bangsanya, dan berbalik kepada-Nya. Karena doa syafaat Daniel itulah, maka Israel mengalami pemulihan dan negeri mereka pun dipulihkan.

Ketika Daniel masih remaja dan tiba di negeri Babel untuk pertama kalinya, doanyalah (bersama dengan karunia pewahyuan) yang mengubahkan hati Raja Nebukadnezar, sehingga orang-orang Yahudi di Babel mulai diperlakukan dengan baik dan hormat. Menjelang akhir kehidupan Daniel, kerajaan Babel digantikan oleh kerajaan Persia. Pada waktu itu, doa dan puasa Daniellah yang membuka jalan bagi pemulangan Israel ke negeri leluhur mereka. Selama periode hampir 70 tahun, berbagai perubahan besar terjadi secara berturut-turut dalam sejarah bangsa Israel, yang merupakan jawaban atas doa-doa Daniel. Dengan mempelajari doa syafaat Daniel, kita mendapat suatu pelajaran yang penting: jangan sekali-sekali kita berhenti berdoa hanya karena hal yang harus didoakan itu sudah dinubuatkan atau dijanjikan dalam firman Tuhan.

Nubuat dan janji Tuhan itu harus mendorong kita untuk berdoa dengan lebih bersungguh-sungguh lagi, dengan pengertian yang penuh tentang tujuan kehendak Allah. Jadi, apabila Allah memberitahukan rencana yang sedang dikerjakan-Nya, jelas Ia tidak bermaksud supaya umat-Nya sekadar menjadi penonton yang pasif, yang hanya menyaksikan apa yang terjadi dalam sejarah umat manusia. Maksud-Nya adalah supaya mereka segera mendukung rencana-rencana Tuhan dan ambil bagian dalam penggenapannya. Apabila Tuhan memberikan pewahyuan-Nya kepada kita, berarti kita harus berani memberi dukungan dan melibatkan diri.

Seruan Nabi Yoel Diulang Tiga Kali

Hal yang kita bahas ini adalah pencurahan Roh Kudus, yang kini semakin terasa dampaknya di seluruh Gereja Tuhan di dunia. Nabi besar yang bernubuat tentang hal ini adalah Yoel. Di dalam nubuat Yoel, Tuhan memberi pewahyuan bahwa umat-Nya akan mengalami lawatan Roh Kudus yang luar biasa. "Kemudian dari pada itu akan terjadi, bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia, maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat; orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi, teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan." (Yoel 2:28) Ketika Roh Kudus dicurahkan pertama kalinya pada hari Pentakosta, nubuat Yoel ini dikutip oleh Rasul Petrus (Kisah Para Rasul 2:16-17 -- tetapi itulah yang difirmankan Allah dengan perantaraan nabi Yoel: Akan terjadi pada hari-hari terakhir -- demikianlah firman Allah -- bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia; maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat, dan teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan, dan orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi).

Apabila kita membandingkan ayat-ayat dalam Kitab Yoel dengan Kisah Para Rasul, kita akan melihat suatu perbedaan yang cukup penting. Dalam Kitab Yoel dikatakan "Kemudian dari pada itu akan terjadi ...", sedangkan Petrus berkata, "Akan terjadi hari-hari terakhir ..." Petrus menerapkan kata-kata tersebut kepada hal yang sedang terjadi pada hari Pentakosta itu. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa hari Pentakosta merupakan periode yang disebut dalam Alkitab sebagai "hari-hari terakhir itu". Periode yang disebut "hari-hari terakhir" itu belum berakhir sekarang, bahkan akan berlanjut terus sampai zaman ini berakhir. Jadi, kata-kata Rasul Petrus itu menunjukkan saat mulainya "hari-hari terakhir" itu menurut Alkitab.

Mengenai hal ini, penting pula untuk diperhatikan bahwa pencurahan Roh Kudus yang dinubuatkan Nabi Yoel itu akan berlangsung dalam dua tahap yang disebut: "hujan awal dan hujan akhir". Hal ini dinyatakan dalam Yoel 2:23 "... diturunkan-Nya kepadamu hujan". Hujan ini adalah suatu gambaran bayangan dan Roh Kudus yang dicurahkan adalah kegenapannya. Menurut pergantian musim di Israel, hujan awal biasanya jatuh pada permulaan musim dingin (sekitar bulan November), sedangkan hujan akhir biasanya jatuh pada akhir musim dingin (sekitar bulan April dan Maret). Dengan demikian, hujan akhir itu kira-kira bersamaan waktunya dengan perayaan paskah, yang menurut kalender Agama Yahudi jatuhnya pada pertengahan "bulan pertama" (Keluaran 12:2).

Berdasarkan pola hujan tersebut, kita dapat menarik kesimpulan sebagai berikut: jatuhnya hujan awal pencurahan Roh Kudus menandakan permulaan "hari-hari terakhir" dan hujan akhir pencurahan Roh Kudus menandakan selesainya "hari-hari terakhir". Dengan demikian, baik pada waktu memulai maupun pada waktu mengakhiri pekerjaan Tuhan sehubungan dengan Gereja-Nya di dunia ini, akan terjadi suatu pencurahan Roh Kudus secara besar-besaran. Hujan awal pencurahan Roh kudus sudah terjadi atas gereja mula-mula. Hujan akhir pencurahan Roh Kudus kini sedang terjadi atas gereja Tuhan di seluruh dunia pada zaman ini. Itulah yang terkandung dalam perkataan "hari-hari terakhir" yang dipakai oleh Petrus.

Diambil dan disunting seperlunya dari:


Judul majalah : Pelita Kristen, Februari - Maret 1996,No. 322 - 323, Tahun XXVII
Judul asli artikel : Berpuasa Mendatangkan Hujan Akhir
Penulis : Derek Prince
Penerbit : Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat (Kristen) Protestan Dep. Agama RI, Jakarta 1996
Halaman : 2 -- 5

Komentar