Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Doa

Apakah Dosa Saya Menghalangi Doa Saya?

Apakah semua dosa kita menghalangi doa kita? Hari ini kita membahas email pendengar yang sangat luar biasa. Ini dia. "Halo, Pendeta John, dan terima kasih untuk podcast ini! Nama saya Ryan. Alkitab mengatakan tidak menghormati istri akan menghalangi doa suami. Kita melihat ini dalam 1 Petrus 3:7. Apakah ini dinamika khusus untuk pernikahan saja? Atau, apakah ini bagian dari prinsip dosa yang lebih besar? Apakah semua dosa kita menghalangi keefektifan doa kita?"

Jawaban untuk pertanyaan pertama adalah tidak – yaitu, Apakah ini dinamika khusus untuk pernikahan saja? Tidak, dan kita akan melihat alasannya sebentar lagi. Jawaban untuk pertanyaan kedua adalah ini: belum tentu. Apakah semua dosa kita menghalangi keefektifan doa kita? Belum tentu. Pertama, karena Allah, dalam belas kasihan-Nya, mungkin menunjukkan anugerah khusus dengan menjawab doa meskipun kita melakukan beberapa dosa, sementara pada lain waktu, Dia mungkin menunjukkan anugerah disiplin dengan menahan jawaban doa. Jika Allah menghubungkan jawaban doa kita dengan dosa kita, kita tidak akan mendapatkan jawaban doa apa pun. Jadi, jangan pernah kita berpikir bahwa jawaban atas doa menandakan ketidakberdosaan. Akan tetapi, kita tidak boleh menyimpulkan dari sini bahwa tidak ada korelasi antara dosa kita dan jawaban doa kita.

Persekutuan yang Terhalang

Gambar: palungan Yesus

Pertanyaan pertama Ryan adalah apakah prinsip 1 Petrus 3:7 hanya berlaku dalam pernikahan atau lebih luas lagi. Inilah yang dikatakan ayat itu:

"Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bersama istrimu dengan penuh pengertian karena mereka kaum yang lebih lemah. Hormatilah mereka sebagai sesama ahli waris dalam menerima anugerah hidup supaya doa-doamu tidak terhalang."

Nah, setidaknya ada tiga kemungkinan arti bagaimana doa terhalang dalam ayat ini.

Pertama, bisa jadi doa yang terhalang adalah doa suami istri yang seharusnya mereka doakan bersama. Dan, kegagalan suami untuk memerhatikan dan menghormati istrinya menggerogoti persekutuan yang seharusnya mereka jalin bersama, sehingga tidak bisa merasakan keharmonisan saat bersama. Jadi, doa yang seharusnya mereka doakan bersama tidak terjadi. Mereka tidak lagi berdoa bersama karena ada sesuatu di antara mereka, karena dia tidak melakukan apa yang seharusnya dia lakukan dalam ayat ini. Itu kemungkinan arti yang pertama.

Ini yang kedua. Bisa jadi doa suami terhalang karena hatinya begitu egois terhadap istrinya sehingga doanya sekarang – bukan hanya jawaban, tapi doanya – terhalang. Doa itu sendiri tidak keluar dari hatinya lagi. Dengan kata lain, dia berhenti berdoa. Hatinya sangat tercela terhadap istrinya, ia tidak ingin lagi mendekati Allah dengan sikap rendah hati dan membutuhkan. Dia tidak berdoa lagi.

Dan, arti yang ketiga adalah bahwa pria itu sedang berdoa, tetapi Allah menahan jawaban atas doanya karena hatinya tidak benar terhadap istrinya.

Tiga Cara yang Menghalangi Doa

Saya pikir, pada kenyataannya, ketiganya benar. Semua penjelasan dari 1 Petrus 3:7 itu sepenuhnya benar. Dengan kata lain, jika seorang suami gagal untuk menjadi baik dan lembut dan menyayangi istrinya sebagai kaum yang lebih lemah, dan jika dia gagal untuk menghormati dan menghargai dan mengagumi istrinya sebagai sesama pewaris anugerah kehidupan, ketiga halangan ini akan terjadi.

Hubungan akan rusak, dan oleh karena itu persekutuan dalam doa akan terancam.
Hatinya sendiri akan mulai menjadi dingin, dan kehidupan doanya sendiri akan mengering.
Jawaban atas doanya mungkin ditahan karena dia tidak menunjukkan belas kasihan kepada istrinya.

Inilah mengapa saya pikir ketiga hal tersebut, sebenarnya, adalah kenyataan. Dan, sekarang saya akan membahas 1 Petrus lebih lanjut untuk menunjukkan mengapa itu tidak diragukan lagi adalah benar.

1. Masalah horizontal mengakibatkan kerusakan vertikal.

Ketika Yesus berkata dalam Matius 18:19, "Sekali lagi, Aku mengatakan kepadamu bahwa jika dua orang di antaramu sepakat di bumi tentang sesuatu yang mereka minta, hal itu akan terjadi bagi mereka oleh Bapa-Ku yang ada di surga," Dia menunjuk pada sebuah prinsip. Kerusakan dalam persekutuan horizontal, di mana dua atau tiga orang tidak bisa bersepakat lagi, akan mengakibatkan rusaknya berkat vertikal dari Allah. Jadi, jika suami dan istri menjadi begitu jauh secara rohani satu sama lain, Matius 18:19 menyiratkan, mereka tidak akan memiliki keharmonisan bersama yang membuat berkat Allah diturunkan. Itu nomor satu.

2. Kurangnya kasih kepada orang lain menunjukkan kurangnya kasih kepada Allah.

Ketika Yohanes menulis dalam 1 Yohanes 4:20, "Jika ada orang yang berkata, ‘Aku mengasihi Allah’, tetapi membenci saudaranya, orang itu adalah penipu. Sebab, orang yang tidak dapat mengasihi saudaranya yang kelihatan, tidak dapat mengasihi Allah yang tidak kelihatan," Yohanes menyiratkan bahwa kegagalan untuk mengasihi pada tingkat horizontal menandakan gagalnya kasih kepada Allah di tingkat vertikal. Dengan kata lain, kegagalan untuk mengasihi istri kita, atau orang Kristen lainnya dalam hal ini, menandakan bahwa kita kehilangan kemampuan untuk datang kepada Allah dalam kasih. Kita tidak dapat berdoa karena kita tidak benar-benar mengasihi Allah.

3. Kita menghina Allah saat kita meminta apa yang kita tahan.

Namun, saya cenderung berpikir bahwa kemungkinan arti ketiga dari 1 Petrus 3:7 yang terutama ada dalam pikiran Petrus – yaitu, jika kita terus berdosa terhadap istri kita, atau terhadap orang Kristen lain, kita menutup pintu aliran kasih karunia menuju kita dalam doa yang dijawab. Yakobus berkata, misalnya, dalam Yakobus 4:3, "Atau kamu meminta, tetapi tidak mendapat karena kamu meminta dengan alasan yang salah, yaitu untuk memuaskan hawa nafsumu." Dengan kata lain, terkadang Allah menahan jawaban atas doa karena kita memiliki tujuan yang berdosa di dalam hati kita. Doa kita bukanlah untuk pemulihan hubungan yang rusak; doa kita adalah untuk keuntungan duniawi.

Yesus mengatakannya dengan sangat tegas dalam Doa Bapa Kami ketika Dia berkata, "Dan, ampunilah kesalahan-kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang-orang yang bersalah kepada kami." (Matius 6:12). Dengan kata lain, jika Anda menyimpan dendam terhadap istri Anda atau memperlakukan orang lain dengan tidak hormat dan kemudian berseru kepada Allah memohon belas kasihan, Anda hanya menunjukkan penghinaan terhadap Tuhan. Dan Allah tidak akan bisa dihina. "Diberkatilah mereka yang berbelas kasihan, sebab mereka akan memperoleh belas kasihan." (Matius 5:7).

Semua Mata Memperhatikan Orang Benar

... terkadang Allah menahan jawaban atas doa karena kita memiliki tujuan yang berdosa di dalam hati kita.
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. WhatsApp
  4. Telegram

Akan tetapi, alasan utama saya pikir ini mungkin yang ada dalam pikiran Petrus ketika dia berbicara kepada suami-suami dan mengatakan bahwa doa mereka akan terhalang jika mereka tidak menghargai istri mereka sebagaimana mestinya – alasan utamanya adalah karena dalam paragraf berikutnya, pada ayat berikutnya, dia mulai dengan menjelaskan bahwa prinsip yang sama sedang dimainkan berkaitan dengan semua orang Kristen dalam semua hubungan kita. Tepat setelah mengatakan bahwa para suami tidak akan mendapat jawaban atas doa jika mereka tidak menghormati istri mereka, dia berkata,

"Akhirnya, hendaklah kamu semua memiliki kesatuan pikiran, belas kasih, kasih persaudaraan, hati yang lemah lembut, dan kerendahan hati. Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau makian dengan makian. Sebaliknya, hendaklah kamu memberkati sebab untuk itulah kamu dipanggil, yaitu supaya kamu mewarisi berkat." (1 Petrus 3:8–9)

Dan, kemudian dia mulai menjelaskan pendapatnya tentang itu. Dia berargumen dengan mengutip Mazmur 34:12-16. Dengarkan bagaimana Mazmur menjelaskan tentang cara untuk mendapatkan jawaban doa.

"Barang siapa mencintai hidup
dan ingin melihat hari-hari yang baik,
dia harus menjaga lidahnya dari kejahatan
dan bibirnya dari mengucapkan tipu muslihat;
Ia juga harus menjauhkan diri dari yang jahat dan melakukan yang baik;
Hendaklah dia mencari perdamaian dan mengejarnya.
Sebab, mata Tuhan memperhatikan orang-orang benar,
dan telinga-Nya mendengarkan doa-doa mereka.
Namun, wajah-Nya menentang orang-orang yang melakukan kejahatan." (1 Petrus 3:10-12)

Suami-suami, dan kita semua, baru saja mendengar di ayat 7 bahwa doa suami akan terhalang jika mereka tidak memperlakukan istri dengan pengertian dan hormat. Dan sekarang, lima ayat kemudian, Petrus memberi tahu kita semua, "Mata Tuhan memperhatikan orang-orang benar, dan telinga-Nya mendengarkan doa-doa mereka." Orang benar – Dia terbuka untuk orang benar dalam doa mereka. "Namun, wajah-Nya menentang orang-orang yang melakukan kejahatan." Itu tampaknya merupakan prinsip yang sama dari pernikahan yang diterapkan pada kita semua.

Kesimpulan saya, Ryan, pada prinsipnya perkataan untuk suami adalah perkataan untuk semua orang. Jika dalam hubungan yang telah Allah berikan kepada kita, baik pernikahan, atau pengasuhan anak, atau persahabatan, atau tetangga, atau hubungan kerja sama, jika dalam salah satu hubungan itu kita mulai bertindak dengan tidak penuh kasih, tidak hormat, tidak belas kasih, tidak ramah, kita bisa memperkirakan bahwa Allah, dalam belas kasihan, akan menahan berkat saat kita berdoa. Ini akan menjadi disiplin yang penuh kasih untuk anak-anak-Nya. Dan, kita hendaknya memperhatikan ini dengan sangat serius dan bertobat, serta menjalani panggilan-Nya dengan baik. (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Desiring God
URL : https://www.desiringgod.org/interviews/do-my-sins-hinder-my-prayers
Judul asli artikel : Do My Sins Hinder My Prayer
Penulis aaartikel : John Piper

Komentar