Kunjungi Situs Paskah untuk memperoleh bahan Paskah

https://paskah.sabda.org
Doa bersifat pribadi. Yesus mengatakan kepada kita untuk "tutuplah pintunya, dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi" (Mat. 6:6, AYT). Akan tetapi, doa juga bersifat komunal. Mazmur, misalnya, adalah himne dan panduan doa bagi umat Allah yang berkumpul. Jadi, bagaimana seharusnya kita memikirkan tentang doa bersama, dan mengapa itu penting?
Baru-baru ini, saya berbicara dengan seorang teman yang berhenti datang ke gereja karena tidak menarik perhatiannya. "Saya tidak mendapatkan apa-apa dari itu, jadi mengapa datang? Ini," katanya sambil menunjuk ke alam terbuka, "adalah gereja saya!"
Teman saya ingin mengatakan bahwa kekristenannya hanya tentang dia dan Yesus. Akan tetapi, ketika itu terjadi, paling-paling Anda memiliki kekristenan anemia (kekristenan yang kurang bergairah - Red.). Paling buruk, dapatkah Anda yakin itu kekristenan?
Kecenderungan Barat untuk mengidolakan individualitas membuat teolog David Wells menyayangkannya,
Kita menjadi percaya bahwa prioritas utama kita adalah bahwa kita mencari keaslian kita sendiri lebih daripada yang lainnya. ... Di mana asumsi-asumsi ini telah mengganggu Gereja, spiritualitas kita menjadi sangat diprivatisasi, sangat individualistis, bertentangan dengan komitmen, dan cukup acuh tak acuh secara etis. Karena demikian, kita kehilangan kerinduan kita akan Allah, kesukaan kita akan Firman-Nya, dan rasa ketergantungan kita pada Kristus. Allah kita telah menjadi terlalu kecil dan sekarang sering hilang di tengah keasyikan pribadi kita.[1]
Jika kita ingin menghadapi masalah besar dalam hidup, kita membutuhkan Allah yang besar. Lalu bagaimana kita mendapatkan kembali visi tentang kebesaran-Nya? Satu tempat untuk memulai adalah dengan mengingat bagaimana, sebagai orang Kristen, kita semua adalah bagian dari sebuah keluarga -- anggota dari tubuh yang sama: "Sama seperti tubuh adalah satu, tetapi mempunyai banyak anggota, dan semua anggota tubuh, walaupun banyak, adalah satu tubuh, begitu pula Kristus" (1Kor. 12:12, AYT).
Jadi, ya, kita adalah individu, tetapi di dalam Kristus, kita lebih dari itu; kita satu!
AKTIF, BUKAN PASIF
Untuk menangkap bola bisbol, Anda membutuhkan setiap bagian tubuh Anda untuk melakukan bagiannya. Jika lengan Anda tidak mencapainya, Anda mungkin berakhir dengan mata hitam.
Dengan cara yang sama, jika gereja adalah tubuh, setiap bagian harus aktif (Ef. 4:16). Ketika jemaat mendengarkan khotbah, mereka tidak dihibur, mereka sedang diperlengkapi (Ef. 4:12; 1Tes. 5:21, Kis. 17:11). Ketika jemaat bernyanyi, mereka tidak hanya mengekspresikan diri mereka sendiri, mereka bernyanyi untuk satu sama lain (Ef. 5:19). Ketika kantong persembahan itu diedarkan, mereka tidak hanya memberi, mereka memberi untuk menopang pelayanan Injil yang melayani seluruh dan juga gereja-gereja lain (1Kor. 9:14; 16:1-2; 2Kor. 9:7). Apa yang kita lakukan sebagai gereja, kita lakukan secara kolektif.
Begitu juga ketika sebuah gereja berdoa. Gereja berdoa secara kolektif. Ketika seseorang memimpin jemaat dalam doa, kita tidak hanya menonton, kita berdoa bersama mereka. Doa bersama bukan hanya tentang 300 orang yang memiliki saat teduh mereka sendiri; melainkan 300 orang yang berdoa bersama-sama.
MELAKUKAN TINDAKAN PRAKTIS
Dua saran untuk membantu keluarga gereja kita dalam hal ini:
Pertama, doronglah orang yang berdoa untuk menggunakan kata ganti kami daripada saya. Dia tidak sedang melakukan pertunjukan rohani; dia berdoa atas nama gereja. Dia datang kepada Allah untuk mengajukan permohonan, mengaku dosa, atau mengucap syukur atas nama seluruh keluarga.
Kedua, doronglah jemaat untuk mengucapkan "amin" pada akhir doa. Dalam ajaran Paulus tentang ibadah bersama, dia bertanya, "Bagaimana dengan orang, yang ada dalam posisi tidak mempunyai karunia itu, dapat berkata, 'Amin' atas ucapan syukurmu itu karena ia tidak mengerti apa yang kamu katakan?" (1Kor. 14:16b, AYT). Mengatakan "amin" lebih dari sekadar formalitas. Artinya, "Saya setuju dengan apa yang baru saja didoakan -- itu juga doa saya." Dan, jika Anda tidak setuju, jangan katakan amin!
MENGAJAR DENGAN CONTOH
John Stott pernah menulis,
Saya ingat beberapa tahun yang lalu mengunjungi sebuah gereja anonim. Saya duduk di barisan belakang. ... Ketika kami sampai ke doa pastoral, itu dipimpin oleh seorang saudara awam, karena pendeta sedang berlibur. Maka dia berdoa agar pendeta itu mengalami liburan yang menyenangkan. Yah, itu baik-baik saja. Pendeta harus memiliki hari libur yang baik. Kedua, dia berdoa untuk seorang wanita anggota gereja yang akan melahirkan seorang anak agar dia bisa melahirkan dengan selamat, itu baik-baik saja. Ketiga, dia berdoa untuk wanita lain yang sakit, dan kemudian selesai. Itu saja. Butuh waktu 20 detik. Saya berkata pada diri sendiri, ini adalah gereja desa dengan Allah desa. Mereka tidak tertarik dengan dunia luar. Tidak ada pemikiran tentang orang miskin, tertindas, pengungsi, tempat-tempat kekerasan, penginjilan dunia.[2]
Mereka yang memimpin gereja dalam doa itu berdoa kepada Allah dan mengajar jemaat bagaimana berdoa, untuk hal-hal yang baik maupun buruk.
Pendeta, apa yang doa-doa Anda ajarkan kepada jemaat Anda tentang Allah? Apakah Dia hanya Allah desa? Atau apakah Allah dari Kitab Suci yang membuat kita kagum dan penuh pengharapan pada saat yang sama? Mereka yang memimpin dalam doa harus berpikir dengan hati-hati tentang cara, topik, dan isinya.
Dengan perilaku Anda, apakah Anda mencerminkan kekaguman yang tepat kepada Allah, sementara pada saat yang sama tinggal dalam keyakinan yang kuat? Apakah doa Anda tulus dan hangat, atau dingin dan mekanis? Apakah mereka berbunga-bunga dan dipoles atau dalam bahasa sehari-hari doa pribadi Anda? Salah satu cara terbaik untuk belajar berdoa adalah dengan berdoa bersama orang lain.
Bagaimana dengan topik yang Anda doakan? Dengan kata lain, bagaimana Anda tahu kategori apa yang harus didoakan? Doa-doa dalam Alkitab mengajar kita di sini. Pertimbangkan topik yang ditetapkan dalam Doa Bapa Kami sebagai contoh: ketika kita berdoa, kita harus berdoa agar nama Allah dimuliakan (Dikuduskan nama-Mu), pemerintahan Allah dalam hidup kita dan orang-orang di sekitar kita (kerajaan-Mu datang), kasih karunia untuk memercayai Allah (jadilah kehendak-Mu), kebutuhan kita (berilah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya), dan pengampunan dari dosa (ampunilah kesalahan kami ...). Dua buku bagus tentang mendoakan kategori dari Kitab Suci adalah karya D.A. Carson, "Praying with Paul", dan tulisan Matthew Henry, "A Method for Prayer". Membiarkan Kitab Suci mengatur topik-topiknya akan mendorong kita keluar dari kebiasaan doa kita. Jika kita memiliki Allah yang besar; mari kita menaikkan doa-doa besar.
Terakhir, isi doa kita. Alkitab tidak hanya harus mengatur agenda untuk topik yang kita doakan (otoritas, dari 1Tim. 2:2), itu juga harus membentuk apa yang kita doakan mengenai topik tersebut (misalnya hikmat, keadilan, kerendahan hati -- Yak. 1:5, Mzm. 72:2, Mrk. 10:45). Ketika Anda berdoa tentang ketidakadilan yang memengaruhi anggota di gereja Anda, apakah doa umum Anda mencontohkan bagaimana berdoa tentang ketidakadilan? Apakah ada alasan untuk merayakan atau berduka, apakah doa-doa Anda mengajarkan umat Anda untuk berdoa secara alkitabiah?
Kita harus melawan efek racun dari kekristenan yang diprivatisasi karena kita memahami apa artinya berdoa bersama sebagai sebuah gereja. Dengan melakukan itu, kita menemukan Allah yang tidak kita kuasai, tetapi yang membuat kita gemetar dalam kekaguman dan lebih banyak berdoa karena Dia memerintahkan kita untuk berdoa dan karena Dia dengan senang hati mau mendengar. (t/Jing-Jing)
CATATAN KAKI:
[1] David Wells.
[2] John Stott (Bill Turpie, ed., Ten Great Preachers, hlm. 117).
Diterjemahkan dari: | ||
Nama situs | : | 9Marks |
Alamat situs | : | https://9marks.org/article/corporate-prayer-is-more-than-your-personal-quiet-time |
Judul asli artikel | : | Corporate Prayer Is More than Your Personal Quiet Time |
Penulis artikel | : | Zach Schlegel |