HARI 1: PENCIPTAAN (18 Februari 2026)
Allah menciptakan dunia dengan firman-Nya, menghadirkan terang, keteraturan, dan kehidupan, serta mengundang manusia hidup dalam rancangan-Nya.
Renungan dan Doa 30 Hari Ramadhan
Allah menciptakan dunia dengan firman-Nya, menghadirkan terang, keteraturan, dan kehidupan, serta mengundang manusia hidup dalam rancangan-Nya.
Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya untuk hidup dalam relasi, pernikahan, dan komunitas, mencerminkan kasih serta rancangan-Nya yang mulia.
Ketika manusia melanggar perintah Allah, rasa malu dan keterpisahan lahir—namun di tengah kejatuhan, Allah mulai menyingkapkan rencana keselamatan-Nya.
Di tengah kejahatan manusia dan penghukuman Allah, kasih karunia-Nya tetap bekerja—menyediakan jalan keselamatan bagi mereka yang percaya dan taat.
Setelah air bah, Allah mengikat perjanjian penuh kasih, menjanjikan pemeliharaan, harapan, dan kesetiaan-Nya bagi seluruh bumi dan generasi.
Ketika manusia meninggikan diri dan mencari nama sendiri, Allah turun campur tangan—membongkar kesombongan demi kebaikan dan rencana-Nya.
Abraham menaati panggilan Allah dengan iman, meninggalkan segalanya, dan percaya pada janji-Nya yang memberi harapan serta berkat bagi bangsa-bangsa.
Dalam ketaatan yang menyayat hati, Abraham mempercayai Allah sepenuhnya—dan Allah setia menyediakan pengganti, menyingkapkan kasih serta janji-Nya.
Allah mendengar jeritan umat-Nya, menyatakan diri-Nya sebagai “AKU ADALAH AKU”, dan memanggil Musa untuk membawa pembebasan dari penderitaan.
Melalui darah domba Paskah, Allah membuka jalan keselamatan—hukuman dilewati, perbudakan berakhir, dan harapan lahir bagi umat-Nya.
Allah memberi hukum-Nya sebagai pagar kasih, menyingkapkan dosa manusia, dan menuntun hati yang haus kepada kebutuhan akan pengampunan sejati.
Manusia berulang kali berpaling, namun Allah tetap berbelas kasih—mendisiplinkan, membebaskan, dan memanggil hati kembali kepada kesetiaan sejati.
Yesus, Hamba yang menderita, menanggung dosa dan luka kita—diremukkan demi kasih, agar yang tersesat dipulihkan dan disembuhkan.
Terang Allah menembus kegelapan—Seorang Anak dijanjikan dan lahir, Raja Damai yang kekal, membawa harapan, sukacita, dan pembebasan sejati.
Allah turun dalam kerendahan—Bayi di palungan menjadi Juruselamat dunia, membawa damai, harapan, dan kasih bagi yang terabaikan.
Suara di padang gurun memanggil pertobatan—Anak Domba Allah dinyatakan, menghapus dosa dunia dan membaptis hati dengan Roh Kudus.
Yesus menang atas godaan, menggenapi Kitab Suci, dan membawa Kabar Baik—pembebasan, kesembuhan, dan pengharapan bagi yang tertindas.
Yesus mengampuni dosa, menyembuhkan yang hancur, dan memanggil orang berdosa—iman yang berani membuka jalan bagi kuasa dan kasih Allah.
Yesus berkuasa atas badai dan kegelapan; Dia membebaskan yang terikat, menenangkan yang takut, dan mengutus yang diselamatkan bersaksi.
Allah meninggikan yang rendah hati; keselamatan bukan upah usaha, melainkan anugerah bagi hati yang berserah dan mengikut Yesus.
Mengasihi Allah berarti mengasihi sesama—bahkan musuh—dengan belas kasihan nyata, hidup taat, dan keberanian mengalahkan kejahatan melalui kebaikan.
Allah mencari yang hilang dengan kasih Bapa—mengejar, mengangkat, memulihkan, dan bersukacita besar ketika anak-Nya pulang kembali.
Firman Allah jatuh ke hati yang berbeda; hanya hati yang rindu dan berakar dalam kebenaran akan berbuah, menemukan Kerajaan sebagai harta sejati.
Yesus menangis bersama yang berduka, lalu mengalahkan maut—Dia adalah kebangkitan dan hidup, memberi pengharapan kekal bagi yang percaya.
Yesus, Tuhan dan Guru, merendahkan diri membasuh kaki murid-murid-Nya—kuasa sejati dinyatakan melalui kasih, pelayanan, dan ketaatan.
Di tengah pengkhianatan, Yesus memecah roti dan mencurahkan darah-Nya—kasih perjanjian baru yang mengampuni, menyatukan, dan memberi pengharapan.
Di Getsemani, Yesus memilih taat di tengah duka, ditinggalkan sahabat, dan ditangkap—kasih-Nya tetap teguh demi keselamatan manusia.
Di kayu salib, Yesus mengampuni musuh, menerima pendosa, dan menyerahkan nyawa-Nya—kasih ilahi menang atas dosa, maut, dan penolakan manusia.
Dari air mata di kubur lahir pengharapan kekal: Yesus bangkit, memanggil nama, mengalahkan maut, dan memberi damai bagi yang percaya.
Di hadapan takhta, Anak Domba memerintah—air mata dihapus, luka disembuhkan, dan semua bangsa bersatu dalam penyembahan kekal.