Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Doa

Waktu Sendirian untuk Allah

Kebiasaan Yesus Kristus yang Terus Ada

"Semua masalah umat manusia berasal dari ketidakmampuan manusia untuk duduk dengan tenang di sebuah ruangan sendirian." Blaise Pascal (1623–1662)

Itu adalah klaim yang luas, tetapi mungkin ini hanya jenis pernyataan yang berlebihan yang kita butuhkan saat ini untuk menyadarkan kita dari aliran gangguan dan pengalihan yang tiada henti. Betapa benarnya hal itu, bahwa kita tidak dapat duduk dengan tenang? Empat ratus tahun setelah Pascal, hidup mungkin dijalani dengan terburu-buru dan terasa menggelisahkan sama seperti sebelumnya. Persaingan untuk mendapatkan perhatian kita sangat kejam. Kita tidak hanya mendengar satu panggilan sirene yang mengganggu demi satu panggilan yang lain, tetapi hiruk-pikuk suara yang tak ada habisnya membanjiri kita sekaligus.

Gambar: berdoa bersama

Akan tetapi, jauh sebelum Pascal, Yesus sendiri memberikan contoh bagi kita jenis kebiasaan dan ritme kehidupan yang kita butuhkan pada zaman apa pun. Bahkan, ketika Allah dalam rupa manusia, Dia memprioritaskan waktu sendirian dengan Bapa-Nya. Bayangkan "hal baik" apa yang mungkin telah Dia lakukan dengan waktu-waktu tersebut. Akan tetapi, Dia memilih melakukannya berulang kali, dalam kebijaksanaan dan kasih yang sempurna, untuk memberikan saat-saat pertama dan terbaik-Nya untuk mencari wajah Bapa-Nya. Dan jika Yesus, bahkan Yesus, mengukir ruang seperti itu dalam tuntutan kehidupan manusia-Nya, bukankah seharusnya kita lebih lagi?

Kita mungkin hanya melihat sekilas tentang kebiasaan Yesus dan praktik spiritual pribadi dalam Kitab-kitab Injil, tetapi apa yang kita miliki bukanlah kebetulan, dan itu tidak (hanya) sedikit. Kita tahu persis apa yang Allah maksudkan untuk kita ketahui, hanya dengan detail yang tepat – dan kita memiliki lebih banyak tentang ritme spiritual pribadi Yesus daripada yang kita ketahui tentang siapa pun di dalam Alkitab. Dan, gambaran yang kita miliki tentang kebiasaan Kristus bukanlah gambaran yang asing bagi dunia dan kehidupan serta pengalaman kita. Sebaliknya, kita menemukan sikap abadi dan transkultural yang dapat ditiru, dan dengan mudah diterapkan, oleh siapa pun pengikut Yesus, di mana pun di dunia, kapan pun dalam sejarah.

Mundur dan Masuk Kembali

Selama dua ribu tahun, ajaran Kristus telah memanggil umat-Nya ke dalam ritme mundur dari dunia dan masuk ke dalamnya.

Kehidupan Kristen yang sehat tidak sepenuhnya sendirian atau komunal sepenuhnya. Kita menarik diri, seperti Yesus, ke "tempat yang sunyi" untuk bersekutu dengan Allah (Markus 1:35), dan kemudian kembali ke kesibukan tugas sehari-hari dan kebutuhan orang lain. Kita mengukir masa untuk istirahat spiritual, di suatu tempat yang sesaat suci, untuk memberi makan jiwa kita, menikmati Allah di sana dalam keheningan. Kemudian kita masuk kembali, sebagai terang dan roti, ke dunia yang lapar, terancam, dan tidak berdaya (Matius 9:36).

Saat Teduh Tanpa Alkitab

Sebelum melatih pola Yesus yaitu mundur untuk berdoa dan kemudian masuk kembali untuk pelayanan, kita harus mengamati tempat Kitab Suci dalam hidup-Nya.

Yesus tidak memiliki salinan materi Alkitab secara pribadi, seperti yang dimiliki hampir semua dari kita saat ini. Dia mendengar apa yang dibacakan dengan lantang di sinagoge, dan apa yang dinyanyikan ibu-Nya, dan Dia melatih apa yang telah Dia ingat. Namun, pada sepanjang catatan pelayanan-Nya, kita melihat bukti dari seseorang yang benar-benar terpikat oleh apa yang tertulis di dalam teks Kitab Suci. Dan seperti Kristus, kita akan melakukannya dengan baik untuk membuat firman Allah sendiri, di dalam Alkitab, menjadi ujung tombak dari upaya kita sendiri untuk mendekat kepada-Nya.

Pada awal pelayanan publik-Nya, Yesus mundur ke padang belantara, dan di sana, dalam pencobaan yang memuncak di hadapan iblis sendiri, Dia mengandalkan pada apa yang tertulis (Matius 4:4,6–7,10; Lukas 4:4,8,10). Kemudian kembali dari padang belantara, ke kampung halaman-Nya di Nazaret, Dia berdiri untuk membaca, mengambil gulungan Yesaya (61:1–2), dan mengumumkan, "Hari ini, genaplah apa yang dituliskan Kitab Suci ini saat kamu mendengarnya" (Lukas 4:21). Yesus mengidentifikasi Yohanes Pembaptis sebagai "dialah orang yang tentangnya telah tertulis" (Matius 11:10; Lukas 7:27), dan Dia mengusir di Bait Suci penukar-penukar uang atas dasar apa yang tertulis dalam Yesaya 56:7 (Matius 21:13; Markus 11:17; Lukas 19:46). Dia menegur orang yang sombong dengan mengutip Kitab Suci (Markus 7:6; Lukas 20:17). Dalam setiap langkah menuju Kalvari, berulang kali, Dia tahu segalanya akan terjadi "seperti yang ada tertulis" (lihat khususnya Injil Yohanes, 6:31, 45; 8:17; 10:34; 12:14, 16; 15:25). "Anak Manusia akan pergi seperti yang sudah ditulis tentang Dia" (Markus 14:21), kata-Nya. "Dengar, kita akan pergi ke Yerusalem dan segala sesuatu yang ditulis oleh para nabi tentang Anak Manusia akan digenapi" (Lukas 18:31).

Meskipun Yesus tidak memiliki Alkitab sendiri untuk dibaca dalam saat-saat teduh-Nya, janganlah ada keraguan mengenai posisi sentral dari firman Allah yang tertulis dalam hidup-Nya. Dia hidup dengan apa yang tertulis. Betapa luar biasa kesempatan yang kita miliki sekarang, dengan Perjanjian Lama dan Baru dalam kertas dan tinta (dan bersama kita, ke mana pun kita pergi, dalam handphone kita), untuk dipenuhi oleh firman Allah setiap hari.

Seberapa Sering Dia Menarik Diri

Bagi Kristus, "padang belantara" atau "tempat terpencil" sering kali menjadi ruang suci-Nya untuk sesaat. Dia secara teratur keluar dari kebisingan dan hiruk pikuk masyarakat untuk menyendiri dengan Bapa-Nya, di mana Dia bisa memberikan perhatian penuh kepada-Nya.

Setelah "ketenaran-Nya mulai menyebar ke mana-mana" (Markus 1:28), dan "seluruh penduduk kota berkumpul di depan pintu" (Markus 1:33), Yesus mengambil langkah yang luar biasa. Dia menyelinap pergi keesokan paginya untuk memulihkan jiwa-Nya dalam "percakapan pribadi" dengan Bapa-Nya:

"Pagi-pagi benar, ketika hari masih gelap, Yesus bangun dan pergi ke tempat yang sunyi, lalu Dia berdoa di sana." (Markus 1:35)

Betapa besar kesempatan pelayanan yang Dia tinggalkan, beberapa orang mungkin berkata. Tentunya beberapa dari kita akan melewatkan atau memperpendek disiplin pribadi kita untuk bergegas dan melayani massa yang membludak. Yang pasti, akan datang waktu lain (seperti yang akan kita lihat) ketika Yesus menunda kebiasaan pribadi-Nya untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak. Akan tetapi, berapa banyak dari kita, dalam situasi seperti itu, yang memiliki pikiran, dan hati, untuk membedakan dan memprioritaskan doa seperti yang dilakukan Yesus?

Lukas juga menegaskan bahwa pola mundur dan masuk kembali ini adalah bagian dari dinamika kehidupan manusia Kristus yang terus berlangsung. Yesus "pergi ke suatu tempat sunyi untuk menyendiri" (Lukas 4:42) - tidak hanya sekali, tetapi secara terus-menerus. "Yesus sering pergi menyelinap ke tempat-tempat sunyi untuk berdoa" (Lukas 5:16).

Begitu juga dalam Matius. Setelah kematian Yohanes Pembaptis, Yesus "menarik diri dari sana dengan perahu ke tempat yang sunyi sendirian" (Matius 14:13). Akan tetapi, bahkan kemudian, orang banyak mengejar-Nya. Dia tidak memandang rendah mereka (di sini Dia menahan keinginannya untuk mundur) tetapi memiliki belas kasihan pada mereka dan menyembuhkan mereka yang sakit (Matius 14:14). Kemudian, setelah memberi mereka makan, lima ribu orang, Dia mundur lagi ke tempat yang sunyi. "Setelah Yesus menyuruh orang banyak itu pulang, Dia naik ke atas gunung seorang diri untuk berdoa" (Matius 14:23).

Berdoa, Puasa, Mengajar

Apa yang tertulis (Firman Allah - Red.) menggambarkan hidup-Nya, dan ketika Dia menarik diri, Dia pergi untuk berbicara dengan Bapa-Nya dalam doa. Kadang-kadang, Dia pergi sendiri, untuk menyendiri (Matius 14:23; Markus 6:46–47; Yohanes 6:15). "Yesus naik ke bukit untuk berdoa, dan di sana Dia berdoa kepada Allah sepanjang malam" (Lukas 6:12). Murid-murid-Nya melihat-Nya pergi untuk berdoa, dan kemudian kembali.

Kita mengukir masa untuk istirahat spiritual, di suatu tempat yang sesaat suci, untuk memberi makan jiwa kita, menikmati Allah di sana dalam keheningan.
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. WhatsApp
  4. Telegram

Dia juga berdoa bersama yang lain. Murid-murid melihat Dia menjadi contoh doa pada saat Dia dibaptis (Lukas 3:21), dan ketika Dia meletakkan tangan-Nya di atas anak-anak (Matius 19:13), dan ketika Dia mengusir setan (Markus 9:29). Dia berdoa dengan para pengikut-Nya, dan bahkan ketika Dia berdoa sendirian, orang-orang-Nya mungkin ada di dekat-Nya: "Sekarang, ketika Yesus sedang berdoa seorang diri, murid-murid-Nya ada bersama dengan-Nya" (Lukas 9:18; juga 11:1). Dia membawa Petrus, Yohanes, dan Yakobus "dan naik ke gunung untuk berdoa" (Lukas 9:28). Pada malam sebelum Dia meninggal, Dia berkata kepada Petrus, "Aku sudah berdoa untukmu supaya imanmu jangan gugur" (Lukas 22:32). Semua yang tertulis di Yohanes 17 adalah doa-Nya untuk murid-murid-Nya, menurut pendengaran mereka. Kemudian mereka keluar dari kamar atas itu dan melihat Dia berdoa berulang-ulang di taman (Matius 26:36,39,42,44). Dia tidak hanya mencontohkan doa, tetapi juga mengajari mereka cara berdoa. "Berdoalah demikian . . ." (Matius 6:9–13).

Dan, Dia tidak hanya berasumsi bahwa mereka akan berdoa (Matius 21:22; Markus 11:24-25; Lukas 11:2) tetapi juga memerintahkannya (Matius 24:20; 26:41; Markus 13:18; 14:38; Lukas 21:36; 22:40,46). "Berdoalah bagi orang-orang yang menganiaya kamu" (Matius 5:44). "Berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu" (Lukas 6:28). "Mintalah kepada Tuhan yang mempunyai panenan" (Matius 9:38; Lukas 10:2). Berdoa tanpa pamer dan tanpa munafik (Matius 6:5–7). Dia memperingatkan orang-orang yang "mengucapkan doa yang panjang-panjang" (Markus 12:40; Lukas 20:47). "Yesus menceritakan sebuah perumpamaan kepada murid-murid-Nya untuk memberitahu mereka bahwa mereka harus selalu berdoa dan tidak berkecil hati" (Lukas 18:1).

Selain doa, Dia juga tidak hanya mencontohkan puasa (Matius 4:2), tetapi berasumsi bahwa orang-orang-Nya juga akan berpuasa ("ketika kamu berpuasa," bukan "jika", Matius 6:16–18), dan bahkan berjanji bahwa mereka akan berpuasa ("kemudian mereka akan berpuasa," Matius 9:15; Markus 2:20; Lukas 5:35).

Mengasingkan Diri dengan Aku

Yesus tidak hanya mundur untuk menyendiri dengan Allah. Dia juga mengajar murid-murid-Nya untuk melakukan hal yang sama (Markus 3:7; Lukas 9:10). Dalam Markus 6:31–32, Dia mengajak para pengikut-Nya untuk bergabung dengan-Nya, dengan berkata, "Marilah mengasingkan diri ke tempat yang sepi dan istirahat sebentar." Markus menjelaskan, "Sebab ada banyak yang datang dan pergi, dan untuk makan pun mereka tidak sempat. Lalu, mereka pergi menyingkir dengan perahu ke tempat yang sepi."

Begitu juga dalam Injil Yohanes, Yesus, ketika ketenaran-Nya menyebar, dengan mundur dari lingkungan yang lebih padat untuk berinvestasi pada orang-orang-Nya di tempat-tempat yang lebih sunyi dan tidak terlalu mengganggu (Yohanes 11:54). Dalam Khotbah di Bukit yang tak lekang oleh waktu, Yesus mengajar semua pendengar-Nya, termasuk kita pada saat ini, tidak hanya untuk memberi tanpa pamer (Matius 6:3–4), dan berpuasa tanpa publisitas (Matius 6:17-18), tetapi juga untuk menemukan tempat pribadi kita untuk mencari wajah Bapa kita: "Ketika kamu berdoa, masuklah ke kamarmu dan tutuplah pintunya, dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi itu akan memberikan upah kepadamu"(Matius 6:6).

Dan, betapa hari ini mungkin Bapa kita memberi kita upah yang lebih baik daripada dengan lebih dari diri-Nya sendiri melalui Anak-Nya?

Berbincang dengan Allah dalam Keheningan

Di dalam semuanya – dalam menerima suara Bapa-Nya di dalam Kitab Suci, dan berdoa sendiri (dan dengan teman), dan kadang-kadang, ketika dihadapkan pada keprihatinan yang sangat mendesak, menambahkan perangkat berpuasa – Yesus mencari persekutuan dengan Bapa-Nya. Kebiasaan-Nya bukanlah menunjukkan kemauan dan disiplin belaka. Tindakan-Nya menerima firman, dan menanggapinya dalam doa, bukanlah tujuan itu sendiri. Dalam sarana-sarana yang suci ini, Dia mengejar tujuan untuk mengenal dan menikmati Bapa-Nya. Dan, demikian juga dengan kita hari ini.

Kita tidak mundur dari kesibukan dan keributan hidup sebagai tujuan itu sendiri. "Duduk dengan tenang di sebuah ruangan sendirian," dalam kata-kata Pascal, bukanlah sebuah pencapaian melainkan sebuah instrumen – sebuah kesempatan untuk membuka kehidupan dan jiwa kita kepada Dia yang untuk Dia kita diciptakan. Untuk mengenal Dia dan menikmati Dia. (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Desiring God
Alamat situs : https://www.desiringgod.org/articles/time-alone-for-god
Judul asli artikel : Time Alone for God
Penulis artikel : David Mathis
Tanggal akses : 6 Mei 2021

Komentar