Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Doa

Bergumul dalam Doa

Oleh: Harlinton Simanjuntak

Saya sungguh bersyukur melihat pemeliharaan Allah di dalam hidup saya. Bagi saya Allah itu bukan saja Pencipta yang kreatif dan dahsyat, melainkan Dia juga Pendoa yang luar biasa. Ketika Tuhan Yesus berdoa kepada Allah Bapa, Dia mendoakan supaya umat Allah menjadi satu adanya. Saya ada sebagaimana saya ada saat ini semua karena kasih karunia dan rahmat-Nya yang besar yang dinyatakan-Nya dan dilimpahkan-Nya kepada saya.

Dulu suka untuk terlibat di dalam persekutuan atau kegiatan gereja secara rutinitas, tanpa mengetahui sebenarnya, apa esensi dari setiap aktivitas gereja yang saya ikuti. Namun, pada saat saya mengikuti Camp Pekabaran Injil bagi Mahasiswa Baru di kampus saya, dalam tuntunan Allah Roh Kudus, saya dibimbing untuk berdoa kepada Allah, mengakui segala keberdosaan saya, dan saya dibimbing untuk bertobat, berbalik dari jalan hidup saya yang biasa-biasa saja tanpa memahami esensi dari setiap persekutuan gereja yang saya ikuti.

Perjalanan hidup saya begitu banyak pergumulan, jatuh bangun dalam perjuangan melawan dosa, kerap terjadi awal mula pertobatan saya, dan sampai hari ini, saya bersyukur bahwa hidup ini adalah peperangan rohani, tetapi Allah senantiasa menyertai saya dalam pergumulan hidup saya.

Pengalaman berdoa yang sangat membekas dalam hidup saya, ketika saya bergumul dalam hal menentukan pasangan hidup yang akan menjadi rekan saya dalam melayani Tuhan seumur hidup saya. Saya mendapat banyak pengajaran dan pendidikan iman, tentang bagaimana seharusnya saya menggumulkan pasangan hidup. Namun, pengajaran ini tidak serta merta saya implementasikan dalam diri saya. Diawal mula saya memutuskan untuk mencari pasangan hidup. Saya tidak melibatkan Tuhan, sehingga saya jatuh dalam cinta buta akan lawan jenis, yaitu seorang wanita yang bukan seiman dengan saya. Namun, suara Tuhan selalu menggema dalam hati saya, bahkan Allah bekerja melalui sahabat-sahabat saya yang menyindir saya karena berpacaran dengan wanita yang tidak seiman dengan saya.

Syukur kepada Allah, yang membimbing dan mengarahkan saya kepada satu keputusan untuk mengakhiri hubungan yang tidak seimbang ini karena berbeda iman. Saya dengan penuh keberanian dan tanpa beban mengakhiri kisah hubungan yang tidak seimbang ini. Betapa baiknya Allah dalam hidup saya, Dia senantiasa mendorong saya untuk terus terhubung kepada-Nya dalam persekutuan pribadi saya dengan Allah, dalam menikmati relasi dengan Allah. Saya berlimpah sukacita dalam melayani Tuhan.

Dalam pelayanan saya di Pelayanan Mahasiswa Kristen yang ada di kota dan kampus saya, saya jatuh hati pada seorang wanita yang menjadi rekan sekerja saya dalam pelayanan mahasiswa Kristen. Kami sering terlibat dalam kegiatan pelayanan secara bersama-sama. Hal ini yang saya sadari sebagai cikal bakal tumbuhnya rasa suka yang berujung pada cinta. Namun, hal ini tidak serta merta membuat saya secara langsung mengambil keputusan untuk menjalin hubungan dengan wanita ini. Karena saya sadar, bahwa kami memiliki banyak perbedaan yang tidak lazim bila dilihat dari sudut pandang dunia ini. Kami memiliki selisih umur 6 tahun, dan wanita ini dalam organisasi pelayanan kami,adalah pembimbing kami, atau dapat dikatakan sebagai pendamping dalam pelayanan mahasiswa Kristen. Tentu hal ini terasa asing bagi sebagian orang. Pro dan kontra adalah konsekuensi yang harus saya hadapi, bukan saya, tapi kami. Keyakinan saya begitu kuat, bahwa wanita ini adalah penolong yang sepadan yang telah Allah sediakan bagi masa depan saya.

Singkat cerita, saya menyatakan cinta dengan dia, dan hal yang paling membuat saya kagum ialah, dia tidak langsung menerima atau menolak saya, melainkan dia mengatakan, bahwa kami harus berdoa bersama, untuk menemukan tuntunan Allah. Apakah dia dan saya adalah penolong dan pemimpin yang Allah sediakan dalam hidup kami. Kami berkomitmen untuk mendoakannya selama 30 hari. Dalam masa pencarian ini, kami membawa pergumulan ini dalam doa kepada Allah dan kami juga sharing dengan beberapa orang terdekat dan sahabat dalam sepelayanan. Hingga pada akhirnya kami sampai pada satu keputusan untuk bersepakat dalam menjalin hubungan dalam komitmen membangun cinta kasih di atas dasar kasih Kristus. Syukur kepada Allah hari ini kami sudah dipersatukan oleh Allah di dalam ikatan pernikahan kudus. Kami meyakini dan percaya, bahwa Allah yang menuntun kami dalam memutuskan kepada siapa kami akan menjalin hubungan seumur hidup dalam pernikahan kudus. Usia pernikahan kami hampir 1 tahun pada saat ini, tepatnya kami menikah pada 7 April 2018. Pengalaman iman ini, kami percaya merupakan bagian dari pengalaman doa kami bersama Tuhan. Kami juga bersyukur kepada Allah, bahwa Allah memanggil kami untuk melayani Allah melalui pelayanan kaum intelektual khususnya melalui Pelayanan Mahasiswa Kristen.

Kisah di atas merupakan kisah manis dalam kehidupan doa kami. Dan kami meyakini bahwa bagaimanapun kita memohon dan meminta dalam doa, sejatinya kita tidak sedang mendikte Allah untuk menuruti semua keinginan kita. Yang perlu kita sadari bahwa sesungguhnya, ketika kita berdoa, sejatinya kita sedang berkomunikasi dan menjalin relasi dengan Allah, bukan sedang mendikte Allah untuk menuruti apa yang kita kehendaki. Artinya adalah bahwa ketika kita memohon dalam doa, dan doa itu rasa-rasanya tidak terkabulkan, mari selidiki kembali, apa sebenarnya motivasi kita dalam berdoa. Banyak orang yang hanya berdoa ketika sedang mengingikan sesuatu atau sedang meminta sesuatu kepada Allah, seolah-olah doa hanya dijadikan sebagai media untuk memenuhi kehendak kita sendiri. Hal ini yang perlu kita pahami, bahwa doa itu sebenarnya media komunikasi antara kita dengan Allah untuk menikmati relasi dengan Allah sebagai rasa syukur dan penyembahan kita kepada Allah. Banyak juga orang yang di dalam doanya, hanya memohon dan memohon setiap pergumulannya, tetapi jarang untuk menyatakan syukur, penyembahan dan pengakuan dosa kepada Allah dengan sungguh-sungguh. Saya bersyukur kepada Allah karena Allah tetap setia kepada saya, sekalipun saya masih saja membuat hati Allah berduka karena tingkah laku saya. Kiranya, saya boleh terus berjuang untuk hidup berpadanan dengan kebenaran firman Tuhan dan tidak mengutamakan kepentingan saya sendiri.

Komentar