Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Doa

Loading

Bolehkah Saya Mendoakan Anda?

oleh Jean Amanda Loupatty

Dalam 1 Korintus 12:4-11, disebutkan dengan jelas karunia-karunia yang diberikan Tuhan (karunia rohani) bagi setiap orang percaya. Ada yang memiliki karunia pelayanan, iman, bernubuat, berkata-kata dengan bahasa roh, dan lain sebagainya. Setiap orang percaya dengan cuma-cuma telah dikaruniai hal ini dan diharapkan karunia rohani ini bisa dipergunakan untuk saling melengkapi dan melayani (1 Petrus 4:10).

Berkaitan dengan hal di atas, saya ingin memberikan kesaksian saya mengenai karunia yang Tuhan berikan kepada saya dan apa yang saya lakukan dengan karunia tersebut.

Saya lahir dan dibesarkan di tengah keluarga yang benar-benar mengajarkan anggota keluarganya, terutama anak-anak, untuk hidup bergaul dengan Allah dan melayani sesama. Mama saya seorang penginjil dan sering mendapatkan kesempatan untuk mendengar suara Allah. Suatu ketika, pada dua tahun yang lalu, mama berkata, "Kalian bertiga harus menjaga mulut dan perkataan kalian. Hati-hatilah dalam setiap perkataan kalian. Karunia Allah ada pada kalian."

Saya tahu bahwa karunia roh diberikan sesuai kehendak Allah yang memberikannya, bukan menurut keinginan kita (1 Korintus 12:11; Efesus 4:7), tetapi betapa senang dan bersyukurnya kepada Tuhan karena Dia memberikan jawaban tersebut melalui mama.

Waktu bergulir dan kami bertiga mulai melupakan apa yang mama sampaikan kepada kami, tetapi tanpa disengaja pun, hal-hal sekecil apa pun yang diucapkan oleh kami berubah menjadi kenyataan pada banyak kesempatan. Perkataan kami ialah doa kami, apalagi perkataan dalam doa kami.

Walaupun banyak perkataan yang menjadi nyata, tetapi hampir semuanya berasal dari mulut kakak dan adik saya. Saya pun setiap hari bertanya-tanya dan berdoa akan karunia-Nya kepada saya.

Waktu kembali berjalan dan tanpa sadar saya perlahan-lahan melupakan pertanyaan dan rasa penasaran saya. Hingga suatu saat, saya dipercayakan untuk mendoakan seorang lelaki tua yang sedang ada dalam masa kesakitannya. Dia meraung-raung sakit sembari menangis terharu melihat kami para pemuda yang mengunjunginya. Saya pun memimpin kami semua berdoa untuknya. Dengan iman dan keyakinan penuh saya mengucapkan setiap permohonan dan kerinduan kami untuk pemulihan kesehatan sang bapak. Keesokan harinya, bapak tersebut masuk rumah sakit dan dirawat di ICU selama 3 hari sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya. Saya kaget. Saya mereka ulang setiap kata dalam doa saya sebelumnya. Saya berusaha mengucap syukur akan hal ini dan tidak berlarut-larut dalam kesedihan.

Kira-kira satu bulan kemudian saya dipercayakan kembali untuk mendoakan seorang nenek yang sedang terbaring kesakitan dan tak sadarkan diri di ruang ICU. Pertemuan yang tidak disengaja ini merupakan pertemuan ke dua kami dalam hal pelayanan doa. Sekali lagi, dengan iman dan keyakinan penuh, saya membawa doa saya dan teman saya untuk permohonan akan kesembuhan sang nenek kepada Allah. Kabar yang tidak diharapkan kembali datang. Sang nenek telah berpulang ke Rumah Tuhan pada keesokan harinya.

Kedua pengalaman pelayanan doa saya kepada orang sakit ini membuat saya terpukul dan berhenti pelayanan doa selama kurang lebih 2 tahun. Saya berdoa kepada Tuhan dan bertanya, mengapa saya diberikan karunia yang membawa duka dan kesedihan bagi orang lain. Nyatanya Roma 12:3-8 mengatakan bahwa kita harus melayani sesuai dengan porsi karunia rohani kita masing-masing. Melalui keluarga dan teman-teman saya, Tuhan memberikan jawaban-Nya bahwa apa yang ada dalam pikiran saya bukanlah apa yang ada dalam pikiran Tuhan (Yesaya 55:8). Sesuatu yang saya lihat sebagai kedukaan bagi dunia adalah sukacita bagi Allah, bagi orang yang didoakan itu sendiri, dan bagi keluarga yang ditinggalkan. Saya terus dikuatkan oleh orang-orang terdekat saya dan pada akhirnya saya melihat karunia doa yang Tuhan berikan kepada saya adalah sesuatu yang dibutuhkan dalam pelayanan untuk saling melengkapi.

Kiranya melalui kesaksian saya ini, jemaat Tuhan dapat lebih peka lagi dengan karunia yang sudah Tuhan percayakan kepadanya dan bisa melihat karunia tersebut dari sudut pandang positif serta menggunakannya untuk perluasan pekerjaan Allah di tengah hidup ini.

Tuhan Yesus, Sang Pemberi Karunia, menyertai kita semua.

Komentar