Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Doa

Loading

Damai Sejahtera di Bumi

"Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya: 'Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.' Setelah malaikat-malaikat itu meninggalkan mereka dan kembali ke sorga, gembala-gembala itu berkata seorang kepada yang lain: 'Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita.'" (Lukas 2:13-15)

Tidak semua manusia -- kelompok manusia atau masyarakat -- merasa bahwa dirinya membutuhkan Juru Selamat. Meskipun selayaknya mereka harus memikirkan serta memerlukan Juru Selamat, tetapi kenyataannya banyak orang acuh, tidak mau peduli, tidak perhatian, dan merasa dirinya mampu tanpa Tuhan. Tetapi puji Tuhan jika di abad modern ini banyak orang yang haus akan kehadiran Tuhan.

Fakta membuktikan bahwa tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat menikmati kebahagiaan hidup sejati tanpa hidup di dalam Tuhan. Banyak bukti di sekeliling kita menunjukkan bahwa manusia tanpa Tuhan tidak berdaya. Manusia ringkih, tidak berdaya, tidak memiliki kemampuan apa pun. Teknologi tercanggih di dunia tidak sanggup menjawab persoalan manusia yang mendasar. Ada celah-celah kehidupan yang tidak mampu diatasi oleh kekuatan manusia. Peristiwa 11 September 2001 yang lalu -- ketika gedung kembar WTC dan Pentagon menjadi reruntuhan -- merupakan bukti bahwa teknologi yang hebat pun tidak dapat diandalkan. Di sinilah terletak keterbatasan manusia.

Uang yang banyak dan kedudukan yang tinggi bukanlah jaminan bahwa manusia dapat menikmati indahnya hidup. Jaminan yang tertinggi dalam hidup ini terjadi tatkala manusia mencari Juru Selamat dan secara pribadi bertemu dengan-Nya. Nats firman Tuhan di atas memberikan kepada kita beberapa informasi dan hal menarik yang sangat perlu dicermati oleh setiap orang yang hidup di zaman ini.

1. Allah Mencari dan Berpihak Kepada Mereka yang Menderita

Kelompok masyarakat yang dipilih oleh makhluk surgawi -- malaikat dan para bala tentara surga -- untuk mendapat kehormatan mendengar untuk pertama kalinya bahwa Juru Selamat dunia telah lahir adalah para gembala domba. Mereka adalah orang-orang yang mewakili kelompok masyarakat dunia yang saat itu paling serius menanti-nantikan kehadiran sang Juru Selamat. Tiada hentinya dan tiada bosannya mereka mengharapkan hadirnya sang Juru Selamat itu. Dari hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun, para gembala menantikan-Nya dengan penuh harap.

Para gembala adalah orang-orang sederhana, bukan kaum intelektual; mereka bukan pula orang-orang terpandang di zamannya; mereka juga bukan pengusaha sukses maupun jutawan. Bahkan di mata pemilik domba -- para gembala domba tidak lebih tinggi nilainya dari seekor domba.

Celakanya, kadang kala pemilik domba lebih menyayangi dombanya daripada gembala yang hidupnya dikorbankan untuk menjaga kawanan domba. Para gembala mempertaruhkan masa depan mereka demi domba peliharaannya. Di masyarakat, para gembala dapat dikatakan sebagai kaum marginal -- orang pinggiran yang dipandang dengan sebelah mata --, namun mereka sangat berharga, bahkan dipercaya, di hadapan Allah.

Apa buktinya gembala sangat berharga bahkan dipercaya Allah? Merekalah yang pertama kali mendengar nyanyian dari para tentara surgawi. Ketika para malak menyanyi memperdengarkan paduan suara indah itu -- para gembalalah yang pertama menikmatinya. Isi nyanyian tersebut merupakan kebutuhan mendasar yang selama ini mereka idam-idamkan. Damai sejahtera itu sekarang menjadi kenyataan.

Dunia semakin gersang dan kehilangan damai sejahtera. Dari waktu ke waktu, dari abad ke abad, manusia berusaha menciptakan damai sejahtera dan mengira mereka berhasil. Namun kenyataannya tidak! Damai sejahtera hanya sebuah ilusi yang tidak pernah menjadi kenyataan. Permusuhan pelanggaran HAM terjadi di berbagai belahan dunia. Akibatnya, damai sejahtera seperti ditarik keluar dari kehidupan manusia. Sekarang ini, berita yang paling dominan adalah kegagalan mengatasi kejahatan, terorisme, pembunuhan, kegagalan ekonomi, kegagalan menemukan ketenangan hidup, dan seterusnya -- daftarnya semakin panjang. Semuanya itu membuktikan bahwa manusia adalah pribadi yang sangat terbatas. Manusia yang berhasil keluar dari kemelut hidup seperti itu adalah mereka yang mencari Tuhan dan pembelaan-Nya.

2. Isi Pokok Pujian Bala Tentara Sorgawi

Alkitab dengan tegas memberitahukan bahwa berita yang disampaikan para malaikat adalah damai sejahtera di bumi. Berita ini adalah berita teragung yang pernah terjadi di sepanjang lintasan sejarah manusia. Berita ini adalah berita yang menyegarkan hati yang gundah gulana. Karena itu, ketika berita surgawi ini disampaikan, sukacita meliputi hati para gembala.

Malaikat memakai bahasa para gembala, bahasa yang mudah dimengerti oleh mereka. "Damai Sejahtera" yang dalam bahasa Yunani menggunakan kata "eirene" yang berarti "damai", "selamat". Berarti, semua kebutuhan manusia sudah tercakup dalam damai sejahtera. Dan, hingga abad XXI ini, damai sejahtera tetap menjadi kebutuhan manusia. Bagaimana tidak! Dunia semakin menakutkan, nilai-nilai luhur kemanusiaan semakin terkikis bak diterpa taifun. Manusia bagaikan serigala terhadap sesamanya. Tidak ada peristiwa bersejarah yang dapat melebihi peristiwa turunnya "eirene" ke bumi, tidak ada yang peristiwa yang lebih penting dari peristiwa ini.

Tahukah saudara siapa pembawa "eirene"? Sumber damai tiada lain adalah Allah sendiri -- Allah yang menjelma menjadi manusia. Dia adalah Yesus Kristus Tuhan kita. Alkitab berkata: "Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. .... Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia, dan kebenaran." (Yohanes 1:1,14)

3. Berita Malaikat Terbukti Kebenarannya

Ketika para gembala menemui Maria dan Yusuf, orang yang tadinya tidak mereka kenal akhirnya dikenal juga -- mereka berjumpa dengan bayi Yesus. Lalu, apa yang terjadi kemudian? Tahukah Anda apa yang pertama dan terutama yang mereka lakukan? "Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka." (Lukas 2:20)

Jika saya bertanya: "Mengapa Anda datang dalam setiap kebaktian hari Natal? Apakah karena Anda seorang Kristen? Mengapa Anda tidak jera datang dalam setiap pertemuan ibadah? Mengapa dan mengapa...?" Itulah serangkaian pertanyaan yang harus Anda jawab secara pribadi. Seorang Kristen yang dewasa tentunya sangat mengharapkan genapnya kebenaran firman Tuhan dalam hidupnya. Saya sering memikirkan mengapa berita firman Tuhan yang menurut orang adalah "cerita lama" selalu baru dan memberi pengharapan kepada manusia di segala abad. Mengapa? Karena firman Tuhan benar adanya, tidak pernah pudar; dan karena Tuhan setia pada janji Firman-Nya.

Siapa pencipta puji-pujian para bala tentara surgawi? Dan siapa pula pencipta isi puji-pujian itu? Siapa pencipta melodi dan syair lagu para bala tentara sorgawi? Yesaya menubuatkan bahwa Tuhan bukan hanya menciptakan melodi dan syair puji-pujian, tetapi DIA juga menciptakan atau merealisasikan isi puji-pujian itu. Alkitab berkata: "Aku akan menciptakan puji-pujian. Damai, damai sejahtera bagi mereka yang jauh, dan bagi mereka yang dekat -- firman TUHAN -- Aku akan menyembuhkan dia!" (Yesaya 57:19)

Mereka yang beragama Islam, Hindu, Buddha, Kong Hu Cu, aliran kepercayaan atau agama tradisi bukan musuh kita -- mereka adalah teman seperjalanan kita di dunia ini. Mereka juga saudara kita -- sebangsa dan setanah air. Sebagai umat Kristen, kita perlu menerapkan kasih kepada mereka yang berbuat jahat kepada kita, walaupun mereka pernah menyakiti hati kita, yang pernah mengganggu ketenteraman kita beribadah. Kita perlu berdoa kepada mereka, kiranya damai sejahtera memenuhi hati dan pemikiran mereka. Allah tidak mengajar kita untuk saling memusuhi sebaliknya saling mengasihi.

Sekarang adalah saatnya untuk memenuhi pikiran dan hati kita dengan kebenaran-kebenaran firman Tuhan. Anak-anak senang belajar. Anak-anak yang menghafal buku-buku Alkitab tidak akan menjadi orang dewasa yang meraba-raba di saat mereka menyelidiki ceramah pendeta. Dengan demikian kita menyadari betapa pentingnya mengajar anak-anak tentang Alkitab. Anak-anak senang dapat merasa berguna. Berikan dorongan kepada mereka untuk menyebarkan selebaran-selebaran dan cerita Alkitab. Mereka sedang belajar misi dan dapat menjadi saksi yang efektif.

Sekali waktu kami meletakkan selebaran-selebaran di ruang tunggu. Seorang suami yang belum diselamatkan mengambil setumpuk dari selebaran itu ketika hendak pergi ke luar kota. Kita tidak berhasil untuk menyampaikan Injil dengan cara lain. Capailah rumah para orang tua yang belum diselamatkan dengan mengirimkan selebaran-selebaran atau cerita Alkitab yang berhubungan dengan keselamatan melalui anak-anak. Sarankan agar anak-anak meminta orang tua membacakannya kepada mereka. Roh Kudus akan memakai ini untuk melayani orang tua yang belum selamat. Anak-anak dapat menjadi alat untuk mengarahkan orang kepada keselamatan.

Dalam sebuah pertemuan kebangunan rohani di gereja kami, jemaat sedang mendoakan secara tak putus-putus untuk seorang lelaki yang belum diselamatkan. Ketika ajakan untuk menerima Yesus diberikan, seorang anak lelaki belasan tahun dengan terisak-isak datang ke depan dari satu sisi altar, dan seorang anak perempuan yang menangis datang dari sisi yang lain. Mereka memeluk ayah mereka dan mulai memohon. Berulang-ulang mereka memohon, "Ayah, tolong, terima Yesus malam ini." Akhirnya ayahnya sudah tidak bisa menahan dirinya lagi. Memeluk kedua anaknya, dia datang ke altar dan mereka disambut oleh ibu mereka. Betapa indahnya gambaran ini. Seseorang pernah berkata, "Di saat seorang dewasa diubahkan, seseorang diselamatkan, tetapi ketika seorang anak datang kepada Yesus, seluruh kehidupan diselamatkan."

Marilah kita memberikan yang terbaik bagi anak-anak kita sekarang, sebab apa yang kita berikan kepada seorang anak akan kembali berkat seratus kali lipat. Siapa yang bisa menghitung nilai dan kemampuannya? Hanya Tuhan.

Sumber asli :
Judul buku : Buku Pintar Sekolah Minggu Jilid 2
Penerbit : Gandum Mas, Malang 1996
Halaman : 292 -- 293

Diambil dan disunting dari:

Judul buletin : Sinode GUPDI, Edisi V, No. 3
Judul artikel : Damai Sejahtera di Bumi
Penulis : Pdt. Drs. Ch. M.D Estefanus, M.Si
Penerbit : Sinode GUPDI
Halaman : 4 -- 6 dan 12

Dipublikasikan di: http://wanita.sabda.org/damai_sejahtera_di_bumi

Komentar