Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Doa

Ketika Jawaban-Nya "Ya", "Tidak", dan "Tunggu"

Ditulis oleh: Romauli M.

Bagi saya, doa itu semacam kebutuhan primer yang sangat mendasar bagi kehidupan saya. Tanpa doa, hidup saya pasti selalu terasa lapar dan haus. Saya tahu bahwa kehidupan orang Kristen digambarkan seperti salib Kristus. Yang vertikal/ke atas digambarkan sebagai hubungan orang percaya dengan Tuhan Yesus melalui baca Firman Tuhan dan berdoa, sedangkan yang horizontal ialah hubungan orang percaya dengan sesamanya manusia yaitu dengan mengasihi, menolong dan sebagainya. Dari hal ini, saya menyimpulkan bahwa doa itu merupakan hubungan saya dan Tuhan, sehingga sudah sewajibnya jika saya selalu berkomunikasi dengan-Nya karena Dia adalah Bapa saya. Banyak orang dalam kehidupannya tidak merasa bahagia. Mengapa? Karena mereka kurang berdoa. Saya memiliki banyak pengalaman tentang hal berdoa kepada Tuhan. Mulai dari doa saya yang dijawab Tuhan, tidak dijawab Tuhan, dan jawaban yang paling sulit adalah ketika Tuhan menjawab "Tunggu dulu."

Saat saat tamat dari SMP, saya pernah mengalami keterpurukan. Saya selalu bersekolah di sekolah negeri sehingga saya yakin bahwa saat saya tamat SMP saya bisa masuk di SMA Negeri 1, yang saat itu menjadi SMA favorit di Kabupaten Karo (tempat kelahiran/tinggal) saya. Namun, yang terjadi justru kegagalan. Saya gagal masuk di SMA tersebut saat mengikuti ujian tertulis. Saat itu saya merasa kok sepertinya Tuhan tidak adil. Saya sudah belajar sungguh-sungguh tetapi Tuhan tidak menjawab doa saya. Akhirnya, saya masuk sekolah di SMA Swasta Katolik. Tiga tahun bersekolah di SMA tersebut s0aya pun belajar dengan sungguh-sungguh. Saya mengikuti semua kegiatan les yang ada di sekolah dan saya juga les di salah satu Bimbel yang cukup terkenal yaitu di Bimbel GO (Ganesha Operation). Namun, saat lulus SMA, doa dan usaha saya juga tidak menghasilkan apa-apa. Saya ikut jalur SBMPTN untuk masuk di Universitas yang saya mimpikan (USU), dan ternyata itu semua hanya menjadi impian semata. Saya juga gagal saat menjalani ujian SBMPTN. Dalam keterpurukan saya, saya sempat berpikir apa Tuhan terlalu pilih kasih, apa Tuhan tidak mengasihi saya, ataukah Tuhan sudah menutup mata-Nya untuk saya? Pikiran itu terus terlintas otak saya yang membuat saya hampir putus asa dan tidak mau berdoa lagi.

Akan tetapi, bersyukur, Tuhan tidak seperti apa yang saya pikirkan. Dia baik, rencana-Nya juga indah bagi saya. Jika saya akhirnya bisa kuliah di STT Berita Hidup itu bukan karena doa saya tetapi sepertinya Tuhan mengarahkan saya untuk tetap berjuang menyelesaikan kuliah saya. Pada awalnya saya sempat memberontak kepada Tuhan, mengapa Dia harus menempatkan saya di sebuah Sekolah Teologi, yang saya tidak harapkan sama sekali. Namun, pelan-pelan Tuhan ternyata menjawab pertanyaan-pertanyaan saya yang sudah sejak dari SMA saya gumuli. Sekalipun saat SMA dan SBMPTN Tuhan tidak menjawab doa saya, saya akhirnya mengerti apa maksud Tuhan menempatkan saya di Sekolah Teologi. Yang paling saya syukuri adalah, saat saya kuliah saya pernah mendapat sponsor selama 1 semester untuk uang kuliah saya. Namun, akhirnya saya mencabut sponsor saya dan berniat membayar sendiri. Saya berdoa dan menantang Tuhan, saya katakan kepada Tuhan, "Tuhan, jika sewaktu SD, SMP, SMA Engkau bisa mencukupkan aku dengan menyediakan uang sekolahku, aku yakin Engkau juga akan menyediakan semua uang kuliahku sampai aku lulus." Seiring dengan berjalannya waktu, sampai lulus Tuhan selalu menyediakan kebutuhan kuliah saya tepat pada waktunya, dan itu tidak pernah terlambat sekalipun. Saya sangat bersyukur Tuhan menjawab doa saya dan menyediakan semua kebutuhan saya selama kuliah. Ada saja selalu orang yang jadi alat Tuhan untuk memberkati saya, entah itu orangtua saya, keluarga besar saya, bahkan orang yang saya tidak kenal sekalipun. Saya hampir tidak bisa berkata apapun kepada Tuhan selain syukur dan syukur yang selalu saya naikkan dalam doa saya.

Setelah saya menyelesaikan studi S1 saya, saya masih aktif melayani di Gereja Bethel Tabernakel Karanganyar. Karena sejak saya kuliah, saya memang melayani di gereja tersebut. Dan, bersyukurnya setelah lulus kuliah, saya diangkat menjadi pelayan penuh waktu di gereja tersebut. Beberapa bulan setelah lulus, saya juga berdoa kepada Tuhan, supaya saya juga bisa bekerja. Saya rindu mengajar di SMP. Namun, sepertinya jawaban Tuhan adalah "tunggu" bagi saya. Mengapa? Karena Tuhan justru memberikan saya tugas/pekerjaan untuk mengajar anak-anak SD dalam sebuah Bimbel yang kami dirikan (Pelita Dunia). Dalam doa, saya sering bertanya kepada Tuhan mengapa saya harus diperhadapkan pada tugas yang sebenarnya tidak saya inginkan. Namun, sepertinya Tuhan mau melatih saya untuk bersabar. Bertemu dan mengajar anak-anak SD memang membuat saya harus benar-benar sabar. Karakter, bahasa, dan pola pikir mereka sangat berbeda-beda. Seringkali dalam mengajar pun, kesabaran saya sangat diuji. Puji Tuhan semuanya bisa saya lewati, karena berkat intervensi Tuhan dalam hidup saya. Sampai saat ini saya masih mengajar mereka, walaupun mereka tidak sebanyak yang dulu lagi (awal buka bimbelnya).

Jawaban Tuhan atas doa benar-benar nyata dan tepat pada waktu-Nya. Tuhan tidak pernah ingkar janji terhadap saya, malahan saya yang kurang memahami atau tidak peka akan kerinduan Tuhan dalam kehidupan saya. Saya bersyukur saya bisa melakukan pelayanan, kerja, dan belajar di YLSA dalam menjadi staf juga karena pergumulan saya di dalam doa. Sebelum saya datang ke SABDA, saya bergumul kepada Tuhan, dan saya benar-benar menyerahkannya ke dalam kuasa Tuhan. Saat itu saya hanya percaya dan saya yakin saya tidak akan kecewa bekerja di SABDA. Dalam pikiran saya, walaupun saya tidak diterima atau diterima, saya tidak akan kecewa. Karena saya tahu, Tuhan sudah memberi jalan yang terbaik saya bisa ke SABDA. Dan, bersyukur saya bisa diterima juga karena hasil doa. Kalau kekuatan saya sendiri, saya tidak akan mampu. Saya orang yang biasa, lemah dan memiliki banyak kekurangan, tetapi karena Tuhan yang berkarya, saya bisa melewati tahap demi tahap untuk bisa sampai di SABDA ini. Jadi, sekalipun jawaban Tuhan atas hidup saya ya, tidak atau tunggu, saya tidak akan kecewa. Saya tetap mau belajar bersyukur dan bersyukur. "Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa" (Efesus 5:20.)

Komentar