Ketika ditanya tentang makna di balik Prapaskah, pikiran saya seolah bercabang ke dua jalur. Jalur pertama adalah jalur intelektual. Jawaban akademis atas pertanyaan ini terasa lebih konkret dan mudah dipahami. Jalur ini menjelaskan alasan di balik musim Prapaskah -- mulai dari tradisi keagamaan, dasar Alkitab, hingga konteks sejarahnya.
Prapaskah adalah masa 40 hari (tidak termasuk hari Minggu) yang ditandai dengan pertobatan, puasa, refleksi, dan pada akhirnya perayaan. Periode ini melambangkan masa pencobaan Kristus di padang gurun, saat dia berpuasa dan mengalahkan pencobaan. Prapaskah dimulai pada Rabu Abu dan mengajak orang percaya untuk menyediakan waktu setiap tahun bagi praktik puasa. Masa ini dijalani secara sadar sebagai waktu untuk berfokus pada kehidupan, pelayanan, pengorbanan, dan kebangkitan Kristus.
Peristiwa-peristiwa utama dalam Prapaskah mencakup Rabu Abu, Kamis Putih, Jumat Agung, dan Minggu Paskah.

Penjelasan semacam ini sudah menjadi sesuatu yang dihafal dan tidak lagi menuntut banyak perenungan. Penjelasan itu benar, tetapi terasa kering dan kurang menyentuh.
Jalur kedua terasa jauh lebih berantakan dan lebih sulit saya pahami -- jalur rohani. Saya dapat menjelaskan berbagai cara saya berpuasa selama bertahun-tahun, menggabungkannya dengan doa, atau melayani orang lain. Namun, semua itu tetap tidak mampu menangkap makna Prapaskah secara utuh.
Namun ada satu momen yang saya simpan dalam hati.
Mungkin Anda masih mengingat badai es pada tahun 2021. Banyak dari kita kehilangan listrik dan air, lalu terjebak di rumah selama beberapa hari dalam suhu yang sangat dingin. Badai itu terjadi pada pertengahan Februari dan bertepatan dengan Rabu Abu.
Pada minggu itu, saya tinggal bersama orang tua saya karena rumah saya tidak memiliki pemanas sentral. Saya memutuskan untuk bertahan bersama mereka selama badai berlangsung. Rumah mereka berada dalam jarak berjalan kaki dari gereja, dan kami mengetahui bahwa gereja masih memiliki aliran listrik. Untuk mendukung komunitas, staf Trietsch berkumpul dan memutuskan untuk membuka gereja bagi mereka yang kehilangan listrik dan air. Kami tidak dapat menyediakan banyak hal karena hanya sedikit orang yang mampu mencapai gereja, tetapi kami dapat menyediakan tempat untuk beristirahat, sedikit air, dan kehangatan.
Hanya ada segelintir orang yang datang untuk memanfaatkan kehangatan di gereja. Suasananya tenang dan damai. Pada Rabu Abu, Pdt. Dr. Nick McRae (mantan Pendeta Asosiasi Pelayanan Penjangkauan) datang untuk membagikan abu kepada siapa saja yang ingin mengikuti ritual tersebut.
Saat itu, hanya ada tiga orang di antara kami. Kami mengenakan sweatshirt tebal, beanie, dan sepatu hujan. Pastor Nick mengucapkan doa singkat, lalu kami berkumpul di sekelilingnya untuk menerima abu.
Dia membuat tanda salib di dahi saya dan berkata, "Dari debu engkau berasal, dan kepada debu engkau akan kembali."
Saya merasakan air mata mengalir di pipi. Saat saya memejamkan mata untuk menerima abu, wajah nenek saya terbayang dengan jelas. Dia meninggal pada November 2020, hanya beberapa bulan sebelum momen itu. Saya merasa seolah dia hadir bersama saya, menerima abu melalui diri saya. Saya membayangkan begitu banyak kesempatan ketika dia berpartisipasi dalam ritual sakral ini sepanjang 87 tahun hidupnya. Pada saat itu, saya terhubung secara rohani dengannya, seakan hati kami masih saling terikat. Saya merasakan energi Kristus mengalir di antara kami dan melalui kami.
Di sanalah saya berada -- dalam keadaan lusuh dan nyaris mengenakan piyama. Tidak ada ibadah lengkap dengan jemaat, khotbah, musik, atau tata ibadah yang tersusun rapi. Saya tidak mempersiapkan diri sebelumnya dengan meditasi untuk menyiapkan hati bagi Roh Kudus. Sejujurnya, saya hanya menjalani Rabu Abu seperti yang saya lakukan setiap tahun. Saya menerimanya semata-mata karena itu diberikan kepada saya.
Dalam momen kerentanan, kesedihan, dan kerendahan hati itulah Tuhan menemukan saya. Ketika saya kembali merenungkan momen tersebut, saya dibawa pada makna sejati Prapaskah. Saya merasakan penghiburan di tengah suasana murung dan menemukan harapan yang melampaui keberadaan saya yang fana. Inilah Prapaskah.
Praktik-praktik rohani memang dapat membantu kita semakin dekat kepada Tuhan dan menemukan ruang yang sakral. Namun, praktik, tradisi, dan ritual itu sendiri bukanlah sumber makna Prapaskah. Semua itu hanyalah katalis yang dapat menyingkapkan kesatuan dengan Kristus, jika kita bersedia membuka hati.
Pada hari saya menulis ini, seharusnya adalah ulang tahun ke-90 nenek saya, dan saya masih merasakan keterikatan dengannya. Ada begitu banyak kasih di antara kami. Kasih itulah yang mengingatkan saya bahwa Allah adalah kasih (1 Yohanes 4:7-8). Dia terus menuntun saya semakin dalam ke dalam spiritualitas melalui momen-momen yang tak terduga, karena tidak ada yang dapat menaklukkan kasih tanpa syarat -- bahkan kematian sekalipun.
Saat kita memulai perjalanan Prapaskah bersama, marilah kita membuka diri terhadap misteri dan kesatuan dengan Kristus. Roh Kudus, berikan kami keberanian untuk membawa kesedihan, kecemasan, kerendahan hati, kerentanan, dan keaslian kami ke dalam ruang yang sakral ini. Amin.
(t/Jing-jing)
|
Diambil dari: |
||
|
Nama situs |
: |
TMUMC |
|
Alamat artikel |
: |
https://www.tmumc.org/stories/posts/what-is-the-meaning-of-lent |
|
Judul asli artikel |
: |
What is the meaning of Lent? |
|
Penulis artikel |
: |
Alyssa Robinson |
- Log in to post comments