HARI 30: YESUS DI SURGA (19 Maret 2026)
Di hadapan takhta, Anak Domba memerintah—air mata dihapus, luka disembuhkan, dan semua bangsa bersatu dalam penyembahan kekal.
Di hadapan takhta, Anak Domba memerintah—air mata dihapus, luka disembuhkan, dan semua bangsa bersatu dalam penyembahan kekal.
Dari air mata di kubur lahir pengharapan kekal: Yesus bangkit, memanggil nama, mengalahkan maut, dan memberi damai bagi yang percaya.
Di kayu salib, Yesus mengampuni musuh, menerima pendosa, dan menyerahkan nyawa-Nya—kasih ilahi menang atas dosa, maut, dan penolakan manusia.
Di Getsemani, Yesus memilih taat di tengah duka, ditinggalkan sahabat, dan ditangkap—kasih-Nya tetap teguh demi keselamatan manusia.
Di tengah pengkhianatan, Yesus memecah roti dan mencurahkan darah-Nya—kasih perjanjian baru yang mengampuni, menyatukan, dan memberi pengharapan.
Yesus, Tuhan dan Guru, merendahkan diri membasuh kaki murid-murid-Nya—kuasa sejati dinyatakan melalui kasih, pelayanan, dan ketaatan.
Yesus menangis bersama yang berduka, lalu mengalahkan maut—Dia adalah kebangkitan dan hidup, memberi pengharapan kekal bagi yang percaya.
Firman Allah jatuh ke hati yang berbeda; hanya hati yang rindu dan berakar dalam kebenaran akan berbuah, menemukan Kerajaan sebagai harta sejati.
Allah mencari yang hilang dengan kasih Bapa—mengejar, mengangkat, memulihkan, dan bersukacita besar ketika anak-Nya pulang kembali.
Mengasihi Allah berarti mengasihi sesama—bahkan musuh—dengan belas kasihan nyata, hidup taat, dan keberanian mengalahkan kejahatan melalui kebaikan.