Mengapa Berdoa?

Ya, mengapa berdoa?

Jika Allah Mahatahu, bukankah Dia mengetahui segala sesuatu yang kita butuhkan? Dan jika Dia Mahakuasa serta baik, bukankah Dia akan menyediakannya, baik kita berdoa maupun tidak? Inilah alur pemikiran yang umum tentang doa, yang memengaruhi banyak orang dan pada akhirnya membawa kita pada kemiskinan rohani serta merugikan Kerajaan Kristus.

Penalaran ini memiliki logika tertentu dan sekilas tampak memiliki dasar Alkitabiah. Kitab Suci dengan jelas menyatakan bahwa Allah Mahatahu: "Tidak ada suatu makhluk pun yang tersembunyi dari pandangan-Nya. Sebaliknya, segala sesuatu telanjang dan tak tersembunyi dari mata-Nya. Kepada-Nyalah kita harus memberi pertanggungjawaban atas semua yang kita lakukan" (Ibr. 4:13, AYT). Kitab Suci juga menegaskan bahwa dia Mahakuasa -- "...bertindak menurut kehendak-Nya terhadap bala tentara surga dan penduduk bumi. Tidak seorang pun sanggup menahan tangan-Nya, atau bertanya kepada-Nya, ‘Apakah yang Engkau perbuat?’" (Dan. 4:35, AYT) -- serta bahwa "...Tuhan itu baik, kasih setia-Nya kekal selamanya, dan kesetiaan-Nya dari generasi ke generasi" (Mzm. 100:5, AYT).

Namun, menarik kesimpulan dari kebenaran-kebenaran ini bahwa doa tidak diperlukan berarti mengabaikan ajaran Kitab Suci secara keseluruhan. Alkitab memang mengajarkan bahwa segala sesuatu yang kita perlukan untuk hidup dan kesalehan ada di dalam Allah, yang rela dan mampu memberikannya serta mengetahui kebutuhan kita bahkan sebelum kita memintanya. Namun, Alkitab tidak mengajarkan bahwa Dia menganugerahkan semua kekayaan itu kepada kita secara otomatis, seolah-olah itu adalah hak kita. Yesus berkata:

"Mintalah, dan hal itu akan diberikan kepadamu. Carilah, dan kamu akan mendapat. Ketuklah, dan hal itu akan dibukakan bagimu." (Mat. 7:7, AYT)

"Percayalah kepada Allah ... apa saja yang kamu minta dalam doa, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan menjadi milikmu." (Mrk. 11:22, 24)

"Jenis ini tidak dapat keluar, kecuali dengan doa dan puasa." (Mrk. 9:29, AYT)

"Bangunlah dan berdoalah supaya kamu jangan masuk dalam pencobaan." (Luk. 22:46, AYT)

"Dan, segala sesuatu yang kamu minta dalam doa, percayalah, kamu akan menerimanya." (Mat. 21:22, AYT)

"... mereka harus selalu berdoa dan tidak berkecil hati." (Luk. 18:1, AYT)

Makna yang jelas dari ayat-ayat ini dan ayat-ayat serupa adalah bahwa, dalam banyak hal, kita hanya dapat meraih janji-janji Allah melalui doa yang disertai iman.

John Calvin menekankan pentingnya doa dengan sangat kuat. Dia berkata, "Kata-kata tidak sanggup menjelaskan betapa perlunya doa..." ("Institutes", III, 20, 2). Menurutnya, "...melalui manfaat doa kita mencapai kekayaan-kekayaan yang tersimpan bagi kita pada Bapa di surga." Dia kemudian menegaskan bahwa,

...setelah kita diajar oleh iman untuk menyadari bahwa apa pun yang kita perlukan dan apa pun yang kita kekurangan ada di dalam Allah, maka yang tersisa bagi kita adalah mencari-Nya dan, dalam doa, memohon kepada-Nya apa yang telah kita ketahui ada di dalam Dia. ("Institutes", III, 20, 1)

Calvin tidak melihat adanya pertentangan antara doa dan pemeliharaan Ilahi. Sebaliknya, dia mengajarkan bahwa dalam doa "...kita memanggil kehadiran baik pemeliharaan-Nya maupun kuasa-Nya..." ("Institutes", III, 20, 2).

Pemeliharaan Ilahi mengilhami doa, dan doa pada gilirannya memanggil pemeliharaan Ilahi.

Doa dan pemeliharaan Ilahi, dengan demikian, sama sekali bukan dua hal yang saling bertentangan, tetapi justru saling berkaitan erat. Pemeliharaan Ilahi mengilhami doa, dan doa pada gilirannya memanggil pemeliharaan Ilahi. Di titik inilah kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia bertemu secara misterius -- dengan cara yang tidak dapat kita jelaskan sepenuhnya, tetapi sungguh nyata dalam pengalaman iman.

Dengan tidak berdoa, dapatkah kita kehilangan berkat-berkat pribadi yang seharusnya Allah anugerahkan kepada kita? Tampaknya, dalam kedaulatan-Nya, Allah telah menetapkan doa yang disertai iman sebagai sarana yang diperlukan untuk menerima banyak dari janji-janji-Nya. Karena itulah Yakobus dapat berkata, "Kamu tidak mendapat karena kamu tidak meminta" (4:2, AYT). Sejalan dengan itu, Calvin menulis,

...kepada kita tidak ada sesuatu pun yang dijanjikan untuk diharapkan dari Tuhan, yang tidak juga diperintahkan kepada kita untuk memintanya kepada-Nya dalam doa... dan dia seakan-akan tidak bertindak, seolah-olah melupakan kita, ketika Dia melihat kita berdiam diri dan membisu ("Institutes", III, 20, 2-3).

Maka, sekalipun sejumlah berkat tertentu diberikan kepada setiap orang karena Allah "menerbitkan matahari-Nya bagi orang yang jahat dan orang yang baik," hanya melalui doa kita dapat meraih banyak dari kekayaan yang telah Dia janjikan.

Dengan tidak berdoa, dapatkah kita menghambat pekerjaan Kerajaan Allah? Kitab Suci dengan jelas menyatakan bahwa pada akhirnya Kerajaan Allah akan menang atas kerajaan-kerajaan dunia ini dan bahwa tujuan-tujuan-Nya pasti akan digenapi. Namun, Kitab Suci juga mengajarkan bahwa doa yang disertai iman, dengan cara yang mungkin tidak selalu kita pahami, merupakan bagian penting dari proses tersebut. Yesus mengajar kita untuk berdoa, "...datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga" (Mat. 6:10), dan untuk "mintalah kepada Tuhan yang mempunyai panenan, untuk mengirimkan pekerja-pekerja dalam panenan-Nya" (Mat. 9:38, AYT). Dia juga berjanji, "Apa pun yang kamu minta dalam nama-Ku, itu akan Aku lakukan supaya Bapa dimuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta apa pun kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya" (Yoh. 14:13-14, AYT).

Dalam pelayanan Paulus, doa secara konsisten menjadi unsur yang sangat penting bagi terbukanya pintu-pintu pelayanan dan efektivitas pelayanannya (Ef. 6:19 dst.; Kol. 4:3-4; 2 Tes. 3:1-2), sekaligus menjadi kunci bagi pembebasannya dari penjara (Flp. 1:19). Para rasul mencurahkan diri mereka "...dalam doa dan dalam pelayanan firman" (Kis. 6:4, AYT). Yakobus pun menasihati kita untuk meneladani iman dan doa Elia, dengan berkata, "Doa orang benar yang dinaikkan dengan sungguh-sungguh, sangat besar kuasanya." (5:16-18, AYT). Kesimpulan yang tak terelakkan dari ayat-ayat ini dan banyak ayat serupa adalah bahwa Allah yang Maha Berdaulat telah menata ciptaan-Nya sedemikian rupa sehingga doa memainkan peranan yang sangat penting dalam pelaksanaan tujuan-tujuan-Nya.

Inserted image

Jika memang benar bahwa doa yang sungguh-sungguh dari orang benar sangat besar kuasanya, bukankah Kerajaan Allah mengalami kerugian karena kesempatan yang terlewat ketika kita mengabaikan doa yang tekun? Apa yang akan terjadi jika Musa tidak berdoa syafaat bagi Israel di Sinai (Kel. 32:1-14), atau jika Elia mengabaikan doa di Gunung Karmel (1 Raj. 18:36-39), atau jika jemaat di Yerusalem tidak dengan sungguh-sungguh berdoa bagi Petrus ketika dia menantikan hukuman mati (Kis. 12:1-5)?

Mengapa berdoa? Karena Allah yang Maha Berdaulat -- yang sungguh Mahatahu, Mahakuasa, dan baik -- telah menetapkan doa sebagai sarana untuk menerima apa yang telah Dia janjikan dan untuk turut menggenapi apa yang telah Dia tetapkan. Kita hanya dapat bertanya-tanya berkat-berkat apa saja yang sedang kita lewatkan hari ini, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam gereja-gereja kita, akibat kegagalan kita untuk berdoa dengan sungguh-sungguh. Kita juga hanya dapat membayangkan apa yang masih dapat terjadi jika kita mengikuti teladan Luther, Calvin, Edwards, Whitefield, Spurgeon, dan banyak tokoh lainnya yang mendedikasikan hidup mereka untuk doa. Mungkin sudah saatnya kita, baik sebagai individu maupun sebagai jemaat, mencurahkan diri kita pada doa dan berseru bersama para rasul, "Tuhan, ajarlah kami berdoa."

(t/Jing-jing)

Diambil dari:

Nama situs

:

C.S. Lewis Institute

Alamat artikel

:

https://www.cslewisinstitute.org/resources/why-pray/

Judul asli artikel

:

Why Pray?

Penulis artikel

:

Thomas A. Tarrants