Perubahan Rupa Melalui Doa (Lukas 9:28-36; Matius 17:1-18; Markus 9:2-8)

"Yesus membawa Petrus, Yohanes, dan Yakobus, lalu naik ke atas gunung dan berdoa. Ketika Ia sedang berdoa, rupa wajah-Nya berubah dan pakaian-Nya menjadi putih berkilau-kilauan" (Lukas 9:28-29). Perubahan rupa adalah suatu gambaran tentang keadaan-Nya kelak dalam Kerajaan-Nya yang akan datang. Tidak pelak lagi perubahan rupa itu merupakan suatu pengalaman penuh sukacita yang memperkuat manusia Yesus menghadapi kematian-Nya yang semakin dekat. Perubahan rupa diberikan untuk menunjukkan bahwa Yesus adalah Anak Allah, dan suatu jaminan atas kebangkitan-Nya dan Kerajaan-Nya yang akan datang serta membuktikan keunggulan Yesus dari Musa dan Elia, seperti ditunjukkan dalam kesaksian Petrus yang diberikan dalam 2 Petrus 1:16-18.

Perubahan rupa terjadi "Ketika Ia sedang berdoa". Kita tidak tahu apa yang dikatakan-Nya dalam doa itu. Pasti doa itu adalah pujian kepada Allah atas karya keselamatan yang akan diselesaikan di kayu salib dan tentang kebangkitan.

Sementara kita mendaki bukit doa, kehidupan kita dapat diubah dan diperindah. Dari bukit itu kita memperoleh pemandangan Allah atas kehidupan dan keadaan-keadaan kita. Dari tempat tinggi yang menguntungkan itu kita dapat menilai kehidupan dan pekerjaan kita dengan tepat. Beberapa hal yang dulu kita pikir berarti, akan tampak tak berarti, dan sebaliknya. Rencana-rencana kita, pekerjaan-pekerjaan kita, kekuatiran-kekuatiran kita, kesedihan- kesedihan kita, perhatian-perhatian kita, dan kesukacitaan kita dapat dilihat dari sudut pandangan yang benar dari bukit doa itu. Kita memandang segala sesuatu dari sudut pandangan Allah.

Betapa luar biasanya hak istimewa yang diberikan kepada murid-murid ini. Mereka sungguh-sungguh melihat Yesus berubah rupa dihadapan mata mereka. Mereka melihat Yesus dalam kemanusiaan-Nya dan dalam kemuliaan surgawi-Nya. Seluruh tubuh-Nya menunjukkan kemuliaan ilahi-Nya. Mereka melihat Raja dalam kemulian-Nya dari bukit doa yang kudus itu, dari mana dengan iman, kita juga dapat melihat Dia dalam kemuliaan-Nya.

Setelah Petrus mengukakan pernyataannya yang sembrono itu (ayat 33), Allah berbicara dari surga, kata-Nya, "Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia".

Komentar