Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Doa

Loading

Adven: Nek Keriput itu Kristus?

Diringkas oleh: N. Risanti

"Aku heran, akhir-akhir ini aku gampang ngantuk. Baru saja duduk dan mulai membaca, aku tertidur. Memang cuma beberapa menit, tetapi betul-betul tertidur, bahkan bermimpi." Begitu kata Kek Martin kepada dirinya sendiri sambil memperbaiki kacamatanya yang sebentar-sebentar merosot di hidungnya.

Kakek ini bernama Martin Avdeich, tetapi semua orang di kota kecil ini menyebut dia Kek Martin. Demikian cerita Leo Tolstoy (1828 -- 1910) yang dalam bab ini dipotong dan diubah di sana-sini.

Martin adalah seorang tukang membetulkan sepatu sejak masa mudanya. Istrinya sudah lama meninggal, sedangkan anak-cucunya tinggal jauh di berbagai pelosok. Martin tinggal seorang diri di sebuah ruangan kecil di lantai bawah tanah yang hanya memiliki satu jendela. Jendela itu adalah dunianya. Dari jendela itu, ia sulit melihat wajah orang yang lewat. Yang bisa dilihatnya hanya kaki mereka. Akan tetapi, justru itulah yang terpenting. Hampir semua orang itu mengenakan sepatu yang pernah diperbaiki Martin. Martin mengenali sepatu mereka itu satu per satu. Dia bangga melihat hasil kerjanya.

Martin tidak pernah kekurangan pekerjaan. Selalu ada saja orang yang datang untuk meminta sepatunya diperbaiki. Apalagi, sekarang menjelang Natal. Tidak ada orang yang ingin memakai sepatu yang rusak pada hari Natal.

Malam itu, seperti biasa, Martin membaca Alkitab. Saat itu, yang dibacanya adalah cerita tentang Yesus yang diundang makan oleh seorang pemuka agama. Rupanya, tuan rumah itu menyambut Yesus hanya dengan setengah hati. Tiba-tiba, masuklah seorang perempuan yang langsung menangis sambil menciumi kaki Yesus, lalu meminyaki kepala Yesus. Tuan rumah itu mengusir perempuan itu. Namun, Yesus menegur tuan rumah itu. Kata-Nya, ".... Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku. Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi." (Lukas 7:44-46)

Martin termangu membaca teguran Yesus itu. Tuan rumah itu kurang sungguh-sungguh menyambut. Jangan-jangan, aku juga begitu. Ah, tidak! Seandainya Yesus datang ke rumahku, Dia akan kusambut sungguh-sungguh.

Tiba-tiba Martin mendengar seseorang memanggil, "Martin!" Martin bertanya, "Siapa itu?" Lalu, suara itu berkata lagi, "Martin, besok lihat ke jalan. Aku akan datang!"

Martin terbangun bingung. "Suara siapa itu? Itu mirip suara Yesus. Akan tetapi, masakan Yesus akan datang ke rumahku? Besok? Ah, itu cuma mimpi. Namun, siapa tahu itu betul?

Keesokan harinya sebelum terang, Martin sudah bangun. Ia membereskan rumah. Lalu, memasak sup kubis dan bubur jelai. Sementara itu, salju turun lebat.

Lalu, Martin mulai mengerjakan sepatu sambil sebentar-sebentar melirik keluar jendela. Hampir setiap orang yang lewat bisa ia kenali sepatunya. Mereka pelanggannya. "Namun, bagaimana aku bisa mengenali Yesus? Sepatu macam apa yang dipakai oleh Yesus?"

Tiba-tiba, seorang lelaki mendekati jendela. "Apakah itu Yesus? Ah, bukan! Itu cuma si Stepan, tukang sapu salju!" Melihat Stepan menggigil kedinginan, Martin memanggil, "Stepan, mari masuk sebentar. Hangatkan badanmu. Kebetulan samovar (teko teh -- Red.) sudah mendidih." Dengan rasa canggung, Stepan duduk dan menyeruput teh panas. Ia juga melahap roti yang tersaji.

Lalu, Stepan bertanya, "Mengapa kamu sebentar-sebentar menoleh ke jendela? Apa kamu sedang menunggu tamu?" Jawab Martin, "Tidak ... eh, tetapi sebetulnya ya." Lalu, Martin menceritakan apa yang dialaminya semalam. Mulut Stepan ternganga keheranan, lalu berkata, "Aku buta huruf. Aku tidak mengerti. Namun, semoga saja Yesus betul mengunjungi kamu."

Setelah Stepan pergi, Martin bekerja lagi sambil sebentar-sebentar melirik ke jendela. Tidak banyak orang lewat. Menjelang siang, ia melihat seorang ibu bersandar di tembok sambil menggendong bayinya yang menangis. Aneh, ibu itu tidak memakai baju hangat. Martin keluar dan bertanya, "Apa kamu sedang menunggu seseorang di sini?" Jawabnya, "Maaf, aku cuma beristirahat sebentar." Langsung, Martin mengajak dia masuk dan menyuruh dia duduk dekat tungku api. Lalu, segera ia menyajikan sup kubis dan bubur jelai. Ibu ini terheran-heran melihat kebaikan Martin. Dengan kepala menunduk malu-malu, ia melahap santapan itu.

Seusai makan, ibu ini bercerita, "Suamiku tentara di perbatasan. Sudah 8 bulan ia belum memberi kabar. Tadi, aku menghadap calon majikanku, tetapi ia menyuruh aku kembali minggu depan. Sekarang, aku dalam perjalanan pulang." Martin prihatin dan bertanya, "Mengapa kamu tidak memakai baju hangat?" Jawabnya, "Kemarin, aku menggadaikannya."

Martin pergi ke lemari. Katanya, "Bawalah mantel ini. Sudah usang, tetapi lumayan untuk menghangatkan badan." Mata ibu ini berlinang haru. Ketika ibu ini akan pulang, Martin berkata, "Ini sedikit uang untuk menebus baju hangatmu." Sambil mengucapkan terima kasih berkali-kali, ia berjalan keluar mendekap bayinya.

Hari makin petang. Martin terus menatap ke jalan. Yesus belum juga datang. Yang datang malah seorang nenek memegang keranjang apel dagangannya sambil memikul ranting-ranting kayu bakar. Ia berhenti dan meletakkan keranjangnya untuk menggeser letak pikulannya. Tiba-tiba, secepat kilat, seorang bocah menyambar sebutir apel. Namun, si nenek dengan gesit mencekal tangan bocah itu yang meronta hendak melarikan diri. Lalu, si nenek menjambak rambut si bocah yang mengaduh kesakitan. Langsung, Martin lari keluar. Teriaknya, "Nek! Nek! Jangan!" Kini, Martin menatap wajah si nenek dari dekat. Wajahnya penuh keriput dan sedang penuh amarah. Katanya, "Calon maling ini harus dihajar babak belur!" Martin memohon, "Nek, sudahlah." Akhirnya, nenek itu melepaskan si bocah yang langsung kabur. Kini, giliran Martin yang mencekal tangan si bocah. Bentak Martin, "Kamu harus minta maaf dulu!" Bocah itu menangis dan meminta ampun.

Wajah nenek itu langsung damai. Amarahnya reda. Keriputnya tampak lembut. Ia tersenyum manis. "Baiklah. Sekarang sudah gelap. Aku pulang." Ia hendak mengangkat pikulannya. Namun, si bocah berkata, "Nek, biar aku yang pikul." Lalu, berjalanlah mereka berpegangan tangan. Dengan hati lega, Martin melihat mereka pergi.

Menjelang tidur, Martin merasa kecewa. Ternyata, Yesus tidak jadi datang. Lalu, dengan kacamata yang merosot, ia bersiap membaca Alkitab. Ia membuka Injil Matius 25. Kepalanya pun mulai manggut-manggut ngantuk.

Tiba-tiba, Martin mendengar suara memanggil, "Martin! Apakah kamu tidak mengenali Aku?"

"Siapa itu?" tanya Martin.

Suara itu menjawab, "Lihat, inilah Aku!" Lalu, tampaklah Stepan tersenyum melambaikan tangan. Suara itu berkata lagi, "Inilah Aku!" Lalu, tampaklah ibu muda dengan bayi itu menunduk malu. Sekali lagi, suara itu berkata, "Lihat, inilah Aku!" Lalu, tampaklah nenek keriput itu. Martin terbangun. Alkitabnya masih terbuka. Dengan mata berkunang-kunang, ia membaca, "Ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan ... Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku."

Jadi, apakah tadi Kristus sudah datang? Betulkah? Kristus itu Nek Keriput? Nek Keriput itu Kristus?

Sumber asli:

Judul buku : Selamat Sehati
Judul bab : Adven: Nek Keriput Itu Kristus?
Penulis : Andar Ismail
Penerbit : PT. BPK Gunung Mulia, Jakarta 2013
Halaman : 93 -- 97

Diambil dari:

Nama situs : Natal
Alamat URL : http://natal.sabda.org/adven_nek_keriput_itu_kristus
Penulis artikel : Andar Ismail
Tanggal akses : 19 Maret 2014

Komentar