Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Doa

Berdoa Natal

"Saya tidak bisa lagi membaca cerita tanpa mengalami kehadiran cinta itu."

Natal tidak pernah menjadi waktu kesukaan saya dalam setahun. Saya selalu mengalami konflik di antara begitu banyak hal yang harus saya lakukan dan "malam sunyi" para gembala. Juga sulit bagi saya untuk menukar tombol emosional, untuk bergerak dari rutinitas waktu sehari-hari dan menunggu dengan penuh harap akan kedatangan Bayi Kristus.

Sebagai istri dan ibu muda, saya merasa dibebani dengan tugas-tugas Natal -- berbelanja untuk anak-anak kami dan keluarga besar; memanggang barang mewah; mengirim kartu Natal untuk teman-teman, kerabat, kenalan, dan rekan bisnis; menghias dan menghibur, dan pergi ke pesta, konse,r serta berbagai program di sekolah dan gereja.

Saya mengajar sekolah minggu, duduk di tempat pengasuhan anak, bernyanyi dalam paduan suara, dan bekerja dengan kelompok perempuan. Semua kegiatan itu meningkat selama musim Natal. Hasilnya, Natal tidak berarti bagi saya. Saya tidak bisa menunggu untuk Januari.

Saya kemudian mencoba untuk menyederhanakan. Saya memotong daftar kartu panjang kami. Saya membuat hanya sedikit kue favorit dan mendekorasi rumah secara sederhana. Saya berkata, "Tidak," untuk hal-hal yang benar-benar tidak ingin saya lakukan, dan kami hanya melakukan tradisi keluarga yang benar-benar milik kami, bukan apa yang diharapkan.

Hal ini memperlambat kecepatan dan mengurangi stres. Akan tetapi, itu tidak berhubungan dengan pertanyaan saya yang paling penting: Mengapa kita merayakan Natal? Apakah yang sesungguhnya kita rayakan?

Pertanyaan Natal saya adalah bagian dari pertanyaan yang lebih besar seperti, "Siapakah Yesus Kristus?" dan "Bagaimana saya bisa masuk ke dalam hubungan yang lebih berarti dengan-Nya?"

Saya mulai menemukan jawaban ketika saya mengikuti retret dan belajar bagaimana berdoa menggunakan Kitab Suci. Saya belajar untuk mendengarkan Tuhan -- bermeditasi dengan Alkitab dan menjadi cukup tenang untuk melihat pengetahuan intuitif bahwa Roh Allah berbicara jauh di dalam jiwa kita. Dan, saya belajar bahwa kehidupan rohani lebih berkaitan dengan apa yang Tuhan kerjakan dibandingkan dengan apa yang saya kerjakan.

Belajar Berdoa

Saat saya menenangkan diri saya dan mendengarkan Tuhan, saya mulai menemukan suasana Natal yang berbeda. Saya menanyakan pertanyaan yang berbeda. Saya berpikir tentang para gembala memasuki Betlehem, mencari bayi yang adalah Sang penyelamat dunia.

"Bagaimana mereka tahu bahwa itu adalah Bayi Kristus?" Saya terkagum-kagum. "Apa yang Bayi itu lakukan kepada mereka untuk mengetahui siapa Bayi itu sebenarnya?" Saya membuka Alkitab saya dan membaca ayat-ayat tersebut dengan cara yang telah saya pelajari saat retret, perlahan dan dengan reflektif, mendengar dengan hati saya dan mencoba untuk masuk ke bagian Alkitab ini dengan imajinasi saya.

"Setelah malaikat-malaikat itu meninggalkan mereka dan kembali ke surga, gembala-gembala itu berkata seorang kepada yang lain: "Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita." Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan Bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan. Dan, ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka. Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya. Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka." (Lukas 2:15-20)

Saya mencoba membayangkan adegan tersebut: gudang, kehangatan hewan, bau jerami. Saya membayangkan keluarga kecil dalam kemiskinan mereka, melahirkan bayi mereka di sebuah gudang.

Memasuki peristiwa tersebut dengan imajinasi saya, kisah ini memiliki suatu kehidupan di dalamnya. Maria mengangkat bayi keluar dari palungan dan menyerahkan-Nya kepada saya. Saya merengkuh Bayi dalam pelukan saya dan memberikan baginya kasih dan kehangatan. Saya duduk dalam keheningan, bermandikan kasih ini, dan mencoba untuk memahami bagaimana para gembala mungkin tahu bahwa ini adalah Bayi Kristus.

Saya tidak dapat lagi membaca kisah Natal tanpa mengalami kehadiran kasih itu, sesuatu yang telah menjadi bagian yang lebih besar dalam hidup saya.

Meditasi Natal

Meditasi Alkitab membawa kita ke tempat-tempat yang menakjubkan karena Roh memberi kita kebenaran yang memperdalam kehidupan rohani kita. Inilah sebabnya, mengapa meditasi Alkitab adalah suatu latihan yang telah digunakan oleh para pencari Tuhan yang sungguh-sungguh di berbagai abad.

Menyisihkan waktu untuk berdiam dan sendirian demi merenungkan teks Alkitab yang kontekstual memungkinkan Anda untuk menerima karunia Allah yang besar bagi Anda setiap saat -- termasuk pada masa Adven dan Natal. Hal itu juga akan membebaskan Anda dalam menikmati perayaan dan pemberian hadiah, sekaligus menjaga Anda tetap fokus pada makna mendalam yang ada dalam masa Natal.

Berikut adalah cara untuk bermeditasi dengan Alkitab yang akan membantu Anda menyambut Kristus di dalam hidup Anda dengan langkah yang baru.

  1. Pilih bagian Alkitab sebelum berdiam diri (lihat Teks untuk meditasi Adven). Anda bisa menggunakan saran dari buku renungan, dari buku tahunan gereja atau memilih sendiri.
  2. Mulailah dengan duduk di posisi yang nyaman. Ambil napas dalam-dalam. Bayangkan Anda menarik napas dalam Roh dan mengeluarkan napas kesibukan dan ketegangan hidup sehari-hari.
  3. Berterimakasihlah pada Tuhan untuk kehadiran-Nya bersama Anda.
  4. Ketika Anda sudah merasa fokus, bacalah bagian Alkitab secara perlahan, satu kalimat pada sekali waktu. Jangan mencoba untuk "mendapatkan sesuatu dari bagian ayat itu"; hanya sampaikan bagian ayat itu sebagai doa. Ulangi setiap frasa sesering mungkin sampai bagian ayat itu tampak memiliki kehidupan. Kemudian, berhenti dan dengarkan apa yang dikatakan dari bagian ayat itu sebelum pindah ke kalimat berikutnya. Jika bagian itu suatu teks narasi, bayangkan diri Anda berada dalam narasi tersebut, menggunakan indra imajiner penciuman Anda, sentuhan, pendengaran, dan penglihatan. Perhatikan siapa Anda dalam narasi itu. Bagaimana tanggapan Anda terhadap apa yang terjadi? Apa yang Anda ingin lakukan atau katakan?
  5. Ketika Anda merasa bahwa Allah menyentuh Anda melalui kalimat atau frasa firman Tuhan yang Anda baca tadi, tetaplah tinggal dengan kondisi itu selama waktu yang Anda inginkan. Kadang-kadang, Tuhan akan menyentuh Anda begitu dalam sehingga Anda dengan mudah berpindah ke dalam doa respons. Jika demikian, biarkan sisa bagian Firman itu pergi dan mengikuti ke mana Roh memimpin. Allahlah yang berinisiatif. Kita mempersilakan Tuhan untuk berbicara pada hati kita, membimbing kita, menyembuhkan kita, dan membawa kita ke dalam keindahan pengetahuan kasih dari Trinitas.
  6. Di akhir meditasi Anda, berilah respons dalam doa, apa pun proses yang sesuai dengan apa yang terjadi atau tidak terjadi. Tutup meditasi dengan pujian dan ucapan syukur.

Bermurah hatilah terhadap diri Anda sendiri. Hubungan dengan Allah merupakan suatu pengalaman yang bertumbuh. Kadang kala seseorang merasa dekat dengan Tuhan, kadang-kadang merasa jauh. Jangan khawatir dengan perasaan yang berubah-ubah. Kristus hidup di dalam kita. Allah selalu menyembuhkan, memperbarui, menciptakan, dan memperdalam kita, baik kita merasakannya ataupun tidak.

Kadang-kadang hadiah terbesar dari waktu perenungan kita, terutama saat Natal, adalah keheningan. (t/Wiwin)

Diterjemahkan dan disunting dari:

Nama situs : The Lutheran
Alamat URL : http://www.thelutheran.org/article/article.cfm?article_id=4042
Judul asli artikel : Praying Christmas
Penulis artikel : Joann Nesser
Tanggal akses : 24 November 2014

Komentar