Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Doa

Loading

Disiplin Berpuasa

Dalam kebudayaan duniawi kita ini, orang cenderung berpuasa karena dua alasan -- untuk mendramatisasikan suatu maksud dan untuk menurunkan berat badan. Saya tidak mengatakan bahwa kedua jenis puasa itu jelek, tetapi tak satu pun dari keduanya merupakan disiplin rohani. Yang satu bertujuan manipulasi dan yang lain bertujuan keangkuhan.

Sebaliknya, berpuasa sebagai disiplin rohani berpusat pada Tuhan. Jadi, harus diprakarsai oleh Tuhan dan ditetapkan oleh Tuhan. John Wesley menulis, "Biarlah hal itu dilakukan bagi Tuhan dengan mata kita hanya diarahkan kepada-Nya. Biarlah tujuan kita dengan hal ini adalah untuk, dan hanya untuk memuliakan Bapa kita yang di surga." (Sermons on Several Occasions, Epworth Press, 1971; 301).

Begitu kita mengerti tujuan pokok berpuasa -- yaitu untuk memuliakan Tuhan - amanlah bagi kita untuk melihat manfaatnya yang lain. Puasa mengungkapkan hal-hal yang menguasai kita. Sombong, marah, dendam, cemburu, takut -- kalau sifat-sifat itu ada di dalam diri kita, semua akan muncul selama kita berpuasa. Ini merupakan suatu pertolongan besar kalau kita ingin diubah menjadi serupa dengan gambaran Yesus Kristus. Kita dapat bergembira ketika kelemahan- kelemahan kita ditunjukkan, karena kita mengetahui bahwa Kristus dapat menempatkan penguasa-penguasa yang keliru -- itu di tempat mereka.

Ada nilai-nilai lain dari berpuasa. Puasa membantu kita mengendalikan berbagai dambaan dan keinginan manusiawi kita. Puasa meningkatkan konsentrasi kita dan keefektifan kita dalam berdoa syafaat. Puasa dapat membuat fisik kita sehat dan menolong kita ketika kita berdoa memohon bimbingan. Dalam berpuasa, seperti dalam hal-hal yang lain, kita dapat mengharapkan Allah memberi upah "kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia" (Ibrani 11:6).

Berpuasa tidak harus dilakukan sendirian. Kalau Saudara mempunyai kelompok yang sudah cukup berdisiplin dan belajar, berpuasa bersama sangat berharga. Sebagai masyarakat yang beriman Saudara dapat saling menopang. Bukan berarti harus melibatkan seluruh gereja. Itu memang bagus sekali, tetapi saya akan menganjurkan banyak orang untuk mulai dengan cara yang lebih sederhana.

Salah satu pengalaman pertama saya berpuasa secara kelompok ialah ketika kami lima orang terlibat dalam mempersiapkan beberapa pertemuan istimewa di gereja kami. Seminggu sekali selama beberapa bulan kami berpuasa, dan pada malam hari puasa itu kami berkumpul untuk mendoakan pertemuan-pertemuan itu. Kami semua mengetahui apa yang sedang dialami oleh masing-masing kami dan karenanya kami dapat membagi kesulitan kami dan memecahkannya bersama-sama. Ada yang belum pernah berpuasa sebelumnya, dan pengalaman kelompok ini memberi mereka dorongan dan dukungan untuk melanjutkan puasa itu.

Pada saat-saat yang lain kelompok-kelompok lebih besar -- seperti gereja, denominasi, atau bahkan seluruh negara -- dapat berpuasa untuk maksud tertentu. Kalau Saudara dapat membuat orang-orang Kristen bersatu untuk melakukan hal itu, hasilnya dapat sangat baik. Gereja-gereja yang menghadapi masalah-masalah berat dapat banyak dipulihkan melalui kelompok yang bersatu untuk berdoa dan berpuasa. John Wesley mencatat dalam buku hariannya bahwa pada tahun 1756 semua umat Kristen di Inggris bersatu untuk berpuasa dan berdoa memohon dibebaskan dari ancaman serbuan Perancis. "Kerendahan hati berubah menjadi kegembiraan seluruh bangsa," tulisnya, "karena ancaman penyerbuan itu ... terhalang."

Biasanya kita mengira bahwa berpuasa itu berpantang makan. (Tentu saja ada orang yang tidak boleh berpantang makan. Mungkin karena kesehatan, atau mungkin mereka hamil atau sedang menyusui.) Tetapi puasa banyak caranya dan tidak hanya terbatas pada makanan. Dipahami betul bahwa berpuasa adalah disiplin untuk semua umat Kristen.

Berpuasa berarti secara sukarela tidak mengerjakan suatu kebiasaan demi kegiatan rohani yang sungguh-sungguh. Dalam kebudayaan kita, kita memerlukan waktu untuk berpuasa terhadap media komunikasi. Kita perlu berpuasa terhadap penggunaan barang yang berlebih-lebihan dan kita perlu meluangkan waktu berada di antara orang-orang kesayangan Kristus -- orang-orang yang sedih, orang-orang yang menderita, dan orang-orang miskin -- bukan untuk berkhotbah kepada mereka, melainkan untuk belajar dari mereka. Kita perlu waktu untuk berpuasa terhadap penggunaan telepon yang mungkin merupakan pemberi tugas yang mutlak. Ada orang yang perlu puasa bekerja pada batas tertentu untuk mempelajari keseimbangan dalam hidup mereka. Ada orang yang perlu berpuasa terhadap pertemuan dengan orang-orang, dan ada orang yang perlu berpuasa terhadap kegemarannya berbicara begitu banyak. Kalau kita bertanya kepada Tuhan bahwa kita memerlukan keseimbangan, Tuhan akan mengajar kita. Sungguh mengagumkan bagaimana bimbingan- Nya dapat berhasil kalau kita terbuka untuk menerimanya.

Alkitab banyak berbicara mengenai puasa. Tokoh-tokoh alkitabiah yang berpuasa antara lain Musa, Daud, Elia, Ester, Daniel, Paulus, dan Yesus Kristus. Dalam Khotbah di Bukit, Yesus mengajarkan tentang memberi, berdoa, dan berpuasa dalam waktu yang hampir bersamaan. Yesus mengharapkan agar orang berpuasa dan Ia memberi mereka petunjuk bagaimana melakukannya dengan semestinya (lihat Matius 6:1-18). Orang-orang Kristen yang terkenal banyak yang melakukan puasa, di antaranya Luther, Calvin, Knox, dan Wesley.

Berpuasa dapat menimbulkan dorongan-dorongan rohani yang tidak pernah dapat timbul dengan cara lain. Berpuasa adalah alat kasih karunia dan berkat Allah yang tidak boleh diabaikan.


Sumber:
Judul buku : Pola Hidup Kristen Penerapan Praktis
Penerbit : Kerja Sama antara Gandum Mas, Yayasan Kalam Hidup, dan YAKIN, 2002
Halaman : 463 -- 465

Dipublikasikan di: http://pepak.sabda.org/disiplin_berpuasa

Komentar