Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Doa

Loading

Doa Syafaat: Suatu Gaya Hidup 1

Beberapa tahun yang lalu, pada bulan Mei 1986, saya sedang mempersiapkan untuk mengikuti pelatihan di Sekolah Doa (School of Prayer) di Polandia, atas undangan seorang pendeta muda dari Pittsburgh, Mark Geppert. Enam minggu sebelum keberangkatan saya ke Eropa Timur, saya bertemu dengan Mark untuk menyelesaikan jadwal perjalanan kami. "Ada perubahan pada jadwal perjalanan saya," kata Mark. "Saya akan bertemu dengan kamu di Warsawa seperti yang direncanakan, tetapi sebelum itu saya akan pergi ke Uni Soviet selama 1 bulan." "Uni Soviet?" saya bertanya terheran-heran. "Apa yang akan kamu lakukan di sana?" "Saya akan berdoa," jawab Mark. "Tuhan berbicara kepada saya beberapa hari yang lalu dan mengatakan kepada saya bahwa saya harus pergi ke Rusia hanya untuk berdoa. Ia mengatakan kepada saya dengan tepat ke mana saya harus pergi dan apa yang harus saya doakan. Saya harus berdoa supaya Tuhan mengguncangkan seluruh Rusia. Saya akan meminta-Nya untuk memakai kejadian-kejadian yang baru saja terjadi -- apa pun kejadian itu -- untuk mengguncangkan apa yang bisa diguncangkan, sehingga pintu-pintu akan terbuka bagi Injil dan orang-orang percaya akan memunyai suatu kebebasan yang baru untuk menyembah."

Dengan hati yang berdebar bahwa seseorang akan pergi "hanya untuk berdoa", saya minta kepada Mark dengan sungguh-sungguh supaya mengirimkan kepada saya, satu salinan dari jadwal perjalanannya supaya kami dapat mendoakannya sebelum saya menemuinya di Warsawa. Jadwal perjalanan tiba dan saya tidak begitu memikirkannya secara khusus, sampai beberapa hari sebelum keberangkatan saya. Tiba-tiba kehadiran Mark di Uni Soviet yang berdoa kepada Tuhan untuk mengguncang bangsa itu memunyai arti yang penting sekali. Tidak lama sebelum keberangkatan saya pada akhir April, cerita yang mengejutkan mengenai kecelakaan yang terjadi di pabrik nuklir di kota kecil bernama Chernobyl menjadi berita utama di surat kabar. Menurut surat kabar Chernobyl, letaknya tidak jauh dari kota Kiev yang ramai. Bukankah Kiev termasuk dalam jadwal perjalanan Mark? Sesungguhnya, kalau saya tidak salah, bukankah Kiev adalah tempat terakhir yang Tuhan katakan kepada dia untuk dikunjungi?

Saya segera mengeluarkan surat yang Mark kirim kepada saya, yang di dalamnya terdapat daftar tempat-tempat yang Tuhan katakan kepada dia untuk mengunjunginya. Ternyata ingatan saya tepat. Misi Mark akan berakhir pada akhir minggu itu di Kiev, dengan menumpang kereta api ke Polandia, yang justru akan membawa ia melalui daerah yang dilanda bencana tersebut. Sebelumnya, saya pernah mengadakan perjalanan naik kereta api dengan Mark di China. Bagi Mark, perjalanan naik kereta api merupakan suatu pertemuan doa yang panjang di atas rel, yang bergerak dari satu tempat doa ke tempat yang lain. Setelah meneliti rencana perjalanan dengan lebih saksama, saya mendapatkan bahwa Mark memunyai rencana untuk meninggalkan Kiev pada tanggal 25 April 1986 petang, dan akan melewati dekat Chernobyl pagi-pagi sekali keesokan harinya. Waktu itu adalah tepat pada saat terjadinya ledakan di pabrik nuklir di Chernobyl.

Baru di kemudian hari, para analis menyadari bahwa Chernobyl telah memegang peranan yang penting dalam kejadian glasnost, yang dalam bahasa Rusia berarti keterbukaan. Dalam keadaan yang normal, berita mengenai bencana itu akan dirahasiakan di negara Soviet. Tetapi hal ini tidak mungkin dilakukan dengan Chernobyl. Hanya dalam waktu beberapa jam saja setelah bencana nuklir tersebut, para ahli melihat adanya suatu peningkatan radiasi yang tiba-tiba di Swedia. Pelacakan dari sumbernya sudah dapat dipastikan dengan tepat adalah di Ukraina, negara Soviet. Jadi dalam hal Chernobyl, glasnost dipaksakan pada negara Soviet. Merahasiakannya bukanlah merupakan suatu pilihan. Tiba-tiba saja entah mereka menyukainya atau tidak, mereka terpaksa untuk terbuka. Saya tidak sabar menunggu untuk bertemu dengan Mark di Warsawa. Apakah ia mengikuti jadwalnya? Jika demikian, bagaimana Tuhan minta dia berdoa? Ketika kami baru saja masuk ke hotel kami di Warsawa, saya sudah mengajukan pertanyaan. Memang Mark melakukan perjalanan sesuai dengan jadwal tepat seperti yang dipimpin oleh Tuhan. Hal itu termasuk empat hari berdoa di Kiev, dan berakhir pada hari Jumat, 25 April 1986. Hari itu merupakan puncak dari misi doa syafaatnya. Dan sekarang saya lebih ingin tahu lagi dari sebelumnya untuk mendengar bagaimana Tuhan membimbing Mark untuk berdoa.

"Ya", kata Mark, sambil menyandarkan punggungnya pada kursi di kamar hotel kami, "Saya pergi ke alun-alun di tengah kota Kiev dan duduk di bawah patung besar dari Lenin. Setiap lima belas menit, saya mengubah fokus dari doa syafaat saya untuk orang-orang percaya di Rusia. Saya mengetahui bila lima belas menit telah berlalu, karena di alun-alun itu terdapat sebuah jam besar yang berdentang setiap seperempat jam." Saya bertanya kepada Mark apakah ia merasakan sesuatu yang tidak lazim selama berdoa. "Hanya pada akhirnya," jawab Mark. "Pada hari terakhir, yaitu pada hari di mana saya mengadakan kunjungan doa akhir saya ke alun-alun kota. Sesaat menjelang tengah hari, tiba-tiba saya yakin Tuhan telah mendengar dan bahkan pada saat itu sesuatu telah terjadi. Sesuatu yang akan mengguncangkan Uni Soviet. Sesuatu yang Tuhan pakai untuk membawa lebih banyak kebebasan." Dengan bersemangat Mark melanjutkan, "Saya mulai mengangkat suara saya dalam pujian, sambil duduk di sana di bawah patung dari pendiri Partai Komunis di Rusia. Tetapi pada saat yang sama, saya perlu mendapatkan suatu konfirmasi bahwa Tuhan mendengar saya. Jadi saya berseru kepada Dia, "Oh Tuhan, berikanlah sebuah tanda kepada saya, meskipun suatu tanda kecil saja." Saya menunggu sambil berpikir apa yang akan terjadi berikutnya.

Mark tertawa ketika ia meneruskan, "Dick, tahukah kamu, jam itu tidak berdentang. Setiap jam, setiap hari selama empat hari saya berdoa, jam itu berdentang setiap jamnya. Jadi saya menunggu ia berdentang dua belas kali tetapi ia tidak berbunyi. Sepertinya Tuhan ingin mengatakan bahwa pola lama itu sudah berlalu. Keesokan harinya saya mendengar tentang Chernobyl." Beberapa minggu kemudian setelah saya membaca banyak berita mengenai kejadian di Chernobyl, saya menemukan suatu berita yang luar biasa, yang menceritakan secara rinci mengenai kejadian-kejadian sekitar bencana itu. Para ahli menunjukkan bahwa kesalahan besar pertama terjadi dua belas jam sebelum terjadinya peleburan yang sesungguhnya. Kemungkinan hal ini terjadi dalam saat-saat di mana Mark menaikkan puji-pujian, ketika ia tahu di dalam rohnya, bahwa sedang terjadi hal-hal yang Tuhan akan ubah menjadi suatu berkat. Di kemudian hari, saya mendengar seorang penyiar televisi membicarakan mengenai dampak yang berkepanjangan sebagai akibat dari bencana Chernobyl. Ia berkata, "Chernobyl dalam bahasa Rusia artinya ulat kayu."

Bukankah menarik sekali jika 10 tahun lagi kita akan menemukan, bahwa sistem Soviet yang sewenang-wenang telah hilang dari peredaran, dan digantikan dengan suatu sistem masyarakat yang lebih terbuka dan perubahan ini adalah hasil dari suatu kesalahan kecil dalam suatu pabrik nuklir, di sebuah kota kecil masyarakat Ukraina yang bernama Chernobyl?" Sepertinya glasnost telah mengambil alih lebih cepat daripada yang diperkirakan orang, membuka pintu-pintu di mana sebelumnya Injil dilarang. Hanya dua tahun setelah Chernobyl, peraturan-peraturan baru sedang disiapkan, yang mengakibatkan sejumlah besar pejabat Soviet mengundurkan diri dari kekuasaan. Tidak lain Wakil Menteri Kehakiman Soviet Mikhail P. Vyshinsky berkata, "Sebuah revolusi telah terjadi di sini. Tidak semua orang menyadari ini, tetapi itulah yang terjadi -- sebuah revolusi."

Pada Konferensi Umum dari semua pemimpin partai yang bersejarah itu, yang pertama kali terjadi dalam kurun waktu 47 tahun, pemimpin Soviet, Mikhail Gorbachev, membuat serangkaian pernyataan mengenai perubahan-perubahan yang akan datang. Di antaranya adalah suatu seruan untuk toleransi baru terhadap berbagai agama di Uni Soviet -- meskipun, paham Komunis itu pada dasarnya atheis, dan bila berurusan dengan perubahan-perubahan yang berarti, maka hal ini harus menjadi bahan pertimbangan. Pendoa-pendoa syafaat seperti Mark tidak heran bila jawaban doa itu datang. Sesungguhnya, saya yakin bahwa bila kita berdiri di hadapan Tuhan dengan membawa catatan keberhasilan dan kegagalan rohani, kita akan belajar bahwa doa syafaat lebih banyak membawa perubahan-perubahan yang positif, daripada kegiatan rohani lain yang mana pun di dunia kita ini. Dengan singkat, pendoa syafaat memegang kunci untuk melepaskan hal-hal yang paling baik dari Tuhan bagi dunia ini.

Ini adalah prinsip-prinsip yang merupakan hasil dari beribu-ribu jam, yang diluangkan untuk berdoa selama bertahun-tahun, dalam sebuah kapel kecil yang dibangun oleh istri saya, Dee, dan saya sendiri di halaman belakang rumah kami. Tempat ini merupakan sebuah gubuk kecil tempat menyimpan perkakas, yang kami ubah menjadi suatu tempat yang unik untuk berdoa, lengkap dengan dinding dilapis kayu dan permadani yang sangat tebal. Di dinding tergantung peta dan benda-benda lain, yang menolong mengingatkan kami untuk berdoa bagi dunia yang terhilang. Di sana kami berdoa setiap hari (artinya setiap hari bila kami berada di rumah) untuk kedua putri kami, Dena dan Ginger; untuk pekerjaan, gereja, dan bangsa kami; untuk bangsa-bangsa lain; untuk keadaan ekonomi kami; untuk pribadi-pribadi yang membutuhkan; untuk hamba-hamba Tuhan yang membutuhkan. Dan daftar itu berlanjut terus.

Kita Adalah Hasil Doa Syafaat

Saya adalah hasil doa syafaat, demikian pula kita semua yang mengenal Kristus sebagai Juru Selamat pribadi. Pertama-tama, kita adalah pengikut Yesus yang sudah lahir baru karena Pendoa Syafaat kekal kita, Kristus sendiri, telah mengorbankan hidup-Nya di atas kayu salib sebagai "perantara" -- atau pendoa syafaat -- hampir dua puluh abad yang lalu. Kita adalah orang percaya yang lahir baru karena pendoa-pendoa syafaat yang lain, bahkan beberapa orang mungkin tidak mengenal kita, dan telah menjamah hidup kita selang suatu waktu tertentu, serta mematahkan kuasa kegelapan roh jahat yang ada di sekeliling kita, yang kemungkinan menahan kita untuk mengenal Kristus secara utuh. Pendoa syafaat yang utama dalam hidup saya adalah ibu saya. Ketika saya masih sebagai seorang remaja yang memberontak, yang dalam usia empat belas tahun terlibat dalam pencurian dan perampokan, ibu saya melawan kuasa kegelapan yang memperbudak saya, dan berdoa supaya terang Yesus Kristus menerangi hati saya.

Saya ingat suatu hari tertentu saat doa-doa ibu saya sepertinya menangkap saya. Mike yang merupakan teman saya dalam melakukan kejahatan, sedang menelepon dan mengajak saya berenang di kolam renang besar di mana kami tinggal. Kami telah membuat sebuah rencana, Mike dan saya, dan yang akan menjadi sasaran kami adalah daerah yang luas di mana para perenang menaruh handuk, tas pantai, bahkan dompet mereka. Pada waktu para perenang masuk ke dalam air, kami akan berjalan dengan santai, kemudian memilih handuk dan dompet yang digeletakkan begitu saja dan meletakkan selimut kami di atasnya. Setelah bermain lempar-lemparan bola untuk beberapa menit, kami akan mengambil selimut kami -- dengan dompet yang sekarang berada di bawah selimut -- dan dengan wajah yang tak bersalah pergi meninggalkan tempat itu. Namun pada hari Minggu itu, ketika Mike menelpon saya, sesuatu terjadi pada diri saya. Bukan saja saya mengatakan tidak kepadanya, saya berkata kepadanya saya tidak akan melakukan hal yang seperti itu lagi. Saya tidak bisa menjelaskan mengapa. Saya hanya bisa mengatakan kepada dia bahwa hidup saya telah berubah.

Mike memutuskan untuk pergi sendiri hari itu; dan tanpa sepengetahuannya, seseorang yang sedang duduk di atas bukit dekat kolam renang, memerhatikan apa yang sedang dilakukannya dan memberi tahu kepada polisi. Mike ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara. Karena hari itu hari Minggu, saya pergi ke gereja malam harinya. Tuhan mulai menjawab doa-doa ibu saya. Sesungguhnya, saya yakin bahwa ketika kita berdiri di hadapan Tuhan dalam persiapan untuk pemerintahan kekal kita bersama Kristus, kita akan menemukan bahwa setiap jiwa yang pernah dibawa kepada pengenalan akan Kristus sedikit banyak ada hubungannya dengan doa syafaat. Keselamatan kita bukan hanya ada hubungannya dengan kuasa doa syafaat, tetapi semua yang Tuhan lakukan di dalam dan melalui Orang secara terus menerus, dipengaruhi oleh kuasa doa syafaat tersebut. Sesungguhnya, pada waktu kita mengembangkan pelayanan doa syafaat, Tuhan ingin melahirkan melalui kita hal-hal yang lebih besar dari apa yang kita lihat selama ini.

Diambil dari:

Judul asli buku : Love on Its Kness
Judul buku : Kasih yang Bertumpu pada Lutut
Judul asli artikel : Doa Syafaat: Suatu Gaya Hidup
Penulis : Dick Eastman
Penerjemah : Liana Kosasih
Penerbit : Nafiri Gabriel, Jakarta 2000
Halaman : 13 -- 19

Komentar