Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Doa

Loading

Kebesaran Keagungan Tuhan

"TUHAN adalah Raja, Ia berpakaian kemegahan, TUHAN berpakaian, berikat pinggang kekuatan. Sungguh, telah tegak dunia, tidak bergoyang." (Mazmur 93:1)

Sebelum berdoa, sebaiknya kita merenungkan Dia yang menjadi sasaran doa kita. Biarlah pikiran kita terarah kepada Tuhan yang hidup dan benar. Biarlah kita mengingat bahwa Dia Mahakuasa, sehingga kita akan meminta hal-hal yang besar. Biarlah kita mengingat bahwa Dia begitu lembut dan penuh kasih sayang, sehingga kita akan meminta pula hal-hal yang kecil dan melaporkan semuanya dalam doa permohonan. Biarlah kita mengingat kebesaran perjanjian-Nya, sehingga kita akan menghampiri-Nya dengan berani.

Biarlah juga kita mengingat bahwa kesetiaan-Nya laksana gunung-gunung yang besar dan janji-Nya untuk setiap benih doa selalu pasti. Dengan demikian, kita dapat menaikkan permohonan dengan yakin, karena Dia akan melakukan seperti yang telah dikatakan-Nya. Biarlah jiwa kita diisi dengan gambaran tentang kebesaran keagungan-Nya, sehingga kita akan dipenuhi oleh kekaguman. Dengan kebesaran kasih-Nya, kita akan dipenuhi dengan kegembiraan. Kita tidak dapat berdoa dengan lebih baik, jika kita tidak lebih banyak merenung sebelum berdoa kepada Tuhan.

Kemudian, biarlah kita merenungkan cara doa kita dipanjatkan; biarlah jiwa kita melihat darah yang terpancar dari takhta kasih karunia. Sebelum kita datang menghampiri Tuhan, biarlah kita pergi ke Getsemani dan melihat Sang Juru Selamat yang sedang berdoa. Biarlah kita berdiri dalam pandangan yang kudus di kaki Kalvari, dan melihat tubuh-Nya terkoyak, sehingga selubung yang memisahkan jiwa kita dari semua jalan kepada Allah ikut terkoyak juga. Dan kita dapat datang mendekat kepada Bapa.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul asli buku : Quiet Times With Charles Spurgeon
Judul buku terjemahan : Waktu Teduh Bersama Charles Spurgeon
Judul artikel : Kebesaran Keagungan Tuhan
Penulis : Charles Spurgeon
Penerjemah : Haniel Eko N
Penerbit : Gloria Graffa, Yogyakarta 2004
Halaman : 22

Komentar