Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Doa

Loading

Kehidupan Pribadi Prajurit Kristus yang Berdoa

Rencana Allah Memakai Manusia

Fakta Alkitab menunjukkan bahwa Allah bekerja melalui manusia. Will Houghton berkata, "Allah menulis sejarah dengan istilah manusiawi." Cerita Kitab Kejadian berkisar pada delapan orang. Alkitab menampilkan epik dan kurun sejarah, namun yang menjadi pusatnya adalah manusia. "Umumnya, manusialah yang menjadi kunci zamannya", kata R.A. Torrey. Memang benar, oranglah yang dipakai Allah sebagai pelaksana maksud-Nya di dunia ini. Augustinus menambahkan, "Tanpa Allah, kita tak mampu. Tanpa kita, Allah tidak mau."

Pikiran ini dilukiskan jelas ketika kita menghadiri kebaktian di gereja. Bagaimanakah Allah mencapai orang-orang terhilang dalam kebaktian? Apakah dengan bangku? Dengan lampu atau mimbar? Tidak. Cara Allah ialah dengan memakai orang. Jarang sekali Allah memakai barang-barang. Rencana-Nya berpusat pada seorang manusia. Setelah kita bertumbuh rohani, kita baru bisa berdoa sesuai dengan keinginan Tuhan. Di bawah ini dicantumkan hal-hal yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan rohani yang kuat, serta perkembangan pribadi yang berarti.

1. Perlunya Penyerahan Penuh.

Hal terpenting untuk memperbaiki diri adalah penyerahan penuh. Pada dasarnya ini sesuai dengan prinsip alkitabiah. Leonard Ravenhill menyatakan, "Banyak kesukaran kita jumpai dalam penginjilan dunia. Namun, kesulitan-kesulitan itu menyebabkan orang menjadi lebih ulet. Harganya mahal." M. Francois Coillard menambahkan, "Haruslah kita ingat bahwa Yesus menyelamatkan dunia bukan dengan jalan menjadi perantara dalam kemuliaan." Sebaliknya, Ia memberikan diri-Nya sendiri. Kita banyak berdoa untuk penginjilan dunia. Namun, doa-doa itu sangat bertentangan dengan yang diharapkan, selama kita hanya memberikan sisa-sisa saja bukannya mempersembahkan diri kita sendiri. Jadi, inilah titik mula kedewasaan. Kita haruslah seperti Yesus, karena Yesus Kristus menyerahkan diri sepenuhnya.

2. Perlunya Menerima Pengampunan.

Ada orang-orang Kristen yang sangat kurang mengenali maupun menghargai dirinya sendiri, sebab mereka tidak mau menerima pengampunan dari Allah. Mereka terus menderita secara rohani, karena merasa kurang layak mendatangi hadirat Allah yang Kudus sebagaimana adanya mereka. Seorang pengarang tidak dikenal pernah menuliskan, "orang-orang suci adalah orang yang membiarkan pengampunan Allah masuk sepenuh-penuhnya ke dalam hidup mereka, sehingga bukan hanya dosa disucikan, tetapi termasuk juga diri mereka yang sesungguhnya." Sekali lagi kita lihat proporsi kemauan mereka untuk sungguh-sungguh mengampuni orang lain, persis dengan tingkat pengampunan yang telah mereka terima. Di sini, kita melihat satu lagi kunci utama untuk perkembangan diri. Sangat perlu kita sadari bahwa Yesus Kristus mati di kayu salib untuk mengampuni dosa kita secara sempurna. Pengampunan ini komplet. Yesus sendiri mengatakan "sudah genap". Kita hanya dapat berkembang dengan sempurna bila kita mau menerima fakta ini.

3. Perlunya Disiplin.

Disiplin merupakan faktor utama dalam perkembangan diri. Kehidupan Kristen yang utuh kita hayati hanya bila kita patuh dan disiplin. Memang ada kebebasan dan semangat untuk melayani Tuhan. Namun, janganlah kita lupa segi lain, yaitu disiplin dan kepatuhan. Hope Mac Donald berkata, "Disiplin adalah kunci tunggal untuk membuka pintu hidup yang penuh sukacita dengan Kristus." Orang Kristen sebagai anak Allah, dapat menghayati betapa dalamnya perkembangan rohani seperti yang Kristus inginkan. Inilah syarat mutlaknya: mereka harus membenamkan diri di dalam firman Allah, khususnya Sabda Yesus Kristus perihal menjadi murid yang sejati.

4. Perlunya Menjaga Kesehatian Tubuh.

Hampir dapat dipastikan kita berfungsi sebaik-baiknya secara rohani, ketika kita dapat berfungsi dengan baik secara jasmani. Kita tidak dapat memerhatikan keperluan khusus untuk berdoa, bila pikiran kita terus terganggu oleh tubuh yang sakit. Memang, adakalanya Allah membiarkan penyakit dan penderitaan untuk membawa orang Kristen ke tingkat rohani yang lebih tinggi. Walaupun demikian, dalam kebanyakan hal, tubuh yang kurang sehat mungkin disebabkan kurangnya pemeliharaan di masa lalu. Yesus memperingatkan para murid-Nya untuk hal ini. Pada saat berbicara tentang peristiwa yang mengawali kedatangan-Nya kembali, Tuhan memperingatkan para murid agar "Jangan sarat oleh, pesta pora dan kemabukan, serta kepentingan duniawi (Lukas 21:34). Peringatan pertama dalam ayat itu mengenai pesta pora, termasuk makan terlalu banyak. Yesus menentang ini karena Ia tahu hal yang berlebihan, merintangi perkembangan diri orang percaya dalam bidang kesehatan.

5. Perlunya Menghargai Waktu.

Sejarah menunjukkan bahwa ada orang-orang yang berbuat banyak bagi Allah. Mereka sangat menyadari perlunya menggunakan waktu dengan bijaksana. Bagi mereka, setiap menit berharga, sebagai hadiah istimewa dari Allah. Hamba-hamba Tuhan seperti John Wesley dan George Whitefield, teliti sekali mengenai penggunaan waktu. Misalnya John Wesley, ia mulai kegiatan pukul 04.00 pagi dan selalu ia tepat waktu. Ia beristirahat malam pukul 22.00. Jika ada tamu pada saat itu, Wesley mengakhiri dengan berbicara sopan: "Nah, saudara-saudara, inilah saatnya semua orang sebaiknya berada di rumah." John Wesley tahu, kalau ia tak memerhatikan waktu malam itu, ia akan sangat terganggu besok paginya. Barangkali kesalahan terbesar yang dibuat orang Kristen dalam hal pemakaian waktu adalah mengubahnya menjadi karet. Haruslah kita pusatkan perhatian kepada hal terpenting untuk mencapai tujuan. Seorang Quaker [Kelompok orang Kristen saleh di Inggris, Red.] yang bijaksana, Thomas Kelly menyimpulkan "Kita tak dapat mati di atas setiap salib."

6. Perlunya Pikiran yang Diperbaharui.

Kita tidak boleh meremehkan kekuatan "berpikir sehat". Ini perlu dalam perkembangan diri. Dalam pokok pembicaraan ini disinggung betapa kita harus "menyaring" apa yang masuk ke dalam pikiran kita. Dalam Perjanjian Baru, kata bertobat bermakna harfiah sebagai "memiliki pikiran yang berbeda". Berpikir positif menghasilkan pertumbuhan diri pribadi, sedangkan berpikir negatif menghalangi kedewasaan rohani. Norman Vincent Peale memberi nasihat, "Setiap orang waras pernah memikirkan dan menyadari hal ini: Benarlah kata para dokter bahwa sikap negatif, kebencian, gerutu, maksud buruk, kecemburuan, dendam kesumat menyebabkan kesehatan memburuk. Serangkaian kemarahan menyebabkan rasa perih dalam perut yang mengarah ke penyakit perut. Reaksi-reaksi kimia tertentu dalam tubuh ditimbulkan oleh cetusan emosi yang menghasilkan rasa kurang sehat. Bila hal ini terjadi terus-menerus sepanjang waktu tertentu, maka kondisi tubuh secara umum akan semakin memburuk.

7. Perlunya Roh yang Benar.

Ini sebuah teka-teki: dari segi duniawi, kita melihat dari Alkitab bahwa Allah memilih orang berumur 80 tahun memimpin puluhan ribu orang menyeberangi padang tandus ke tanah perjanjian. Tepatnya mengapa Allah memilih Musa yang tua itu menjalankan tugas itu. Jawabannya dilukiskan dalam Bilangan 12:3. Digambarkan "Musa seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang ada di atas muka bumi". Di antara orang-orang itu, Musa memiliki hati yang lembut, oleh sebab itu Allah memilih dia memikul tanggung jawab besar. Memang Musa menulis lebih banyak halaman Alkitab dibandingkan dengan siapa saja, termasuk Paulus. Tak sukar mencari sebab mengapa ia dipilih. Musa dapat diandalkan untuk mendengar dan mematuhi Allah. Seorang yang memiliki "roh yang benar" selalu rela mendengarkan.

Daniel memiliki sikap hati yang sama. Ia itu ditinggikan melebihi semua raja-raja dan pemimpin-pemimpin di Babilonia. Bukan itu saja yang Alkitab sebutkan, tetapi dinyatakan juga mengapa Daniel menerima peningkatan itu. Mungkin ada orang berpendapat, itu karena Daniel selalu berdoa, tetapi penjelasan lengkap dari firman Allah bukan hanya demikian. Dengan sederhana Alkitab berkata, "Maka Daniel ini melebihi para pejabat tinggi dan para wakil raja itu karena ia memunyai roh yang luar biasa." (Daniel 6:43)

Perkembangan diri dalam semua segi sangat penting bila kita mau dipakai oleh Allah. Orang yang tidak rela memperkembangkan suatu "roh yang luar biasa" tak mungkin akan pernah bertumbuh dengan sempurna.

Sumber asli: "Pedoman Doa yang Mengubah Dunia"
Penerbit: Yayasan Literatur Kristen Indonesia

Diambil dari:

Judul majalah : Sahabat Gembala, Edisi Agustus/September 1991, Tahun XIII
Judul Artikel : Kehidupan Pribadi Prajurit Kristus yang Berdoa
Penulis : Tidak Dicantumkan
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup -- Gereja Kemah Injil Indonesia, Bandung
Halaman : 37 -- 40

Komentar