Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Doa

Korban Bakaran

Seluruh kota Jos, Nigeria, rusuh pada hari Jumat, 28 November 2008. Orang-orang "agama lain" mengamuk di setiap sudut kota, membunuh orang-orang Kristen dan membumihanguskan rumah-rumah mereka. Segerombolan penyerang membakar gereja pendeta J dan gedung-gedung sekitarnya, termasuk rumahnya. Enam orang pendeta dan 500 orang percaya terbunuh dan 40 gedung gereja dihancurkan. Kerusuhan ini berlanjut hingga keesokan harinya.

Walaupun ia kehilangan rumahnya dan segala yang ia miliki, pendeta J tidak meninggalkan lingkungan itu. Ia masih tinggal di atas tanah (pastori) di mana gedung gerejanya terbakar. Walaupun tetangga-tetangga "agama lain" secara rutin memberi hadiah bagi siapa pun yang dapat membunuh pendeta-pendeta seperti dirinya, tetapi pendeta J tidak meninggalkan jemaatnya. Ia masih terus mengadakan ibadah di Sarkin Mangu. Tetangganya masih orang-orang "agama lain" yang sama, yang menghancurkan rumahnya. Menara "tempat ibadah" masih mengarah ke kompleks gereja. Kemalangan tidak membuatnya ciut dalam ketakutan. Malahan, seperti ribuan orang Kristen yang tinggal di wilayah Utara Nigeria, ia berdiri teguh, menanggung kemalangan berkali-kali hanya demi Kristus. Walaupun mengalami ketakutan, orang-orang Nigeria mempersembahkan korban penyembahan.

Penganiayaan Tidak Dapat Dihindarkan

Nigeria adalah rumah bagi salah satu populasi "agama lain" terbesar di dunia. Walaupun jumlah penganut agama terbagi dua antara Kristen dan "agama lain"; Nigeria bagian utara merupakan wilayah dengan jumlah pemeluk "agama lain" lebih tinggi. "Agama lain" di Utara berkeinginan untuk mendapatkan kendali politik, memberlakukan hukum agama, dan membersihkan wilayah itu dari orang-orang di luar agama mereka. Karena alasan tersebut, setiap pengikut Kristus di Nigeria bagian Utara terus-menerus mengalami kekerasan keagamaan.

Pada tahun 2000, ketika 12 negara bagian di Utara Nigeria mengadopsi hukum agama, ketegangan antara orang-orang "agama lain" dan Kristen meledak. Protes oleh orang-orang Kristen yang tinggal di bawah hukum agama di Kaduna memercik api kerusuhan. Lebih dari 2000 orang Kristen terbunuh dalam dua hari selama kerusuhan agama terburuk dalam sejarah Nigeria.

Sembilan tahun penyerangan berulang-ulang telah memaksa orang-orang Kristen di bagian Utara Nigeria menerima penganiayaan. Meskipun demikian, mereka tidak mengungsi. Mereka membaca Alkitab dan tahu bahwa orang-orang Kristen akan mengalami penderitaan (Yohanes 16:2). Mereka tahu bahwa Allah menggunakan kesukaran untuk memurnikan mereka. Malahan, berada di bawah tekanan terus-menerus, mereka makin sungguh-sungguh dalam Tuhan. Tubuh Kristus di bagian Utara Nigeria kuat dan indah karena ketahanan mereka.

"Kami butuh dorongan semangat karena penganiayaan tidak dapat dihindari," kata AS pada kami. Kedua lengannya terkoyak oleh ledakan bom saat terjadinya kerusuhan Jos tahun 2008. Kitab Ibrani pasal 6 mengingatkan dia untuk tetap tabah, sementara kitab Yohanes pasal 15 menguatkan dia untuk menjadi sebuah cabang yang berbuah, saat dicangkokkan pada pohon Yesus Kristus. AS adalah salah satu dari ratusan orang Kristen Nigeria yang tetap setia selama menderita.

Kami Memerhatikan Para Janda

Selama kerusuhan agama pada 22 Februari 2000, di Kaduna, Nigeria, HG kehilangan suaminya, A. Tubuh suaminya dibakar dan dibuang dalam lubang kuburan masal, sebelum pihak keluarga mengidentifikasi mayat suaminya. Berita kematian itu benar-benar berpengaruh pada anak perempuannya yang berusia 23 tahun, J. Trauma mengakibatkan sesuatu di dalam otaknya terganggu. Setelah kematian ayahnya, ia pergi dari rumah tanpa tujuan selama dua hari, sebelum ibunya yang sudah menjadi janda menemukannya.

Sembilan tahun kemudian, J masih mengalami masalah pada kejiwaannya. Ia berperilaku kasar, bahkan memukul ibunya sendiri. Jika tidak ada yang mengawasinya, ia sering kali menghilang selama beberapa hari. Keluarganya tidak tahu apa yang terjadi pada J ketika ia pergi dari rumah. Beberapa hari yang lalu, seseorang yang tidak dikenal memerkosanya.

HG tidak dapat meninggalkan J sendirian. Ia juga telah berjuang untuk menghidupi keluarga ini. HG telah mendapatkan pertolongan. Sebuah organisasi Kristen telah memindahkan HG dan keluarganya dari sebuah rumah tanah liat, menuju rumah baru yang bersih, lengkap dengan perabotan yang baru. Mereka juga memberinya modal usaha, yang ia gunakan untuk membuat toko kecil untuk berjualan beras, serta menolong J untuk mendapatkan bantuan pengobatan.

HG mengatakan bahwa kematian suaminya dan permasalahan anak perempuannya mengguncang imannya. Tetapi sekarang, ia memperoleh kekuatan baru untuk terus melayani Tuhan karena saudara seiman telah menolongnya. Ia dikuatkan oleh Mazmur 23 dan Mazmur 40 yang berkata, "Aku sangat menanti-nantikan TUHAN; lalu Ia menjenguk kepadaku dan mendengar teriakku minta tolong... Ia memberikan nyanyian baru dalam mulutku untuk memuji Allah kita."

Ketabahan Menjalani Penderitaan

Suatu pola berpikir berdoa, mengampuni, dan kasih adalah alat yang orang-orang Kristen Nigeria gunakan untuk menolong mereka mengatasi orang-orang yang membenci mereka. Mereka membutuhkan kelimpahan anugerah karena penganiayaan yang tidak berbelas kasihan terhadap orang-orang Kristen di Nigeria bagian Utara, tidak menunjukkan tanda-tanda penurunan. Pada Februari 2009, kerusuhan yang dimulai oleh kelompok "agama lain" menyebabkan sembilan orang Kristen tewas, sembilan gedung gereja terbakar, dan lebih dari 300 orang kehilangan tempat tinggal di Bauchi, negara bagian Utara Nigeria.

Kekerasan di Bauchi menyebabkan surat kabar setempat memublikasikan berita apa yang mereka sebut "Pembunuhan dalam Nama 'allah'" dan mendorong saudara sebangsa untuk bertindak melawan kekerasan anti Kristen. Bahkan tanpa dukungan pemerintah atau tetangga mereka, ribuan pengikut Kristus yang setia terus tinggal di antara mayoritas populasi "agama lain" di bagian Utara Nigeria, dan mereka menolak untuk menyembunyikan iman mereka. Para pemimpin gereja mempersiapkan mereka untuk menjalani penderitaan yang tidak terhindarkan, dengan tujuan mengajar mereka apa yang Alkitab katakan tentang penganiayaan. Dengan kesabaran, kesetiaan, dan keberanian saudara seiman kita di Nigeria memiliki iman yang tak tergoyahkan kepada Kristus.

Tuhan Tidak Melupakan Kami

HM terbangun lebih awal di pagi itu, Selasa, 22 Februari 2000, karena suara para tetangga "agama lain" memanggil namanya. "HM! Kami ingin kamu tahu bahwa hari ini kamu dan anak-anakmu akan dibunuh," teriak mereka. Mereka mulai melemparkan batu dan membakar ban-ban bekas di rumah susun, di mana ia dan anak-anaknya tinggal.

Ada sekitar 30 keluarga tinggal di gedung itu, semuanya orang Kristen. Menjelang siang, mereka sudah tidak mampu lagi mempertahankan diri melawan senjata api dan belati. Sebanyak 22 orang tewas, termasuk suami dan 4 orang anaknya. Para penyerang membuang tubuh mereka ke dalam sumur dan membakar gedung. HM dan 2 orang anaknya berhasil meloloskan diri, walaupun ia terluka parah akibat sayatan parang, lebam, dan luka bakar. HM kehilangan segalanya yang ia miliki dalam kebakaran itu, termasuk Alkitabnya.

"Aku merasa seperti membunuh diriku sendiri, seperti terasingkan. Aku merasa sepertinya orang-orang yang datang mengunjungiku mau mengolok-olokku atas musibah yang aku alami," kata HM. Selama beberapa bulan, ia sulit sekali makan. Ia terkena penyakit kudis karena kurangnya kebersihan.

Salah satu organisasi Kristen yang melayani di Nigeria memberikan kepadanya Alkitab baru. Sekitar enam bulan setelah kerusuhan, ia membaca Yesaya 25:8, "Ia akan meniadakan maut untuk seterusnya; dan Tuhan ALLAH akan menghapuskan air mata dari pada segala muka; dan aib umat-Nya akan dijauhkan-Nya dari seluruh bumi, sebab TUHAN telah mengatakannya." Ayat ini memberikan kepadanya kekuatan baru untuk kembali bersemangat dalam hidup. Ia berpikir, "Tuhan tidak melupakan umat-Nya."

Sembilan tahun kemudian, semangat HM terpancar dari wajahnya. Dua orang anaknya, bersama 250 anak lainnya dari keluarga teraniaya, sekarang bersekolah di Stephen Center International, sekolah yang disponsori oleh organisasi Kristen. Ia juga menerima sebuah mesin penggiling padi, yang ia gunakan untuk usahanya. Ia memunyai sebuah toko di mana ia menjual semua jenis beras dan kebutuhan sehari-hari.

Diambil dan disunting dari:

Judul buletin : Kasih Dalam Perbuatan (KDP), Edisi September - Oktober 2009
Penulis : Tidak dicantumkan
Penerbit : Yayasan Kasih Dalam Perbuatan, Surabaya
Halaman : 3 -- 4 dan 6 -- 8

Komentar