Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Doa

Loading

Kreasi Doa yang Menarik

Bagian yang paling menakutkan anak, yaitu bila ia diminta untuk maju berdoa di depan kelas. Acara yang paling membosankan anak adalah jika doa terlalu panjang. Sekarang, bagaimanakah mengubah persepsi doa yang kurang menarik ini mejadi bagian yang diminati anak?

  1. Guru Membisikkan Doa pada Satu Anak
    Mintalah satu anak untuk maju ke depan kelas. Ia akan mengatakan dengan suara keras apa yang dibisikkan guru. Kemudian, teman yang lain akan menirukan apa yang diucapkannya. Jika satu anak sudah mahir, ia tidak perlu lagi dibisiki. Mintalah dia untuk langsung mendikte teman-temannya. Usaha ini sebagai batu loncatan agar anak-anak tidak takut untuk maju dan berdoa. Mereka akan merasa "aman" jika dipanggil untuk berdoa, sebab merasa yakin bahwa guru mereka akan menolong mereka berdoa.

  2. Dengan Teks Lagu
    Dalam sikap doa: Satu anak membacakan setiap baris kalimat suatu lagu, dan anak-anak lain menirukannya. Demikian seterusnya, hingga lagu tersebut selesai diucapkan dan ditutup dengan kata "Amin". Pilihlah lagu yang bertema doa, seperti: "Kusiapkan Hatiku Tuhan", "Bapa Surgawi", "Bapa Terima Kasih", dll.. Teknik ini akan memudahkan dan sangat menolong anak yang sedang belajar berdoa. Jika ia sudah hafal suatu teks lagu, ia boleh langsung memimpin doa tanpa teks.

  3. Sikap Doa
    Variasikan sikap berdoa, misal: dengan berlutut, dengan saling berpegangan tangan, atau dengan kedua tangan diangkat terbuka. Dengan pengajaran ini, anak diajar bahwa doa yang sungguh-sungguh sangat disukai Tuhan.

  4. Doa Berantai
    Anak diminta mendoakan teman yang duduk di sebelah kanannya. Satu anak cukup mendoakan satu anak lain di sebelah kanannya. Doa ini boleh dilakukan tanpa suara (dalam hati). Sesekali boleh dicoba dengan bersuara. Sebelum berdoa, anak yang akan didoakan harus ditanya dulu ia mau didoakan apa. Dengan demikian, anak diajar mendoakan orang lain. Rasa persaudaraan akan semakin kuat dengan saling mendoakan satu sama lain.

  5. Doa Satu Kalimat
    Mintalah beberapa anak pada saat doa mengucapkan satu kalimat pengucapan syukur dengan suara keras, misal:

    • "Tuhan Engkau sangat baik bagiku."
    • "Tuhan, terima kasih untuk makanan hari ini."
    • "Tuhan, terima kasih untuk cuaca yang cerah ini."
    • dan lain sebagainya.

    Pada percobaan pertama, anak bisa diberi panduan dengan secarik kertas yang berisi contoh-contoh kalimat pengucapan syukur. Sesudah mahir, contoh-contoh tersebut tidak perlu digunakan lagi.

    Metode ini melatih anak-anak untuk berani berdoa walau hanya satu kalimat. Jika sudah mulai terbiasa, anak-anak bebas mengucapkan satu kalimat atau lebih. Dalam praktik, cara ini paling efektif untuk mengajarkan berdoa kepada anak-anak. Cobalah setiap minggu, dan dalam enam bulan Anda akan terkejut karena semua anak SM Anda sekarang siap berdoa kapan saja. Tentu saja, agar tidak membosankan, setiap minggu harus punya tema doa yang berbeda.

  6. Doa Tematis
    Pilih satu topik tema yang selalu berbeda setiap minggunya, terutama saat doa syafaat. Jangan ingin mendoakan apa saja (banyak tema), sebab doa tersebut akan menjadi sangat panjang. Banyak tema bisa dipakai, misal:

    • Keluarga: ayah, ibu, kakek, nenek, kakak, adik, tante, dll.
    • Sekolah: guru, teman kelas, pelajaran
    • Teman-teman: di rumah, yang sakit, yang berduka
    • Pemerintah: Presiden, menteri, RT, RW
    • Korban suatu bencana
    • Gereja: pendeta, guru SM, penginjilan
    • Sekolah Minggu: cuaca, teman-teman yang absen
    • dll..
  7. Menghafal Teks Doa
    Dengan menghafalkan sebuah doa dan mengucapkan bersama-sama, juga akan melatih anak berdoa. Setelah mahir, doa ini diganti dengan teks doa yang lain. Anda bisa membuat sendiri teks doa makan, doa sebelum tidur, dan sebagainya.

    Namun harus dijelaskan bahwa mengucapkan hafalan saja bukanlah sebuah doa, melainkan harus diucapkan dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan. Pada saat berdoa janganlah monolog (guru berdoa, anak pasif, atau diam saja.) Ingat, pada masa Sekolah Minggu anak sedang belajar dan dididik agar kelak di kemudian hari dapat mandiri. Jadi, kekurangan atau ketidakmampuan anak dalam berdoa justru merupakan tantangan bagi seorang guru untuk mengajarkannya.

Sumber

Judul Buku : Mengajar Sekolah Minggu yang Kreatif
Pengarang : Paulus Lie
Halaman : 14 - 17
Penerbit : Yayasan Andi
Kota : Yogyakarta
Tahun : 1997

http://pepak.sabda.org/kreasi_doa_yang_menarik

Komentar