Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Doa

Loading

Mengucapkan Doa -- Atau Berdoa?

Kita semua adalah guru bagi anak-anak. Mereka mengamati kita, meniru kita, dan belajar dari kita. Pendekatan yang kita gunakan untuk mengajar akan sangat menentukan hasil dari proses belajar mengajar itu. Bagaimana kita dapat menentukan pendekatan apa yang akan kita gunakan? Hal itu berasal dari pemahaman kita terhadap konsep-konsep dasar yang melandasi cara kita mengajar.

BAGAIMANA PEMAHAMAN MENENTUKAN PENDEKATAN YANG KITA GUNAKAN

Singkatnya: siapa diri kita, apa yang kita yakini, dan bagaimana kita memahami kehidupan akan menentukan cara pendekatan yang kita gunakan dalam mengajar anak-anak kita untuk berdoa (di atas segalanya) dan pendekatan itu akan menentukan hasilnya.

Pemahaman Kita tentang Masa Kanak-kanak

Contoh bagaimana pemahaman memengaruhi pendekatan yang kita gunakan, salah satunya berhubungan dengan masa kanak-kanak yang diisi dengan permainan. Kebanyakan orang tua/guru percaya bahwa anak-anak memerlukan keseimbangan antara masa bermain dan tanggung jawab yang semakin lama semakin besar. Oleh karena itu, kita berusaha untuk memberikan keduanya. Kadang-kadang kita memberitahukan anak-anak, "Nikmatilah masa kanak-kanak selagi kamu bisa." Ini berarti, masa kanak-kanak seharusnya menjadi masa yang menyenangkan dan terbebas dari kekhawatiran dan tanggung jawab. Pada saat yang sama, kita bermaksud mengatakan bahwa masa dewasa selalu dibebani dengan tanggung jawab, kekhawatiran, dan masalah. Apabila kita menerima kenyataan ini, memahami bahwa memang demikianlah adanya, dan menerapkan hal itu sehubungan dengan peran kita sebagai orang tua, kita akan mendapati bahwa mungkin kita membesarkan anak-anak yang tidak ingin tumbuh dewasa, tidak suka bila dibebani tanggung jawab, dan menjadi orang dewasa yang hanya suka berhura-hura.

Saya percaya bahwa Allah ingin agar manusia menikmati masa kanak-kanak dan juga masa dewasa. Ia ingin agar anak-anak belajar bertanggung jawab sedini mungkin dan secara bertahap tanggung jawab tersebut semakin bertambah apabila mereka berhasil menerapkannya dalam hidup mereka. Masa kanak-kanak tidak perlu senantiasa diisi dengan kesenangan dan permainan, namun juga tidak harus selalu diisi dengan kerja, latihan, dan pekerjaan yang membosankan. Masa kanak-kanak seharusnya diisi dengan proses belajar secara bertahap -- kita belajar untuk menjalani hidup yang seimbang, bertanggung jawab, namun tetap menyenangkan dan menggembirakan. Dan proses itu tidak akan pernah berhenti. Kita akan terus mengalaminya sepanjang hayat kita.

Dampak dari Mengajar Anak-anak untuk Berdoa

Jika kita menganut filosofi ini, pendekatan yang kita gunakan untuk mengajar anak-anak berdoa akan menjadi seimbang. Kita tidak mungkin mengatakan, "Biarkan mereka menikmati masa kanak-kanak mereka. Mereka akan belajar berdoa apabila mereka besar nanti." Kita juga tidak akan mencoba mengubah anak-anak kita menjadi robot-robot yang senantiasa berdoa. Bukan begitu maksud Allah.

Anak-anak yang dibiarkan belajar berdoa setelah dewasa mungkin mengalami kesulitan untuk mengarahkan hidup mereka kepada Allah. Sedangkan anak-anak yang biasa sangat disiplin dan "dipaksa" untuk berdoa mungkin kehilangan kontak antara hati dan kehidupan doa mereka.

Proses belajar berdoa seharusnya bersifat alamiah. Sekali lagi, mereka diciptakan untuk berdoa. Doa-doa mereka bertumbuh secara perlahan pada saat mereka bertumbuh bersama Allah. Sama halnya dengan hubungan mana pun yang membutuhkan waktu untuk tumbuh, demikian pula hubungan mereka dengan Allah. Apabila kita memahami hal ini, pendekatan kita menjadi seimbang dan terus bertambah.

MEMAHAMI BAHWA ALLAH MENJAMIN SETIAP HUBUNGAN

Setelah kita mengerti pendekatan apa yang harus kita terapkan dalam mengajar anak-anak untuk berdoa, kita juga harus memahami teka-teki ini: dapatkah kita mengajar anak-anak kita untuk memiliki hubungan yang akrab dengan Allah? Bagaimanapun, hubungan merupakan masalah pribadi dan tidak dapat dibentuk dengan rumus-rumus dan prinsip-prinsip saja.

Jangan lupa bahwa ada mitra lain dalam hubungan ini, yaitu Allah, yang membuat segala sesuatu indah pada waktunya. Dapatkah kita mengajar anak-anak kita berdoa? Dapatkah kita membuat Allah menjawab doa anak-anak kita seperti yang kita inginkan? Jika ada keraguan di dalam hati kita, hal itu akan tercermin dalam pendekatan yang kita ambil dan juga membuyarkan usaha kita.

Kita tidak dapat sepenuhnya mengendalikan keinginan dan keputusan anak-anak kita, tentu saja kita tidak dapat menyuruh Allah untuk melakukan sesuatu. Namun demikian, Allah telah memberikan jaminan sehubungan dengan kerinduan-Nya untuk menjalin hubungan dengan anak-anak kita dan juga peranan kita dalam membantu terwujudnya hubungan tersebut. Ada empat alasan berkenaan dengan hal ini.

  1. Hubungan yang Berkesinambungan
    Sangatlah penting bahwa anak-anak kita menjalin hubungan yang bertumbuh dengan Allah. Memang, hubungan seperti itu merupakan bagian dari keinginan dan rencana Allah.

  2. Orang Tua sebagai Mitra
    Allah menciptakan orang tua dan memercayai mereka untuk menjamin pertumbuhan secara fisik, sosial, intelektual, dan spiritual bagi anak-anak mereka. Ia memberi kita tugas seperti ini bukan supaya kita menjalankannya dengan mengandalkan kebijaksanaan kita sendiri, melainkan untuk mengembangkan suatu kemitraan bersama dengan Dia. Kita dapat menyimpulkan bahwa Allah selalu mendukung kita untuk menjalankan tugas yang penting ini dan Ia senantiasa bersedia "dihubungi" bila perlu.

  3. Diciptakan untuk Bertumbuh
    Allah telah menetapkan pada saat Ia menciptakan anak-anak dan proses pertumbuhan bahwa pertumbuhan secara bertahap akan memberikan kekuatan. Tambahan lagi proses pertumbuhan di dalam Dia sejak masa kanak-kanak akan tertanam dan sesuai dengan jati diri kita yang sejati dan juga proses penciptaan kita. Di dalam kitab Amsal, Salomo berkata, "Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari jalan itu" (Ams. 22:6). Oleh karena itu, kita boleh merasa tenang karena dalam setiap langkah proses tersebut Allah sedang bekerja di dalam anak-anak kita dan membawa mereka lebih dekat kepada-Nya. Dan Ia telah menanamkan dalam diri anak-anak kita, kemampuan alami untuk bertumbuh dan mendengar suara-Nya.

  4. Kitab Suci adalah Sumber Segalanya
    Kita tahu bahwa Allah memberikan prinsip-prinsip, tips, dan pedoman bagi kita untuk belajar berdoa dan mengembangkan hubungan dengan Dia di dalam Alkitab, sama seperti yang dilakukan-Nya dengan hubungan-hubungan lain, misalnya pernikahan. Allah tidak main-main dengan kita. Apabila Ia memberikan prinsip-prinsip dan perintah-perintah untuk menolong kita dan juga anak-anak kita agar kita mengenal Dia, itu berarti bahwa Ia juga memberikannya karena Ia berencana untuk memberikan jawaban. Ia ingin bekerja sama dengan kita, para pelayan anak-anak yang dikasihi-Nya.

Jika kita memahami empat prinsip ini dengan pikiran dan hati kita, pendekatan kita dalam mengajar anak-anak untuk berdoa akan mencerminkan hal tersebut. Apabila kita tahu bahwa proses dan hasil adalah kehendak dan rencana Allah, bahwa Ia sedang bekerja bersama-sama kita untuk mencapai tujuan tersebut, iman kita akan semakin bertambah dan kita akan merasakan damai sejahtera. Sebagai orang tua kita akan menjadi pelatih-pelatih kelas dunia yang merasa yakin akan keberhasilan yang akan diraih anak-anak kita. Sebab kita tahu bahwa anak-anak kita memiliki potensi dan kita sebagai pelatih memiliki semua sumber daya yang kita perlukan. Keyakinan kita dalam proses tersebut, yang berasal dari pemahaman bahwa proses tersebut adalah kehendak dan rancangan Allah, akan mendatangkan kesabaran, iman, keajaiban, dan sukacita bagi kita. Pendekatan ini akan mendatangkan hasil yang alami dan berhasil: anak-anak yang mengasihi Allah, mengenal Dia, dan mempertahankan hubungan tersebut sebagai landasan bagi hal-hal lain di dalam kehidupan mereka. Dengan kata lain, pendekatan itu akan menghasilkan anak-anak yang tahu bagaimana cara berdoa.

JANGAN LUPA BAHWA DOA ADALAH SUATU KOMUNIKASI

Alasan lain bahwa pemahaman memengaruhi pendekatan yang kita terapkan dapat ditemukan pada pemahaman kita terhadap karakteristik doa. Jangan lupa, (1) doa merupakan unsur komunikasi dalam hubungan kita dengan Allah, dan (2) suatu hubungan dengan Allah harus menjadi landasan bagi segala sesuatu di dalam hidup mereka. Apabila kita mengerti dua kebenaran ini, pendekatan kita terhadap anak-anak kita akan mencerminkan hal tersebut, tidak hanya sebelum tidur dan sebelum makan, tapi juga di kala susah. Hubungan dengan Allah sebagai tujuan akhir merupakan fokus utama doa, bukan demi mendapatkan bermacam-macam hal yang kita inginkan.

Doa yang tulus dan percakapan yang jujur dengan Allah dalam proses mengajar adalah lebih penting daripada suatu rutinitas yang kita lakukan setiap malam sehingga kita boleh mengatakan bahwa kita telah berdoa. Selain itu, pertumbuhan pribadi di dalam Kristus menjadi sesuatu yang alamiah karena memiliki hubungan dengan Allah itu berarti kita menerima kebijaksanaan dari-Nya, menerima pengajaran, bimbingan, dan koreksi dari-Nya.

Bagian ini akan memuat beberapa prinsip utama dari pendekatan yang akan membantu Anda menyelesaikan tugas Anda dan membantu Anda dan anak Anda menikmati proses tersebut.

HAL-HAL YANG DAPAT DIDOAKAN

  1. Bersyukurlah kepada Allah karena Ia telah mengajarkan cara berdoa kepada Anda.

  2. Mintalah agar Allah memberikan ilham berupa ide-ide kreatif untuk mengajar anak-anak Anda berdoa.

Berikut ini adalah doa yang dapat diikuti oleh anak-anak layan kita:

"Allah Bapa, terima kasih karena Engkau mau mendengarkan saya. Tolonglah saya agar saya dapat mengenal-Mu lebih baik. Terima kasih karena Engkau mengasihi saya dan mau menjadi sahabat saya. Di dalam nama Yesus, amin."

Sumber :

Judul Buku : Cara Mengajar Anak Anda Berdoa
Pengarang : Rick Osborne
Halaman : 55 -- 61
Penerbit : Gospel Press
Kota : Batam Centre
Tahun : 2002

http://pepak.sabda.org/mengucapkan_doa_atau_berdoa

Komentar