Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Doa

Loading

Timotius

TIMOTIUS: KEPEMIMPINAN DAN KEIMAMAN KAUM PRIA

Timotius adalah pemimpin jemaat Efesus yang masih sangat belia. Menurut beberapa penafsir, saat itu Timotius masih remaja. John Stott memperkirakan Timotius berusia 20 tahun ketika ditarik Paulus menjadi hamba Tuhan. Wesley Brill mengatakan bahwa Timotius bertobat pada usia sekitar 15 tahun. Surat 1 Timotius ditulis Paulus setelah hamba Tuhan muda ini melayani selama 11 tahun.

Tampilnya Timotius muda sebagai seorang pemimpin merupakan salah satu bentuk penggenapan janji Tuhan yang disampaikan dalam khotbah Petrus pada hari Pentakosta dulu. Firman itu berbunyi demikian: "Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia; maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat, dan teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan...." (Kis. 2:17).

Paulus, yang saat itu sudah sangat senior, memilih Timotius atas dasar petunjuk dari Tuhan. Pelayanan Timotius adalah panggilan ilahi, bukan karena adanya kolusi dengan rasul kelas wahid itu. Paulus sendiri menyadari kekurangan Timotius karena kemudaannya (bnd. 2 Tim. 2:22), sifat inferiornya (1 Kor. 16:10-11), sifat penakutnya (2 Tim. 1:7), dan kelemahan fisiknya (1 Tim. 5:23). Meskipun demikian, Paulus memilih Timotius karena dialah yang diberi karunia oleh Tuhan (2 Tim. 1:6).

Hal itu mengingatkan kita pada figur Daud di masa silam. Di luar perhitungan Samuel, Daud yang masih muda dipilih Tuhan menjadi raja (1 Sam. 16:11-12). Raja Saul pun semula tidak merekomendasi Daud untuk maju ke medan perang guna melawan Goliat, karena ia masih muda (1 Sam. 17:33).

Meskipun masih muda, tugas kepemimpinan yang diemban Timotius tidaklah ringan. Tiga tugas utama Timotius adalah menghadapi ajaran sesat, mengelola ibadah, dan menetapkan para pemimpin jemaat. Paulus memberi beberapa persyaratan yang sangat ketat untuk jabatan penilik jemaat dan diakon (1 Tim. 3:1-13). Hal itu tentu saja mengandung konsekuensi bagi Timotius -- sebagai gembala utama -- untuk juga memenuhi kriteria ideal tersebut.

Tetapi, mengenai integritas Timotius, rupanya Paulus tidak menyangsikannya. Paulus berkata kepada Timotius: "Engkau telah mengikuti ajaranku, cara hidupku, pendirianku, imanku, kesabaranku, kasihku dan ketekunanku. Engkau telah ikut menderita penganiayaan dan sengsara seperti yang telah kuderita...." (2 Tim. 3:10).

Kehidupan Doanya

Spirit doa Timotius tumbuh dari kehidupan iman Kristen yang diwariskan oleh nenek dan ibunya. Menurut Paulus, kehidupan rohani Lois (neneknya) dan Eunike (ibunya) berpengaruh besar bagi pertumbuhan iman Timotius (2 Tim. 1:5). Dalam hal ini kita melihat bagaimana faktor keluarga mempengaruhi pertumbuhan rohani seseorang pemimpin masa depan.

Doa merupakan aktivitas rohani yang dapat dimiliki melalui proses belajar. Kita membutuhkan waktu untuk mempelajarinya dan memerlukan mentor untuk membantu proses belajar itu sendiri. Orangtua dan keluarga adalah guru terbaik yang dapat mengajarkan kehidupan doa kepada kita sejak dini.

Timotius sangat beruntung sebab ia mempunyai orangtua biologis (Lois dan Eunike) dan juga orangtua rohani (Paulus) yang sama-sama mendorongnya untuk berdoa. Paulus terus-menerus menyertakan Timotius dalam doa-doa pribadinya (2 Tim. 1:3-4). Paulus juga mendorong agar Timotius selalu mengobarkan karunia rohani yang sudah diberikan Tuhan kepadanya (2 Tim. 1:6).

Cara mengobarkan karunia rohani ada dua: berdoa dan berkarya. Dengan berdoa, Roh Kudus bekerja, mengurapi, dan menyalakan roh kita. Sedangkan berkarya nyata dalam pelayanan merupakan tindakan iman untuk menjalankan karunia tersebut. Bekerja saja tanpa berdoa berarti mengandalkan kekuatan sendiri, meskipun pekerjaan pelayanan itu merupakan karunia Tuhan.

Kehidupan doa Timotius juga berlandaskan pada iman bahwa Tuhan masih berbicara sampai hari ini (God speaks today). Paling tidak, Paulus menegaskan supaya Timotius percaya kepada nubuatan yang berasal dari Roh Kudus. Nubuatan itu pulalah yang mendasari panggilan pelayanannya.

Kehidupan doa Timotius pasti kuat karena ia bergaul karib dengan Paulus yang mempunyai roh doa yang hebat. Timotius mengikuti semua safari penginjilan Paulus, baik ke Tesalonika maupun ke Korintus (1Tes. 3:1-2; I Kor 4:17). Timotius juga pergi ke Yerusalem bersama Paulus (Kis. 20:1-5). Bersama ayah rohaninya itu pulalah Timotius menghadapi beberapa keadaan berbahaya di Roma (Flp.1:1; 2:1924; Kol.1:1).

Sangat penting bagi seorang pemimpin untuk bergaul karib dengan hamba Tuhan senior yang kuat dalam kehidupan doanya. Di samping akan memperoleh pengayoman rohani, semangat doa kita juga akan ikut terbakar karena pengaruh dan keteladanannya.

Pria Sejati

Pemimpin Kristen haruslah seorang pria sejati: kuat, berani, dan bukan penakut. Paulus menegaskan bahwa ketakutan itu bukan dari Tuhan (2 Tim. 1:7). Menghadapi para penguasa, janganlah lemah, tetapi justru tegar di dalam doa. Syafaat untuk mereka sangat penting supaya para penguasa itu diberi roh takut akan Tuhan dan mereka terbuka kepada Injil keselamatan. Doa seperti ini penting sebab Yesus menghendaki agar semua orang diselamatkan (1 Tim. 2:3-4).

Timotius juga diberi tugas oleh Paulus untuk membangkitkan kehidupan doa kaum pria Kristen di Efesus. Kata Paulus: "Aku ingin, supaya di mana-mana orang laki-laki berdoa dengan menadahkan tangan yang suci, tanpa marah dan tanpa perselisihan" (1 Tim. 2:8).

Setiap laki-laki -- apalagi yang pemimpin -- adalah imam bagi keluarganya, bagi istri dan anak-anaknya. Dalam tatanan keluarga Kristen, laki-laki adalah pemimpin yang memegang otoritas (Ef.5:23). Seorang suami tidak hanya harus bisa mengayomi dan menghidupi anak istrinya secara sosial ekonomi, tetapi juga secara rohani.

Surat pertama dari Paulus ini sering dijadikan perdebatan karena di sini Paulus melarang perempuan untuk mengajar, tetapi harus berdiam diri (1 Tim. 2:11-12). Sepintas lalu seperti mendiskriminasikan kaum Hawa, tetapi sebenarnya Paulus hanya ingin menekankan bahwa laki-laki adalah kepala keluarga yang harus benar-benar kuat. Dalam konteks Timotius, ia harus benar-benar menjadi pemimpin yang tegar.

Banyak pemimpin Kristen lemah. Mungkin di depan jemaat atau para karyawannya ia tampil jantan, tetapi di hadapan sang istri ia tak berdaya. Idealnya, seorang suami harus mempunyai kapasitas rohani yang lebih kuat dibanding istrinya, sebab ia adalah imam bagi keluarga. Otoritas kepemimpinan di dalam keluarga sesungguhnya bukan didapat karena sang suami berpendidikan tinggi, kaya, atau tampan, tetapi diperoleh dari pengurapan Allah yang ada di dalam dirinya.

Diambil dari:

Judul buku : Mezbah Doa Para Pemimpin
Judul artikel : Timotius: Kepemimpinan dan Keimaman Kaum Pria
Penulis : Haryadi Baskoro
Penerbit : Yayasan ANDI, Yogyakarta 2008
Halaman : 111 -- 116

Komentar