Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Doa

Belas Kasihan dalam Keterpurukan

Belas Kasihan dalam Keterpurukan

Bagaimana Yunus Menjadi Contoh bagi Kita untuk Berlutut

Yunus adalah studi kasus yang menarik mengenai belas kasihan Allah. Dia adalah orang yang tidak baik dan busuk yang membenci Allah karena sifat belas kasihan-Nya. Yunus lebih suka melihat musuh-musuhnya dihancurkan dan dimusnahkan daripada diampuni.

Namun, di dalam cerita tentang pria busuk ini, terletak doanya di pasal kedua. Doa tersebut memberikan wawasan tentang perjuangan batin Yunus dan memainkan peran yang tidak kecil dalam perkembangan cerita. Itu juga memberitahukan banyak hal kepada kita tentang Allah, yang kepada-Nya kita berdoa. Mungkin Anda telah membaca doanya sepintas lalu dalam bacaan kitab sebelumnya, tetapi mari kita perlahan-lahan melihat apa yang dapat kita pelajari dari seruannya minta tolong dari dalam perut ikan besar.

Doa Paling Enggan

doa misi

Bayangkan grafik flanel (bahan bercerita dengan menggunakan papan terbungkus kain flanel - Red.) ini bersama saya. Allah mengutus nabi-Nya kepada orang-orang jahat untuk mewartakan penghakiman Allah. Yunus, bukannya pergi ke Niniwe, malah lari dari Allah dengan berlayar ke arah yang berlawanan. Yunus -- alat pilihan Allah -- adalah bejana yang bocor. Meskipun sia-sia, ia berusaha untuk "menjauhi hadirat TUHAN" (Yunus 1:3). Jelas, dia tidak mau terlibat dengan Niniwe, tetapi kita belum diberi tahu alasannya.

Badai mengamuk di laut lepas, dan Yunus dengan terpaksa dibuang ke laut oleh para pelaut. Para pelaut kafir ini memohon belas kasihan kepada Allah, tetapi selama badai, Yunus tidak membuka mulutnya. Dia tidak mau menggumamkan satu kata pun. Yunus tampaknya lebih baik mati daripada menjadi alat belas kasihan Allah (kepada orang lain atau bahkan dirinya sendiri). Kita segera mengetahui bahwa Yunus bukanlah pahlawan dalam cerita, dan sejujurnya, orang yang sedikit busuk. Akan tetapi, seperti yang akan kita lihat, kita menemukan teman yang baik dalam kekurangan karakter Yunus. Dan, kita dapat menemukan penghiburan dari kenyataan bahwa Allah masih mendengar doa Yunus, seruan putus asa dari seorang nabi yang tidak patuh.

Pasal 2 mencatat doa Yunus dari perut ikan. Jika pernah ada teriakan minta tolong yang tercatat dalam Alkitab, inilah dia. Saat Yunus terengah-engah, tertutup kegelapan dan dengan kematian yang sangat dekat, dia akhirnya berhasil mengumpulkan teriakan minta tolong.

Apa yang Jelas dalam Gelap

Apa, jika ada, yang dapat kita tarik dari doa Yunus? Saya akan menelusuri tiga tema dan kemudian kembali ke bagaimana kita secara pribadi dapat didorong untuk kehidupan doa kita sendiri.

ALLAH MASIH MENDENGARKAN

Pertama, Yunus sadar dan berdoa kepada Allah. Saya membayangkan teriakan minta tolong diserukan saat Yunus diangkat ke udara dan saat dia terjun ke laut yang gelap gulita. Mungkin hanya satu jeritan, atau pemikiran "selamatkan aku, Tuhan," tetapi hanya itu yang dibutuhkan.

Gambar: Yunus

Yunus terbangun karena aroma yang menyengat dari bangkai ikan yang membusuk, berpikir bahwa neraka itu menyerupai pasar ikan. Namun, kemudian dia sadar kembali dan menyadari bahwa dia hidup di dalam perut ikan. Dalam situasi yang mengerikan dan putus asa ini, Yunus berdoa: "Dalam kesengsaraanku, aku berteriak kepada TUHAN, dan Ia menjawab aku. Dari perut bumi aku berteriak, dan Engkau mendengar suaraku" (Yunus 2:2, AYT). Terlepas dari ketidaktaatan dan kekeraskepalaannya, dia memanggil Pencipta langit dan bumi. Meskipun berusaha lari dari Allah, dia sekarang meminta pembebasan dan pertolongan. Allah selalu siap menerima seruan putus asa anak-anak-Nya.

ALLAH MASIH BERKUASA

Yunus mengakui bahwa Allah memegang kendali. Dia tidak berkata, "Para pelaut busuk itu, saya tidak percaya mereka melemparkan saya ke laut!" Sebaliknya, dia melihat tangan Allah yang berdaulat bekerja bahkan dalam situasi gentingnya. Dia mengaku, "Engkau telah membuang aku ke tempat yang dalam; ... seluruh pecahan ombak-Mu dan gelombang-Mu menghempas aku" (Yunus 2:3, AYT). Situasi putus asa bukanlah akibat dari Allah yang tertidur di belakang kemudi. Yunus mengakui bahwa Allah memegang kendali, dan mengingatkan kita bahwa kita dapat memercayai-Nya, bahkan dalam keadaan yang mengerikan. Allah masih berdaulat ketika kita berada dalam bahaya.

ALLAH MASIH MENYELAMATKAN

Terakhir, Yunus menyimpulkan bahwa Allah menyelamatkannya untuk suatu tujuan. Yunus tidak berdaya, tetapi jelas belum mati, dan dia menyimpulkan bahwa Allah menyelamatkannya untuk suatu tujuan ilahi.

Dia berdoa, "aku akan memandang lagi ke bait-Mu yang kudus .... Engkau mengambil kembali nyawaku dari lubang kubur .... Doaku sampai kepada-Mu, ke dalam tempat-Mu yang kudus" (Yunus 2:4, 6, 7, AYT). Allah tidak memenuhi keinginan Yunus untuk mati (Yunus 1:12). Dia telah diselamatkan untuk sekali lagi menyembah Allah di bait-Nya yang kudus. Yunus dengan tepat menyimpulkan bahwa pembebasannya memiliki beberapa arti, dan dia bahkan mulai menyatakan kebesaran Allah dari perut ikan: "Keselamatan adalah dari TUHAN!" (Yunus 2:9, AYT).

Jenis Kedukaan Terburuk

Kita tahu bagaimana ceritanya berakhir. Doa Yunus didengar dan dijawab, dan dia akhirnya terdampar. Yunus mengalah, pergi ke Niniwe, berkhotbah, dan orang-orang mengindahkan pesannya dan bertobat -- dan kemudian terjadi yang mengejutkan.

Yunus tidak bersukacita atas pertobatan mereka; dia marah (Yunus 4:1). Kita mengetahui bahwa Yunus tidak khawatir bahwa orang Niniwe tidak akan mendengarkan atau bahwa mereka akan membunuh utusan itu. Sebaliknya, dia khawatir bahwa orang Niniwe akan bertobat. Dia tahu Allah akan menjadi pengasih dan penyayang -- dan sekarang karena Allah seperti itu, dia berduka.

Karakter Allah secara menakjubkan disandingkan dengan tampilan paling menyedihkan dari gerutuan nabi dalam Kitab Suci:

(Yunus) berdoa kepada Tuhan dan berkata, "Oh TUHAN, bukankah ini yang sudah kukatakan ketika aku masih ada di negeriku? Itu sebabnya, dahulu aku melarikan diri ke Tarsis karena aku tahu, Engkau adalah Allah yang pengasih dan penyayang, lambat untuk marah dan berlimpah kasih setia, serta menyesal atas hukuman yang akan ditimpakan. Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab lebih baik aku mati daripada hidup." (Yunus 4:2-3, AYT)

Untuk semua dosanya, setidaknya Yunus konsisten. Dia lebih baik mati daripada pergi berkhotbah, dia lebih baik mati daripada berdoa dalam badai, dan sekarang dia lebih baik mati daripada melihat musuh-musuhnya diampuni. Namun, Yunus tidak salah dalam segala hal. Dia tidak salah tentang Allah. Dia tahu bahwa Allah akan menjadi pengasih dan penyayang, ingin menunjukkan belas kasih-Nya atas bencana. Masalahnya adalah, Yunus tidak memiliki hati yang sama dengan hati Allah. Dia sangat menginginkan pembayaran atas tindakan, balas dendam, dan penghakiman. Dia ingin melihat orang Niniwe hangus karena penindasan mereka terhadap Israel.

Apakah Yunus pernah menjadi nabi yang setia? Apakah dia pernah memenuhi tugas dan misinya? Apakah kapal yang bocor pernah ditambal? Saya ingin berpikir begitu, tetapi penulis mengesampingkan akhir yang lugas. Kita dibiarkan mengajukan pertanyaan kita sendiri: Apakah kita seperti Yunus, atau apakah kita seperti Allah?

Dua Pelajaran untuk Lutut Anda

Lalu, bagaimana doa Yunus dapat membentuk dan mengilhami doa-doa kita hari ini? Apa yang bisa kita pelajari dari seruannya di kedalaman lautan yang berbahaya?

Melihat kebaikan Allah yang tiada henti.

Pertama, kita belajar bahwa Allah masih mendengarkan. Kenyataannya begitu sederhana sehingga kita mungkin tergoda untuk mengabaikannya. Bahkan jika Anda baru saja melakukan dosa keji -- seperti melarikan diri dari Allah yang hidup -- Dia tidak sepenuhnya menutup telinga-Nya terhadap Anda. Interkom ke surga belum dimatikan. Segera setelah kita berdosa terhadap-Nya, kita mungkin membayangkan Allah gusar dan murka. Kita membayangkan Dia merespons seperti yang kita lakukan.

Yunus, bagaimanapun, mengungkapkan bahwa Allah masih menunggu untuk menerima seruan putus asa dan sedih kita, bahkan dari yang paling tidak taat di antara kita. Dia ingin sekali menerima dan menyambut doa-doa kita yang rendah hati dan putus asa untuk meminta pertolongan. Seperti yang diungkapkan Roma 2:4, kebaikan Allah dimaksudkan untuk menuntun kita kepada pertobatan. Allah menunjukkan belas kasihan dan pengampunan-Nya kepada Yunus dan penduduk Niniwe.

Kita dapat memiliki keyakinan, bahkan jika kita adalah orang berdosa yang rendah hati, kotor, busuk, untuk datang kepada Yesus dengan permintaan pengampunan pertama atau yang keseribu - jika kita merendahkan diri dan lari kepada-Nya, daripada bersembunyi dari-Nya dan melarikan diri.

Tahan keinginan untuk lari dan bersembunyi.

Yunus mengajarkan kita bahwa Allah lebih penyayang, lebih sabar, dan lebih pemaaf daripada yang bisa kita bayangkan sekarang.
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. WhatsApp
  4. Telegram

Kedua, di mana pun Anda berada dan ketaatan apa pun yang Anda tolak saat ini, berlarilah kepada Allah dalam doa. Bertekunlah dalam doa, ketahuilah bahwa Allah Anda bahkan lebih gigih dalam belas kasihan.

Dari semua orang yang seharusnya tidak mengharapkan doa mereka terkabul, itu adalah Yunus. Dia terang-terangan memberontak melawan Allah. Ketika Allah memanggil, dia berlari ke arah yang berlawanan. Dia melompat ke atas kapal dan mencoba melarikan diri dari Penguasa lautan. Bahkan, ketika badai mengamuk, dia menolak untuk berdoa memohon pembebasan. Dia lebih baik tenggelam daripada bertobat. Namun, dari kuburan berair ini, dia sadar dan berseru -- dan secara mengejutkan, Allah mendengarkan dan menjawab.

Jika kita berada dalam masa pemberontakan seperti Yunus, kita juga bisa berdoa. Bahkan jika kita telah berada di masa selama puluhan tahun melarikan diri dari Allah, lari dari hadirat-Nya, dan menolak panggilan-Nya, kita diundang untuk datang, meletakkan pemberontakan kita, dan dibenamkan, bukan dalam penghakiman, tetapi dalam kasih. Allah ingin mencurahkan belas kasihan kepada Anda, dan kemudian melalui Anda kepada orang-orang berdosa lainnya, agar mereka juga dapat bertobat dan dibebaskan.

Allah tidak seperti kita. Di mana kita cepat marah, lambat memaafkan, mudah frustrasi, dan cenderung menyimpan dendam, Allah tidak seperti kita. Yunus mengajarkan kita bahwa Allah lebih penyayang, lebih sabar, dan lebih pemaaf daripada yang bisa kita bayangkan sekarang. Kabar baik Injil jauh lebih baik dari yang kita harapkan. Melalui Kristus, Yunus yang lebih baik, kita berseru kepada Allah, dengan keyakinan bahwa Dia akan melimpahkan belas kasihan kepada orang-orang yang tidak baik dan busuk yang datang dengan tangan kosong -- dan dengan keyakinan bahwa belas kasihan-Nya dapat mengubah hati kita menjadi seperti hati-Nya. (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Desiring God
Alamat situs : https://desiringgod.org/articles/mercy-at-the-bottom
Judul asli artikel : Mercy at the Bottom
Penulis artikel : Steven Lee

Komentar