Doa 1

Audio

Jika kita melihat Alkitab, kita mendapatkan bahwa Allah menghendaki agar "semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran" (1 Timotius 2:4; 2 Petrus 3:9). Kita juga mendapatkan bahwa kedatangan Tuhan Yesus ke dunia, tergantung kepada penggenapan Amanat Agung, "Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya." (Matius 24:14) Namun, bila kita melihat kepada dunia di sekeliling kita, kita bertanya-tanya, Tuhan, bagaimana semua perkara ini akan terjadi? Kita merasa bingung, merasa sangat terbeban, bahkan kadang-kadang merasa putus asa.

Dengan menemukan perspektif Allah mengenai kasih dan penebusan dari firman-Nya yang kudus, dan setelah mendapat informasi mengenai realitas kebutuhan-kebutuhan dunia kita yang terdalam, seharusnya mendorong kita berlutut untuk berdoa, seperti yang dinyatakan David Bryant, "Allah memanggil kita untuk berdiri di jurang pemisah (Yehezkiel 22:30) terutama sebagai bangsa pendoa." Yesus menekankan pentingnya doa ketika Ia mengajar para murid-Nya. Ketika Yesus melihat orang banyak yang perlu bantuan misalnya, Ia tidak menyuruh murid-murid-Nya untuk pergi dan memenuhi semua kebutuhan itu. Sebaliknya, Ia menyuruh mereka untuk meminta kepada Tuhan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan para pekerja untuk tuaian itu (Matius 9:36-38).

Mengapa Doa Itu Sangat Penting?

Doa merupakan batu bangunan yang penting dalam merencanakan visi dunia kita, karena doa memberikan sebuah perspektif mengenai siapa yang berkuasa. Doa juga merupakan sebuah alat yang dipakai Allah untuk mengubah kita. Mazmur 46:11 berkata, "Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!" Perhatikan bahwa pemazmur pertama-tama mengatakan "diamlah". Tenang, diam di hadapan Allah dalam doa itu penting untuk mengetahui perspektif-Nya. Malcolm Muggeridge menggambarkan Allah sebagai "teman kesunyian". Ia teman kesunyian, karena Ia berbicara pada waktu kita tenang. Ketika kita dalam keadaan tenang, Allah membebaskan kita dari cara berpikir kita yang sombong, dan mengingatkan bahwa Ia adalah satu-satunya Tuhan yang mahakuasa di seluruh bumi. Seorang penerjemah menerjemahkan Mazmur 46:11 dengan arti bahwa kita perlu "berhenti bergumul", sehingga dapat melihat penginjilan dunia dalam perspektif yang seharusnya -- Allah berkuasa, Ia akan menyelesaikan rencana-Nya.

Menurut pengarang doa klasik yang tak dikenal, "The Kneeling Christian" (Orang Kristen yang Berlutut), Iblis "membuat kita percaya bahwa kita dapat berbuat lebih banyak dengan usaha kita sendiri, daripada dengan doa kita". Menurut pengarang itu, Iblis ingin kita berpikir demikian, karena tidak ada satu hal pun yang amat ditakuti Iblis selain doa. Urusannya yang terbesar adalah mencegah kita berdoa. Ia senang melihat kita "sangat sibuk" dengan pekerjaan -- asal kita tidak berdoa. Ia tidak takut karena kita mempelajari Alkitab dengan rajin dan sungguh-sungguh -- asal kita sedikit berdoa. Ada orang yang berkata dengan bijaksana, "Iblis menertawakan kerja keras kita, mencemoohkan kebijaksanaan kita, tetapi gemetar bila kita berdoa." Mengapakah Iblis sangat takut akan doa? Karena doa menghubungkan kita dengan Allah yang mahabesar, satu-satunya Allah yang berkuasa mengubah dunia. Tom Wells menjelaskan prioritas doa dalam hubungannya dengan penginjilan dunia. Ia berkata, doa merupakan pekerjaan kita yang pertama pada masa menuai, dan tidak sukar untuk menemukan alasannya. Alasannya adalah tuaian itu memunyai satu "Tuhan". Ia mengawasi tuaian itu. Ada Orang yang menyediakan para pekerjanya, ada Orang yang mengawasi kemajuannya, dan "Orang" itu adalah Allah. Usaha kita yang pertama bukanlah melihat kepada besarnya tuaian. Usaha kita yang pertama adalah berdoa kepada Allah.

Ya! Usaha kita yang pertama adalah berdoa kepada Allah, tetapi doa adalah kerja keras. Berdoa kepada Tuhan yang empunya tuaian itu secara tidak langsung menyatakan bahwa kita memercayakan hasil-hasil tuaian itu kepada-Nya. Dengan kata lain, mungkin penuaian itu tidak persis seperti cara yang telah kita angan-angankan. Berdoa kepada Tuhan yang empunya tuaian itu, secara tidak langsung menyatakan kita percaya bahwa doa-doa kita akan membuat suatu perubahan. Namun, banyak di antara kita bertindak seolah-olah kita tidak sungguh-sungguh percaya kepada kuasa doa. Kita mengatakan kita percaya akan kuasa doa, tetapi tindakan-tindakan kita menyangkali kenyataan itu. Tidak adanya prioritas perhatian yang kita berikan terhadap doa, kenyataan bahwa kita terlalu mengandalkan diri kepada kekuatan