Baru-baru ini saya menemukan sebuah tulisan blog tentang doa yang ditulis oleh Tim Keller. Saya mendapati tulisan itu sangat menolong; di dalamnya ia menjelaskan disiplin doa dan tiga jenis doa yang ia lakukan setiap hari: meditasi, permohonan, dan pertobatan. Reaksi awal saya adalah bahwa hal itu tampak agak aneh, tetapi semakin saya memikirkan rutinitasnya, semakin tampak bahwa itu adalah rutinitas yang sehat untuk dijalani.

Doa tidak pernah tampak bagi saya sebagai sesuatu yang teratur atau yang seharusnya dipandang sebagai sebuah disiplin rohani. Semakin saya memikirkan keterkaitan antara doa dan disiplin, semakin saya mulai memahami sesuatu yang Keller maksudkan dengan rutinitasnya. Ia membiasakan diri untuk berdoa karena ia ingin doa menjadi sesuatu yang alami dan sering dilakukan. Doa bukanlah disiplin dalam arti menjadi legalistis, melainkan dalam arti bahwa dibutuhkan kedisiplinan untuk membentuk pola baru dalam melakukan sesuatu.
Membentuk kebiasaan untuk mengingat dan berdoa menuntun pada gaya hidup doa yang disiplin. Hal ini sangat penting untuk dimiliki karena hal itu menciptakan di dalam diri kita ketergantungan yang terus-menerus kepada Allah dan memusatkan kembali hidup kita pada hal yang sedang Ia kerjakan.
Semakin saya mulai melihat pembentukan pola-pola doa secara sengaja dalam hidup saya sebagai sebuah kebutuhan, semakin saya mulai mengingat contoh-contoh hal ini di sepanjang Kitab Suci.
Selain Yesus, yang sering mencari waktu untuk menyendiri bersama Allah dalam doa (Markus 1:35; Lukas 6:12), berikut ini beberapa contoh tokoh Alkitab yang memiliki gaya hidup doa yang disiplin:
Daniel
Daniel adalah seorang yang dipakai Allah untuk memengaruhi beberapa raja Babel. Allah tidak memilih untuk memakai Daniel hanya karena Ia menginginkannya (meskipun Ia adalah Allah dan dapat melakukan apa saja yang Ia kehendaki). Allah memakai seorang yang hatinya bergantung kepada-Nya dan yang keyakinannya untuk melayani Allah membawanya pada ancaman kemartiran (sebelum Allah turun tangan dan menyelamatkannya). Daniel 6:10 memberikan gambaran bahwa Daniel mengembangkan hati yang rendah hati dan bersandar kepada Allah. Ia meluangkan waktu untuk berdoa tiga kali sehari, dan sering kali dalam waktu-waktu itulah Allah memilih untuk memberikan kepada Daniel rahasia-rahasia tentang kerajaan-Nya yang akan datang serta penguatan di tengah-tengah pencobaan yang sedang ia alami.
Paulus
Paulus adalah contoh yang baik tentang seorang dengan masa lalu yang penuh gejolak yang dipakai Allah untuk menghasilkan buah yang baik. Paulus mendorong jemaat dalam 1 Tesalonika dan di beberapa bagian lain untuk terus-menerus berdoa (1 Tesalonika 5:16–18; 1 Timotius 1:1–2; 1 Timotius 1:8; Filipi 4:6). Ia mendorong untuk saling mendoakan, mendoakan mereka yang memiliki otoritas, dan senantiasa mengucap syukur kepada Allah. Paulus melihat Allah melakukan hal-hal yang luar biasa bagi dan melalui jemaat, dan tampaknya salah satu dorongan yang terus-menerus ia berikan adalah agar mereka menghargai doa dan melakukannya dengan tekun.
Allah memakai seorang yang hatinya bergantung kepada-Nya dan yang keyakinannya untuk melayani Allah membawanya pada ancaman kemartiran.
Sekarang, saya tidak mengatakan bahwa semakin lama kita menghabiskan waktu dalam doa, maka semakin baik hasil yang akan kita peroleh. Namun, jika waktu yang kita habiskan secara teratur dalam doa bersama Bapa Surgawi kita benar-benar menuntun kita untuk menjadi semakin bergantung kepada-Nya, kecenderungan kita seharusnya secara bertahap bergeser menuju keinginan untuk menghabiskan lebih banyak waktu dalam hadirat-Nya. Secara alami, jika kita melekat kepada-Nya dan mencari terobosan yang hanya dapat diberikan oleh Allah, kita akan melihat buah dari doa-doa kita.
Jika kita melihat doa sebagai sebuah disiplin itu sendiri, pada akhirnya kita akan gagal. Kita tidak akan pernah cukup bertumbuh hanya melalui perenungan Kitab Suci dalam doa. Kita tidak akan mampu cukup banyak berdoa syafaat bagi orang-orang dan situasi-situasi yang Allah bebankan di hati kita. Kita tidak akan pernah cukup berterima kasih kepada Allah atas semua yang telah Ia lakukan dalam hidup kita. Dan, kita tidak akan pernah cukup bertobat untuk memperoleh anugerah. Jika kita mempercayai usaha doa-doa kita sendiri, kita akan gagal.
Namun, jika kita memahami kepada Pribadi yang kepada-Nya kita berbicara ketika berdoa (dan tampaknya orang-orang dalam Alkitab ini memahaminya), kita akan melihat bahwa Allah, yang mengasihi kita hingga mengutus Anak-Nya untuk menggantikan kita, itu berdaulat dan sanggup menebus situasi apa pun. Kita akan mulai memahami bahwa Dialah yang mengubah kita, melakukan perbuatan-perbuatan ajaib, mengampuni kita, dan sungguh layak menerima pujian kita.
Mengapa tidak membentuk pola hidup yang bergantung kepada-Nya? (t/Jing-jing)
|
Diambil dari: |
||
|
Nama situs |
: |
The Well Community |
|
Alamat artikel |
: |
|
|
Judul asli artikel |
: |
Prayer as a Discipline |
|
Penulis artikel |
: |
Riley Endicott |
- Log in to post comments