Selamat Datang di Situs e-Doa

Melalui situs ini, Anda dapat menemukan artikel, renungan, kesaksian, tokoh, dan berbagai bahan inspiratif untuk memperkaya perjalanan iman, memperdalam relasi dengan Tuhan, dan menjadi berkat bagi sesama.

 

Kiranya setiap halaman yang Anda baca menjadi berkat, memperkaya perjalanan rohani, dan menguatkan langkah Anda setiap hari.

Kartu Doa Suku

Kartu Doa Suku memuat pokok-pokok doa dari berbagai suku di Indonesia. Melalui kartu doa ini, Anda diajak mengambil bagian dalam doa bagi kebutuhan rohani dan pertumbuhan iman mereka.

Seri GoPray & AI Talks

Simak rekaman seminar GoPray! dan AI Talks yang akan mengajak Anda memperdalam pemahaman tentang doa serta mendoakan topik-topik doa yang disampaikan di dalamnya.

Seri GoPray

Rekaman seri GoPray: topik-topik doa praktis dan doa untuk gereja, bangsa, dan suku-suku di Indonesia.
Catatan: tautan "Selengkapnya" dan setiap kartu akan membuka live.sabda.org di tab baru — tampilan di sana mungkin serupa dengan halaman ini. Anda akan meninggalkan situs ini.

Memuat acara GoPray...


Seri AI Talks

Rekaman AI Talks: diskusi tentang interaksi antara kecerdasan buatan dan kehidupan rohani/iman.
Catatan: tautan "Selengkapnya" dan setiap kartu akan membuka live.sabda.org di tab baru — tampilan di sana mungkin serupa dengan halaman ini. Anda akan meninggalkan situs ini.

Memuat acara AI Talks...

Pusat Pertumbuhan Iman

Selami beragam artikel, renungan, kesaksian, blog, tokoh, dan ilustrasi yang akan menolong Anda bertumbuh dalam kehidupan doa dan iman.

 

Artikel

Kumpulan artikel rohani yang memperdalam kehidupan doa Anda.

 

Renungan

Bacaan harian untuk menguatkan iman dan saat teduh.

 

Kesaksian

Kisah nyata kuasa Tuhan yang bekerja dalam hidup beriman.

 

Blog

Opini dan pemikiran segar seputar dunia kerohanian.

 

Tokoh

Inspirasi dari tokoh-tokoh iman yang luar biasa.

 

Ilustrasi

Cerita singkat yang memudahkan pemahaman makna doa.

Bahan dan Audio Doa

Roh Kudus -- Rekan Doa Kita

7 / 5 / 2014

Roma 8:26-28, "Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus. Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah."

Dietrich Bonhoeffer: Tentang Doa

23 / 4 / 2014

Dietrich Bonhoeffer

Dietrich Bonhoeffer (1906-1945) adalah seorang pendeta Lutheran yang tumbuh besar di Berlin selama kebangkitan partai Nazi. Semenjak masih muda, dia telah tertarik kepada etika dan karakter moral. Bonhoeffer bertugas sebagai kurir dalam perlawanan rakyat Jerman, melatih pendeta-pendeta lainnya, dan membantu orang-orang Yahudi melarikan diri ke Swiss selama masa Holocaust (genosida terhadap orang Yahudi yang berlangsung secara sistematis, dan didukung oleh pemerintahan Nazi Jerman, -- Red.). Dia dihukum mati tepat sebelum berakhirnya Perang Dunia II akibat keterlibatannya dalam percobaan pembunuhan Hitler yang gagal.

Jangan Kehendakku, Bapa

10 / 4 / 2014

Ditulis oleh: N. Risanti

"Jika jiwaku berdoa kepadaMu, Tuhanku,
ajar aku t'rima saja pemberian tangan-Mu
dan mengaku, s'perti Yesus di depan sengsara-Nya:
Jangan kehendakku, Bapa, kehendak-Mu jadilah."

Saya selalu terkesan dengan syair dalam lagu Kidung Jemaat 460 di atas, yang mengandung satu ajaran yang sangat indah tentang doa. Dalam pergumulan dan kengerian-Nya menghadapi penderitaan salib yang berat, Yesus dengan rendah hati menyerahkan diri kepada kehendak Bapa-Nya di surga. "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki." (Matius 26:39) Tidak mudah untuk mengatakan hal tersebut ketika Yesus mengetahui kengerian macam apa yang akan dihadapi-Nya. Ia memang Anak Allah yang berkuasa, tetapi Ia juga manusia yang dapat merasakan sakit dan penderitaan. Dan, jalan salib adalah kutuk berat yang tidak seharusnya dan sepantasnya Ia terima. Tetapi, toh Yesus taat pada kehendak Bapa ketika cawan itu harus diterima-Nya. Dan, kita pun beroleh anugerah keselamatan lewat pengorbanan-Nya di kayu salib.

Doa-Doa Di Atas Kayu Salib

10 / 4 / 2014

Kedukaan salib Yesus sering begitu mendalam sehingga ketika kita merenungkannya, kita tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata. Kita menemukan bahwa kita berada dalam dunia yang sunyi saat Allah mengajar pikiran dan roh kita tentang nilai dari perkataan Kristus yang sedang sekarat. Karena di atas kayu salib itulah, kata-kata terakhir dari kehidupan manusia Yesus diucapkan. Seperti di setiap kata yang diucapkan oleh Yesus, ada banyak hal yang bisa dipelajari di sini. Kata-kata terakhir ini berupa doa-doa. Dengan mempelajari doa-doa ini, kita bisa belajar mengenai nilai sebenarnya dari segala doa. Yesus adalah Anak Allah, tetapi Ia juga Manusia. Kenyataan bahwa kata-kata yang diucapkan-Nya saat sedang sekarat adalah doa, menunjukkan sebuah kehidupan yang berkomitmen pada doa. Ia tahu ini bukan komitmen yang mudah. Tidak ada yang bisa mengalami kehidupan doa sejati yang berarti, tanpa adanya komitmen yang mendalam. Hal ini terlihat jelas dalam doa Yesus "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku" (Lukas 23:46). Yesus menyerahkan diri-Nya untuk sebuah kehidupan doa yang baru. Setiap hari dalam kehidupan kita, Yesus berdoa untuk Anda dan saya. Kita merasa tenang mengetahui bahwa kita berada dalam doa-Nya, dalam persiapan untuk kehidupan doa yang baru ini, yang kita baca dalam Alkitab tentang Yesus yang berdoa (Lukas 11:1; Yohanes 17). Dalam Yohanes 17:20-24, Yesus berdoa untuk kita, bahkan sebelum disalib ketika Ia berdoa "... juga bagi mereka yang akan percaya kepada-Ku (Yesus), melalui pemberitaan mereka." (Yohanes 17:20)

Haus di Kayu Salib

10 / 4 / 2014

Perbuatan terakhir yang Yesus lakukan di bumi dimaksudkan untuk memenangkan kepercayaan Anda.

Ini adalah perbuatan terakhir Yesus dalam hidup-Nya. Dalam ukuran kesimpulan dari kehidupan-Nya di dunia, kita mendengar suara dari seorang pria yang haus.

Dan, melalui rasa haus-Nya, melalui bunga karang dan seguci anggur asam, Ia meninggalkan seruan terakhir.

"Kamu dapat mempercayai Aku."