Sangat mungkin untuk memenuhi puluhan rak buku dengan buku-buku tentang pentingnya dan praktik doa pribadi. Itu merupakan salah satu indikator pentingnya doa bagi pertumbuhan rohani pribadi dan pendalaman iman pribadi. Namun, berapa banyak rak yang dapat dipenuhi dengan buku-buku tentang doa bersama? Mungkin hanya satu rak kecil. Doa pribadi tentu saja sangat penting, tetapi sering kali justru doa-doa bersama jemaatlah yang mengajarkan kita cara berdoa secara pribadi.
Doa Bersama
Alkitab tidak ditulis kepada individu, melainkan kepada sebuah komunitas. Ya, keselamatan adalah peristiwa pribadi di mana kita merespons Roh Kudus dan berkata “ya” kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat kita. Namun, keselamatan itu membawa kita masuk ke dalam komunitas tubuh Mesias. Kita diselamatkan secara pribadi ke dalam sebuah komunitas. Kitab Suci penuh dengan contoh-contoh komunitas yang berkumpul bersama untuk beribadah dan berdoa.
Setelah kenaikan Yesus ke surga, kita melihat komunitas orang percaya berkumpul untuk meluangkan waktu dalam doa. Setelah Petrus dan Yohanes ditangkap oleh Sanhedrin dan kemudian dibebaskan, mereka bergabung kembali dengan murid-murid lainnya dan berdoa bersama. Ketika Yesus mengajarkan para murid cara berdoa, Ia tidak mengajar mereka untuk berkata, “Bapa-Ku yang di surga,” melainkan “Bapa kami yang di surga.” Doa Tuhan bersifat komunal. Bahkan, ketika kita mendoakannya secara pribadi, doa itu mengajak kita untuk memandang diri kita sebagai bagian dari komunitas besar di seluruh dunia.
Alkitab dengan jelas mengajarkan bahwa kita membutuhkan waktu pribadi dengan Allah sekaligus waktu berdoa bersama sebagai komunitas. Alkitab juga mengajarkan bahwa ketika kita berkumpul sebagai komunitas untuk berdoa, sesuatu yang berkuasa dapat terjadi: “Sekali lagi, Aku mengatakan kepadamu bahwa jika dua orang di antaramu sepakat di bumi tentang sesuatu yang mereka minta, hal itu akan terjadi bagi mereka oleh Bapa-Ku yang ada di surga. Sebab, di tempat dua atau tiga orang berkumpul bersama dalam nama-Ku, Aku ada di tengah-tengah mereka.” (Matius 18:19–20, AYT). Doa bersama bukan hanya membawa kehadiran Yesus, tetapi juga kuasa-Nya.
Dalam buku mereka Prayer That Shapes the Future: How to Pray with Power and Authority (Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 1999), Brad Long dan Doug McMurray mencatat:
Banyak pemimpin Kristen terbesar di masa lalu telah memperhatikan sebuah fenomena yang menarik: ketika orang Kristen berdoa secara terpisah, doa-doa mereka tidak seefektif ketika mereka berdoa bersama. Jika “satu orang mengusir seribu orang,” maka “dua orang mengejar sepuluh ribu orang” (Ulangan 32:30, AYT). Kuasa bertambah dan hasilnya bersifat eksponensial.
Doa bersama bukanlah sebuah rumus di mana semakin banyak orang yang berdoa, semakin kuat doanya. Sebaliknya, efektivitas unik dari doa bersama menunjuk pada pentingnya berkumpul sebagai komunitas iman. Seorang perempuan di jemaat kami, yang baru saja keluar dari situasi penuh kekerasan, melahirkan seorang anak laki-laki. Bayi itu tidak dapat bernapas tanpa bantuan sehingga ia dipindahkan ke unit perawatan intensif neonatal. Berita itu menyebar ke seluruh jemaat, dan orang-orang mulai berdoa. Ia berhasil melewati malam pertama, tetapi para dokter tidak memberi banyak harapan bahwa ia akan bertahan melewati malam kedua. Karena itu, jemaat berkumpul di ruang tunggu rumah sakit untuk berdoa. Bersama-sama kami berdoa bagi bayi itu, bagi para tenaga kesehatan, dan bagi ibu sang anak. Kami berdoa untuk kesembuhan dan penghiburan.
Di tengah malam bayi itu mulai bernapas sendiri. Staf rumah sakit sangat terkejut. Sebelumnya, mereka mengetahui bahwa bayi itu menunjukkan tanda-tanda kerusakan otak, tetapi tidak ada satu pun yang terlihat. Sebagai respons terhadap mukjizat ini, iman jemaat pun bertumbuh. Sebuah kegiatan penginjilan yang telah direncanakan dan hampir kami batalkan akhirnya tetap dilaksanakan. Suatu keyakinan yang lebih besar mengalir dari jemaat ketika mereka membagikan iman mereka bahwa kami telah melihat Allah bekerja melalui doa.
Mengajak gereja untuk berdoa bersama pada saat kebutuhan mendesak adalah cara yang sangat baik untuk membangun pengalaman doa bersama. Namun, tantangan yang sesungguhnya adalah menjadikannya bagian yang teratur dari ibadah.
Doa Jemaat
Doa jemaat, atau Doa Umat, merupakan unsur sentral dari setiap ibadah sepanjang sejarah. Namun, waktu doa ini sering kali dipersingkat atau dianggap tidak terlalu penting. Dalam dunia yang sangat individualistis, doa bersama menempati tempat yang semakin kecil. Bahkan, ada yang berpendapat bahwa doa jemaat ini justru membuat orang mengantuk!
Sering kali doa jemaat dialami secara pasif. Pendeta atau pemimpin ibadah berdoa, sementara jemaat duduk dan mendengarkan secara pasif. Padahal, seluruh jemaat seharusnya terlibat secara aktif dalam doa ini. Seluruh gereja sedang berdoa dalam kesepakatan dan mengharapkan Tuhan bekerja.
Kreativitas dalam Doa Bersama
Kreativitas dibutuhkan untuk keluar dari pendekatan doa yang pasif. Berikut ini beberapa saran untuk menginspirasi kreativitas Anda.
Permohonan Doa
Melibatkan jemaat dalam doa bersama adalah hal yang sangat penting. Cara sederhana untuk melakukannya adalah dengan meminta orang-orang membagikan pokok-pokok doa mereka. Dalam jemaat yang lebih kecil, hal ini dapat dilakukan sebelum doa dimulai, ketika orang-orang menyampaikan permohonan doa mereka secara lisan. Pemimpin doa kemudian dapat mendoakan pokok-pokok tersebut.
Alkitab tidak ditulis kepada individu, melainkan kepada sebuah komunitas.
Doa Responsif
Kemungkinan lain adalah melibatkan kelompok dengan respons selama doa. Sebuah doa liturgis dapat dibacakan secara responsif, atau jemaat dapat memberikan respons berupa kalimat sederhana pada beberapa bagian selama waktu doa. Salah satu metode yang telah lama digunakan adalah pemimpin doa mengatakan, “Tuhan, dalam belas kasihan-Mu,” dan jemaat menjawab, “dengarkanlah doa kami!” Bingkailah waktu-waktu doa ini dengan pengingat bahwa tujuannya adalah menarik kita ke dalam keterlibatan aktif dalam doa.
Keterhubungan dengan Komunitas dan Kerajaan Allah
Mengalihkan fokus waktu doa kepada situasi dan peristiwa di luar jemaat dapat memperluas visi orang-orang tentang doa. Mengidentifikasi kegiatan dan keadaan di komunitas lokal yang berpotensi membangun Kerajaan Allah—misalnya, mendoakan pusat pelayanan kehamilan setempat atau program pendampingan di sekolah lokal—merupakan tempat yang baik untuk memulai. Jangan lupa untuk memperhatikan cara Allah menjawab doa-doa tersebut sehingga Anda dapat bersukacita dalam ucapan syukur atas jawabannya. Mengenali, mengidentifikasi, dan merayakan jawaban doa mendorong keberlanjutan doa dan syafaat.
Perwakilan Komunitas
Carilah orang-orang dalam jemaat yang dapat mewakili kelompok-kelompok dalam komunitas Anda—misalnya, seorang petani yang mewakili komunitas pertanian atau seorang perawat yang mewakili komunitas kesehatan. Berkumpullah mengelilingi para perwakilan ini dan undang jemaat untuk mendoakan pekerjaan yang mereka lakukan di tengah komunitas.
Dua atau Tiga Orang Bersama
Berkumpul dalam kelompok kecil berisi tiga atau empat orang selama ibadah untuk berdoa akan mendorong partisipasi jemaat. Undang kelompok-kelompok tersebut untuk berdoa selama beberapa menit, dengan suara keras atau dalam hati, menggunakan pokok-pokok doa yang dicetak dalam buletin atau ditampilkan di layar. Suara banyak orang yang berdoa bersama dalam kelompok-kelompok kecil dapat menjadi cara yang sangat kuat untuk mendorong doa bersama.
Catatan Tempel
Undang orang-orang untuk menuliskan permohonan doa mereka pada catatan tempel dan membawanya ke depan untuk ditempelkan pada sebuah salib.
Saran-saran ini hanyalah beberapa praktik yang dapat menginspirasi jemaat Anda menuju praktik doa bersama yang lebih bermakna dan efektif. Ingatlah untuk mencatat hal-hal yang Anda doakan agar Anda dapat bersukacita dan merayakan ketika Allah menjawab doa-doa tersebut. Doa yang dijawab mendorong orang-orang untuk terus berdoa. (t/Jing-jing)
|
Diambil dari: |
||
|
Nama situs |
: |
Reformed Worship Resources |
|
Alamat artikel |
: |
https://www.reformedworship.org/resource/importance-corporate-prayer |
|
Judul asli artikel |
: |
The Importance of Corporate Prayer |
|
Penulis artikel |
: |
Martin Boardman |