Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Doa

Peran Doa dan Misi dalam Keselamatan

Allah Memiliki Hak dan Kuasa

Doa adalah salah satu keajaiban besar yang Allah berikan kepada dunia. Sungguh menakjubkan bahwa Allah merencanakan tangan kedaulatan-Nya sendiri untuk digerakkan oleh doa-doa dari ciptaan-Nya. Ada keberatan yang mengatakan, "Tidak ada gunanya berdoa, karena Allah telah merencanakan semua hal." Itu adalah keberatan yang apatis karena hanya perlu sedikit pemikiran untuk mengungkapkan bahwa Allah telah merencanakan jutaan tindakan manusia setiap hari yang menyebabkan terjadinya tindakan lain.

Sebuah paku menancap di papan karena Allah merencanakan palu untuk memukulnya. Seorang siswa mendapat nilai A dalam ujian karena Allah merencanakan agar siswa tersebut belajar. Sebuah jet terbang dari New York ke Los Angeles karena Allah merencanakan agar bahan bakar tersedia, sayap tetap terpasang, mesin harus didorong, dan seorang pilot mengetahui apa yang dia lakukan. Dalam semua kasus ini, kita tidak mengatakan bahwa penyebabnya tidak ada gunanya — palu, alat belajar, bahan bakar, sayap, mesin, pilot.

Doa juga bukan tidak ada gunanya. Itu adalah bagian dari rencana. Faktanya, pemeliharaan Allah yang tak terhitung, yang selalu ada, dan yang tak terbendung adalah satu-satunya harapan untuk membuat doa kita yang paling tulus menjadi efektif. Apa kerinduan terbesar Anda? Doa Anda yang paling tulus? Mungkin itu adalah doa untuk keselamatan seseorang yang Anda kasihi.

Atau mungkin untuk pembebasan jiwa Anda dari ikatan dosa. Ketika Anda berdoa agar Allah menyelamatkan orang yang Anda kasihi atau membebaskan Anda dari belenggu dosa, apa yang Anda minta agar Allah lakukan? Anda meminta Dia untuk melakukan apa yang Dia janjikan dalam perjanjian baru, yang Yesus beli dengan darah-Nya (itulah sebabnya kita berdoa dalam nama Yesus). Karena itu, kita berdoa:

Gambar: berdoa bersama

"Allah, ambillah hati batu dari tubuh mereka dan berilah mereka hati yang lembut" (lihat Yeh. 11:19).

"Tuhan, sunatlah hati mereka agar mereka mengasihi-Mu" (lihat Ulangan 30:6).

"Bapa, taruhlah Roh-Mu di dalam diri mereka dan buatlah mereka berjalan menurut ketetapan-ketetapan-Mu" (lihat Yeh. 36:27).

"Tuhan, anugerahkanlah kepada mereka pertobatan dan pengetahuan akan kebenaran supaya mereka dapat melepaskan diri dari jerat iblis" (lihat 2 Tim. 2:25–26).

"Bapa, bukalah hati mereka agar mereka percaya kepada Injil" (lihat Kisah Para Rasul 16:14).

Satu-satunya orang yang bisa berdoa seperti itu adalah orang-orang yang percaya bahwa iman yang menyelamatkan adalah anugerah pemeliharaan. Banyak orang tidak memercayai hal ini, karena mereka percaya bahwa manusia memiliki kekuatan tertinggi atas penentuan nasib sendiri pada titik pertobatan. Dengan kata lain, Allah dapat merayu orang-orang berdosa, tetapi Dia tidak dapat menciptakan iman mereka. Manusia harus memiliki keputusan akhir. Pada titik ketika iman menjadi ada, manusia, bukan Allah, yang menentukan.

Maksud saya di sini adalah bahwa orang yang benar-benar percaya akan hal ini tidak dapat secara konsisten berdoa agar Allah mempertobatkan orang berdosa yang tidak percaya. Mengapa? Karena jika mereka berdoa untuk pengaruh ilahi dalam kehidupan orang berdosa, mereka juga berdoa untuk pengaruh yang berhasil (yang menghilangkan penentuan nasib sendiri orang berdosa), atau mereka berdoa untuk pengaruh yang tidak berhasil (yang bukan berdoa untuk pertobatan). Jadi, mereka harus berhenti berdoa agar Allah mengubah orang atau menyerahkan penentuan nasib sendiri manusia. Atau, terus bertindak dengan tidak konsisten.

Doa adalah anugerah yang spektakuler. Tidak ada orang yang lebih percaya sepenuhnya seperti Paulus bahwa bukan manusia yang memiliki keputusan akhir dalam pertobatan mereka, tetapi Allah. "Jadi, tidak tergantung pada kehendak atau kerja keras manusia, melainkan pada Allah yang memiliki belas kasih" (Roma 9:16). Akan tetapi, mungkin tidak ada yang berdoa dengan lebih banyak air mata dan lebih mendesak seperti Paulus berdoa untuk pertobatan para pendosa. "dukacitaku sangat besar dan ada penderitaan yang tiada hentinya dalam hatiku .... demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku secara jasmani .... Keinginan hatiku dan doaku kepada Allah untuk mereka adalah supaya mereka diselamatkan" (Roma 9:2–3; 10:1). Dia berdoa seperti ini karena dia tahu bahwa kelahiran baru bukanlah keputusan belaka tetapi mukjizat. "Bagi manusia, hal ini mustahil, tetapi bagi Allah, semua hal itu mungkin" (Mat. 19:26). Pemeliharaan yang telah kita lihat dalam kitab ini tidak membuat doa menjadi masalah. Itu membuat doa menjadi kuat.

Penginjilan dan Misi Sangat Penting

Sama ngawurnya seperti keberatan sebelumnya tentang doa adalah keberatan yang mengatakan, "Tidak ada gunanya penginjilan dan misi karena Allah telah merencanakan siapa yang akan Dia selamatkan." Pemikiran yang serius akan mengungkapkan bahwa rencana untuk menyelamatkan orang melalui firman Allah mencakup rencana untuk mengutus pemberita firman. Tidak ada yang percaya dan diselamatkan tanpa mendengar Injil. Kelahiran baru terjadi "melalui firman yang hidup dan tinggal tetap" — Injil:

kamu telah dilahirkan kembali, bukan dari benih yang dapat mati, melainkan dari benih yang tidak dapat mati, yaitu melalui firman Allah yang hidup dan tinggal tetap ..... Dan, firman itu adalah Injil yang diberitakan kepadamu. (1 Ptr. 1:23, 25)

Injil ini tidak ditulis di awan. Itu dipercayakan kepada orang Kristen yang menjadi saksi dan misionaris. Jika tidak ada saksi manusia, tidak akan ada keselamatan:

"Sebab, ‘Setiap orang yang berseru dalam nama Tuhan akan diselamatkan.’ Akan tetapi, bagaimana mereka berseru kepada Dia jika mereka belum percaya? Bagaimana mereka percaya kepada Dia yang belum pernah mereka dengar? Bagaimana mereka mendengar, jika tidak ada orang yang memberitakan? Bagaimana mereka memberitakan, kecuali mereka diutus? Seperti ada tertulis: ‘Betapa indahnya kaki-kaki dari mereka yang memberitakan Kabar Baik!’ . . . Jadi, iman datang dari pendengaran, dan pendengaran melalui firman Kristus." (Roma 10:13–15,17)

Ketika Paulus berbicara tentang pengutusannya sendiri dari Kristus yang bangkit, dia menggambarkannya dengan istilah yang paling mustahil. Yesus mengutusnya kepada orang bukan Yahudi untuk melakukan apa yang hanya bisa dilakukan oleh Allah. Yesus berkata kepada Paulus:

"Aku akan menyelamatkanmu dari bangsamu ini dan dari bangsa-bangsa lain, yang kepada mereka aku mengutusmu, untuk membuka mata mereka sehingga mereka berbalik dari kegelapan kepada terang dan dari kuasa Iblis kepada Allah supaya mereka menerima pengampunan atas dosa-dosa serta menerima bagian di antara orang-orang yang telah dikuduskan oleh iman di dalam Aku." (Kisah 26:17-18)

Mencelikkan mata yang buta. Membebaskan dari Setan. Itulah misi Paulus. Dan, misi kita. Beginilah cara orang buta melihat dan yang diperbudak dibebaskan — oleh penginjilan dan misi. Mereka adalah instrumennya. Akan tetapi, instrumen bukanlah keajaiban pertobatan. Itu adalah jenis mukjizat lain — mukjizat ketaatan. Akan tetapi, di sini kita berbicara tentang penginjilan dan pertobatan. Saat firman diucapkan, Tuhan membuka hati. Itulah yang kita baca tentang Lidia: "Tuhan membuka hatinya untuk memperhatikan apa yang Paulus katakan" (Kis. 16:14). Kata yang diucapkan oleh Paulus adalah instrumen penting. Pekerjaan Tuhan adalah mukjizat pertobatan yang membuka hati.

Pekerjaan Tuhan adalah mukjizat pertobatan yang membuka hati.
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. WhatsApp
  4. Telegram

Seperti dalam hal doa, pemeliharaan Allah yang tak tergoyahkan bukanlah masalah untuk penginjilan dan misi; itu adalah satu-satunya harapan sukses mereka. Hambatan misi di seluruh dunia saat ini tidak dapat diatasi kecuali dengan satu hal: pemeliharaan Allah yang tidak dapat dihentikan. Itu tidak bisa dihentikan oleh negara-negara tertutup. Itu tidak bisa dihentikan oleh agama yang memusuhi. Itu tidak dapat dihentikan oleh bahasa dan budaya yang sulit. Dan, itu tidak dapat dihentikan oleh penentuan akhir nasib sendiri dari jiwa manusia yang jatuh dalam dosa — karena dalam dunia kedaulatan Allah yang intens, penentuan nasib sendiri seperti itu tidak ada.

Kita bisa dan kita harus membangun kehidupan dan misi kita di atas keyakinan ini. "Aku akan membangun gereja-Ku dan gerbang-gerbang Hades tidak akan menguasainya" (Mat. 16:18). Dan, untuk tujuan ini: "Injil Kerajaan ini akan diberitakan ke seluruh dunia sebagai kesaksian bagi semua bangsa, dan kemudian kesudahannya akan datang" (Mat. 24:14). (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Crossway.org
URL : https://www.crossway.org/articles/the-role-of-prayer-and-missions-in-salvation/
Judul asli artikel : The Role of Prayer and Missions in Salvation
Penuli artikel : John Piper

Komentar