Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Doa

Doa Meditatif 1

Yesus Kristus hidup dan hadir untuk mengajar umat-Nya secara langsung. Suara-Nya tidak sulit untuk didengar, perkataan-Nya tidak sulit untuk dipahami, namun kita harus belajar untuk mendengar suara-Nya dan menaati perkataan-Nya. Kemampuan untuk mendengar dan menaati-Nya adalah hati dan roh dari meditasi Kristen. Artikel ini mencoba memahami dasar alkitabiah, tujuan, dan langkah-langkah menuju doa meditatif.

Dasar Alkitabiah Doa Meditatif

Dasar Alkitabiah untuk meditasi ditemukan dalam kenyataan yang luar biasa mengenai Allah yang berbicara, mengajar, dan bertindak, yang menjadi inti kesaksian Kitab Suci. Allah menciptakan alam semesta dengan perintah-Nya. Di Taman Eden, Adam dan Hawa berbicara dengan Allah, dan Allah berbicara dengan mereka -- mereka berada dalam sebuah hubungan yang erat. Kemudian, terjadilah kejatuhan manusia dan terjadilah perpecahan dalam hubungan erat tersebut, sebab Adam dan Hawa bersembunyi dari Allah. Namun demikian, Allah terus mengulurkan tangan-Nya kepada anak-anak-Nya yang memberontak. Dalam kisah kehidupan pribadi-pribadi seperti Kain, Habel, Nuh, dan Abraham, kita melihat Allah berbicara dan bertindak, Allah yang mengajar dan membimbing.

Musa telah belajar mendengar suara Allah dan menaati perkataan-Nya, meskipun dengan banyak kebimbangan dan penyimpangan yang dilakukannya. Bahkan, Kitab Suci bersaksi bahwa Allah berbicara kepada Musa "berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya." (Keluaran 33:11) Ada suatu kesan akan hubungan yang erat, suatu keakraban. Namun demikian, sebagai sebuah bangsa, orang-orang Israel tidak siap dengan keintiman seperti itu. Baru saja mereka belajar sedikit tentang Allah, mereka menyadari bahwa berada di hadirat-Nya merupakan hal yang sangat berisiko. Mereka berkata kepada Musa, "Engkaulah berbicara dengan kami, maka kami akan mendengarkan; tetapi janganlah Allah berbicara dengan kami, nanti kami mati." (Keluaran 20:19) Dengan cara seperti ini, mereka dapat memiliki tanggung jawab rohani tanpa memiliki risiko yang menyertai tanggung jawab itu. Inilah awal kemunculan para nabi dan hakim-hakim, dan Musa adalah yang pertama. Namun demikian, hal ini adalah sebuah kemunduran dari kedekatan Israel dengan Allah secara langsung, kedekatan secara langsung yang ditunjukkan oleh tiang awan di siang hari dan tiang api di malam hari.

Di bawah kepemimpinan Samuel, orang Israel berseru meminta raja. Hal ini sangat mengganggu Samuel, namun Allah berbicara kepadanya agar tidak putus asa, "Sebab bukan engkau yang mereka tolak, tetapi Akulah yang mereka tolak, supaya jangan Aku menjadi raja atas mereka." (1 Samuel 8:7) Di bawah kepemimpinan Musa, mereka menolak kedekatan dengan Allah tanpa pengantara; di bawah kepemimpinan Samuel mereka menolak pemerintahan Allah secara langsung. "Berikan kami seorang nabi, berikan kami seorang raja, berikan kami seorang pengantara, sehingga kami tidak harus masuk ke dalam hadirat Allah sendiri." Kita tidak harus menyelidiki agama secara mendalam untuk melihat bahwa agama dipenuhi dengan dogma mengenai mediator. "Berikan kami seorang gembala, berikan kami seorang pendeta, berikan kami seseorang yang akan melakukannya untuk kami, sehingga kami bisa menghindari keintiman dengan Allah secara pribadi, namun tetap memperoleh keuntungannya."

Dalam kedatangan Yesus yang pertama, Ia mengajarkan realitas kerajaan Allah dan menunjukkan kehidupan yang sebenarnya dalam kerajaan itu. Yesus menunjukkan kepada kita kerinduan Allah akan berkumpulnya semua orang yang saling mengasihi di dalam sebuah komunitas yang inklusif dengan diri-Nya sendiri, sebagai penyokong utama dan penghuninya yang paling mulia. Dia mendirikan sebuah persekutuan yang hidup, yang akan mengenal Dia sebagai Penebus dan Raja, mendengarkan Dia dalam segala hal, dan menaati Dia setiap waktu. Dalam hubungan-Nya yang intim dengan Bapa, Yesus memberi teladan kepada kita mengenai realitas hidup yang senantiasa mendengarkan dan taat itu. "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak." (Yohanes 5:19) "Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar." (Yohanes 5:30) "Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya." (Yohanes 14:10) Ketika Yesus mengatakan kepada para murid-Nya untuk tinggal di dalam Dia, mereka mengerti apa yang Ia maksudkan karena Dia tinggal dalam Bapa. Dia menyatakan bahwa Dia adalah Gembala yang baik dan domba-domba-Nya mengenal suara-Nya. (Yohanes 10:14) Dia mengatakan bahwa Sang Penghibur akan datang, Roh Kebenaran, yang akan membimbing kita kepada kebenaran. (Yohanes 16:13)

Dalam Kisah Para Rasul, Lukas menyiratkan dengan jelas bahwa setelah kebangkitan dan pengangkatan-Nya, Yesus terus "berkarya dan mengajar", bahkan ketika orang tidak dapat melihat-Nya dengan mata telanjang (Kisah Para Rasul 1:1). Petrus dan Stefanus menyatakan Yesus sebagai penggenapan nubuatan dalam Ulangan 18:15, yang berisi tentang seorang nabi seperti Musa, yang berbicara kepada orang Israel dan yang perkataannya harus didengar dan ditaati (Kisah Para Rasul 3:22; 7:37). Dalam Kitab Kisah Para Rasul, kita melihat Kristus yang bangkit dan memerintah melalui Roh Kudus, yang mengajar dan membimbing anak-anak-Nya: memimpin Filipus pada kebudayaan-kebudayaan baru yang belum terjangkau (Kisah Para Rasul 8), menyingkapkan kemesiasan-Nya pada Paulus (Kisah Para Rasul 9), menegur Petrus karena kecenderungan rasisme yang dimilikinya (Kisah Para Rasul 10), dan memandu gereja keluar dari kungkungan lingkup kebudayaannya (Kisah para Rasul 15).

Singkatnya, semua hal di atas membentuk fondasi yang alkitabiah bagi meditasi, dan kabar baiknya adalah Yesus tidak berhenti bekerja dan berbicara. Dia bangkit dan bekerja dalam dunia kita. Dia tidak berdiam diri maupun membisu. Dia hidup di antara kita sebagai Imam untuk mengampuni kita, sebagai Nabi untuk mengajar kita, sebagai Raja untuk memerintah kita, dan sebagai Gembala untuk membimbing kita.

Semua orang kudus di sepanjang zaman telah menyaksikan kenyataan ini. Namun, betapa menyedihkannya orang Kristen pada masa kini, yang sangat tidak peduli akan melimpahnya literatur tentang meditasi Kristen yang ditulis oleh para orang percaya yang setia selama berabad-abad! Tak hanya itu, kesaksian orang-orang kudus tersebut mengenai hidup yang penuh sukacita karena persekutuan abadi dengan Allah, secara mengejutkan memiliki banyak persamaan. Dari Katolik sampai Protestan, dari Ortodoks Timur sampai Gereja Barat yang bebas, kita didorong untuk "tinggal dalam hadirat-Nya, dalam persekutuan yang tak terputus". Seorang mistikus Rusia, Theopan Sang Pertapa, berkata, "Berdoa adalah turun dengan pikiran menuju hati, berdiri di hadapan wajah Allah yang Mahahadir dan Mahamelihat di dalam Anda." Pendeta Anglikan, Jeremy Taylor menyatakan, "Meditasi adalah lidah dari jiwa dan bahasa dari roh kita." Seorang martir penganut Lutheran, Dietrich Bonhoeffer, ketika ditanya mengapa ia bermeditasi, menjawab, "Karena saya adalah seorang Kristen." Kesaksian Kitab Suci dan kesaksian para ahli devosi yang setia ada begitu kaya, begitu hidup dengan kehadiran Allah, sehingga bodohlah kita jika mengabaikan sebuah undangan agung untuk mengalami hal yang disebut sebagai, dalam kata-kata Madame Guyon, "kedalaman Yesus Kristus".

Tujuan Doa Meditatif

Dalam doa meditatif, kita sedang bertumbuh menuju apa yang Thomas à Kempis sebut sebagai "sebuah persahabatan yang karib dengan Yesus". Kita tenggelam dalam terang dan kehidupan Kristus, dan menjadi nyaman dengan keadaan tersebut. Keberadaan Allah yang selalu hadir (kita menyebutnya "omnipresence", Mahahadir) berpindah dari sebuah dogma teologis ke dalam sebuah realitas. "Dia berjalan dengan saya dan Dia berbicara dengan saya", tidak lagi menjadi jargon kesalehan, tetapi justru menjadi sebuah gambaran langsung dari hidup sehari-hari.

Saya tidak sedang membicarakan tentang hubungan yang cengeng, palsu, dan kosong. Semua sentimentalitas hambar seperti itu hanya menyingkapkan betapa sedikitnya pengetahuan kita, betapa jauhnya kita dari Allah yang tinggi dan ditinggikan, yang disingkapkan pada kita dalam Kitab Suci. Yohanes mengatakan pada kita dalam Kitab Wahyu bahwa ketika dia melihat Kristus yang bertakhta, dia tersungkur di depan kaki-Nya seperti orang mati, seharusnya kita juga seperti itu (Wahyu 1:17). Saya sedang membicarakan sebuah kenyataan yang mirip dengan apa yang dirasakan para murid di ruangan yang dipakai pada perjamuan terakhir, ketika mereka mengalami baik persekutuan yang erat sekaligus rasa hormat yang penuh takjub.

Dalam doa meditatif, kita menciptakan ruangan emosi dan rohani yang memperkenankan Kristus untuk membangun sebuah tempat kudus di dalam hati kita. Ayat mengagumkan yang berbunyi "Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku." (Wahyu 3:20), sebenarnya ditulis untuk orang percaya, bukan untuk orang yang tidak percaya. Kita yang telah menyerahkan hidup kita kepada Kristus, harus tahu betapa rindunya Dia untuk makan bersama-sama dengan kita, bersekutu dengan kita. Dia merindukan sebuah Perjamuan Kudus abadi di tempat kudus dalam hati kita. Doa meditatif membuka pintunya, dan walaupun kita melakukan kegiatan meditasi mengenai hal tertentu pada waktu tertentu pula, tujuannya adalah untuk membawa realitas yang hidup ini ke dalam seluruh segi kehidupan kita. Meditasi adalah tempat kudus-Nya yang dapat kita bawa ke dalam kepribadian dan seluruh tindakan kita.

Persekutuan secara rohani semacam ini dapat menimbulkan dua hal. Pertama, persekutuan ini mengubah kepribadian rohani kita. Kita tidak dapat "menyalakan api abadi dalam tempat kudus-Nya di dalam hati kita", sambil tetap hidup dalam cara yang sama karena Api Ilahi akan membakar habis segala sesuatu yang tidak murni. Pengajar kita yang Mahahadir akan selalu membimbing kita menuju "kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita oleh Roh Kudus" (Roma 14:17). Segala sesuatu yang tidak sesuai dengan jalan-Nya harus kita buang, agar kerinduan dan keinginan kita menjadi semakin selaras dengan jalan-Nya, dan segala sesuatu dalam diri kita semakin hari semakin mengarah kepada Roh Kudus.

Kedua, meditasi membawa diri kita ke dalam dunia sehari-hari dengan sudut pandang dan keseimbangan yang lebih luas. Sembari kita belajar mendengarkan suara Allah, kita mendapat pegangan praktikal baru untuk menghadapi masalah hidup sehari-hari. Menurut pengamatan William Penn, "Kesalehan yang sejati tidak membuat orang keluar dari dunia, namun memampukan mereka untuk hidup dengan lebih baik di dalamnya dan mendorong mereka untuk berusaha memperbaikinya." Melalui meditasi, kita memiliki mata yang baru untuk melihat dan telinga yang baru untuk mendengar. Kita mengembangkan kemampuan untuk memandang sesuatu dengan lebih jeli, sehingga kita mampu membedakan apa yang penting dan apa yang sepele. Dengan meditasi, kita juga menemukan ketenangan, peneguhan, dan sebuah orientasi hidup yang kokoh. Kita dapat hidup lebih dari tuntutan sehari-hari dengan terus sujud di dalam penyembahan dan pujian.

Menguduskan Imajinasi

Kita dapat turun dengan mudah menggunakan pikiran menuju hati melalui imajinasi. Mungkin ada beberapa individu yang mampu bermeditasi dalam kekosongan yang tak berbentuk, namun kebanyakan dari kita perlu lebih bergantung pada indra kita. Kita seharusnya tidak meremehkan cara yang lebih sederhana dan lebih rendah hati untuk masuk ke dalam hadirat Allah ini. Yesus sendiri mengajarkannya, terus-menerus menyerukan tentang imajinasi, dan banyak orang yang ahli dalam meditasi ini mendorong kita untuk melakukannya. St. Teresa dari Avila berkata, "Karena saya tidak dapat membuat perenungan dengan pengertian saya, maka saya melakukannya dengan membayangkan bahwa Kristus ada di dalam saya. Saya melakukan banyak hal sederhana seperti ini. Saya percaya, jiwa saya mendapatkan banyak hal dengan cara ini karena saya mulai berdoa tanpa mengetahui apakah doa itu." Kebanyakan dari kita dapat mengenali kata-kata St. Teresa tersebut karena kita juga telah mencoba sebuah cara yang hanya mengandalkan otak dan merasa bahwa hal itu terlalu abstrak, terlalu lepas. Terlebih lagi, imajinasi menolong untuk menetapkan pikiran dan memusatkan perhatian kita. Francis de Sales mencatat, "... dengan berimajinasi, kita membatasi pikiran dalam misteri apa yang kita meditasikan, sehingga tidak menyimpang ke sana-ke mari, seperti halnya kita mengunci seekor burung dalam kandang atau mengikat seekor elang dengan tali sehingga dia diam di tangan."

Beberapa orang keberatan dengan penggunaan imajinasi, dengan dasar pemikiran bahwa imajinasi merupakan sesuatu yang tidak bisa dipercaya dan bahkan dapat digunakan oleh Si Jahat. Ada alasan yang baik untuk pertimbangan tersebut karena imajinasi, seperti semua pancaindra kita, telah turut serta saat kejatuhan manusia ke dalam dosa. Namun, ketika kita percaya bahwa Allah dapat menyentuh pikiran kita (yang sudah tercemar), menguduskannya, dan menggunakannya untuk tujuan yang baik, Dia bisa menguduskan imajinasi kita dan menggunakannya untuk tujuan-tujuan yang baik. Tentu saja, imajinasi bisa disimpangkan oleh setan, demikian juga dengan pancaindra kita. Allah menciptakan kita dengan sebuah imajinasi.

Untuk percaya bahwa Allah dapat menguduskan dan menggunakan imajinasi adalah semudah menerima dengan serius gagasan Kristen akan inkarnasi. Allah begitu mendukung, begitu mewujudkan Diri-Nya dalam daging di dunia kita, sehingga Dia menggunakan imajinasi yang kita kenal dan pahami untuk mengajar kita tentang dunia yang tidak terlihat, yang sangat sedikit kita ketahui dan yang sulit kita pahami.

Semakin jauh kita masuk ke dalam jalan Allah -- memikirkan pemikiran-Nya seperti Dia, menyenangkan Dia dalam kehadiran-Nya yang agung -- kita semakin mengalami Allah dan semakin menggunakan imajinasi kita untuk tujuan-tujuan-Nya yang baik. Jika kita sungguh-sungguh bersukacita di dalam Dia, kita rindu menyenangkan-Nya dan Dia akan memberikan keinginan hati kita (Mazmur 37:4). (t\Rento)

Diterjemahkan dari:

Judul traktat : Meditative Prayer
Penulis : Richard J Foster
Penerbit : InterVarsity Press, Illinois 1973
Halaman : 3 -- 12

Komentar