Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Doa

Fokus Doa (Matius 6:9)

"Bapa Kami"

Kebanyakan orang berfokus pada doa hanya dalam hal menanggapinya atau mengacu pada hasil doa itu sendiri; bagi kita, doa telah menjadi alat untuk mencapai tujuan yang biasanya bersifat egois. Doa adalah semacam upaya terakhir, doa menjadi seperti polis asuransi spiritual; Anda senang memilikinya, tetapi Anda berharap untuk tidak perlu menggunakannya. Namun demikian, doa lebih daripada itu. Doa lebih dari sekadar hak istimewa untuk berkomunikasi dengan Allah, doa adalah dan akan selalu menjadi pengakuan pertama atas kemegahan kemuliaan Allah dan sikap ketundukan terhadapnya. Semua permohonan, hasrat, permintaan, keinginan, kebutuhan, cobaan, dan semua masalah kita, tunduk pada kehendak Allah. Sayangnya, kebanyakan orang berpikir bahwa doa adalah upaya untuk memaksa Allah menjadi sejalan dengan keinginan diri mereka sendiri, dan ini adalah suatu gerakan yang sangat dominan di gereja pada masa kini.

Orang-orang Farisi, para ahli Taurat, dan orang-orang Yahudi yang mengikuti ajaran pemimpin-pemimpin agama itu telah melencengkan arti doa dari apa yang sebenarnya diinginkan Allah. Mereka membuat doa menjadi praktek tradisi yang sesat, yang di dalamnya mereka berpusat pada diri mereka sendiri. Mereka menggunakan doa-doa mereka yang munafik untuk memamerkan betapa rohaninya mereka, dan mereka beranggapan bahwa mereka sedang memberitahukan kepada Allah tentang hal-hal yang tidak diketahui-Nya melalui doa-doa mereka itu. Mereka menciptakan sebuah doa yang tidak sah, sesat, rendah, dan tidak sesuai dengan Kitab Suci, tetapi kemudian Yesus menunjukkan kepada mereka apa yang benar ketika Ia mengkonfrontasi mereka. Dia seolah mengatakan, "Engkau tidak berdoa sesuai dengan standar Tuhan, sekarang Aku menunjukkan cara yang benar." Dalam Matius 6:9, Yesus mengajar cara memulai doa yang benar, "Berdoalah demikian: Bapa kami...."

Allah adalah Bapa kita, Dia bukan sosok yang kejam, tak terduga, makhluk tak bermoral yang akan menginjak-injak mereka yang berhadapan dengan-Nya, tetapi Dia adalah Bapa yang penuh kasih, lemah lembut, dan peduli dalam memberikan semua harta surgawi untuk kepentingan orang-orang kudus-Nya sehingga nama-Nya dimuliakan. Karenanya, Bapa kita adalah Allah yang akan mendengar karena Dia peduli, "Bapa kami yang di sorga," berarti Dia bisa memenuhi kebutuhan kita karena Dia memiliki sumber daya yang tak terbatas yang kekal. Anda tidak perlu merongrong Allah, Anda tidak perlu membenturkan diri dan melakukan sesuatu untuk membuat-Nya menanggapi Anda. Dia adalah Bapa yang penuh kasih; Dia digambarkan dengan sangat baik melalui karakter bapa yang terdapat di Injil Lukas 15:11-32, di dalam kisah anak yang hilang.

Kedua, "Dikuduskanlah nama-Mu."

"Kudus" berarti dipisahkan dari segala sesuatu yang umum dan fana, dihargai, dijunjung, dihormati, dipuja sebagai satu-satunya Allah yang sejati, yang dipuji selama-lamanya. Anda tidak dapat berbicara tentang Allah dengan istilah duniawi, Anda tidak dapat menyeret-Nya ke dalam istilah yang remeh. Allah harus memiliki kedudukan yang sesuai dengan kuasa dan kekudusan-Nya. Betapa mudahnya dalam hidup kita untuk mengucapkan, "Dikuduskanlah nama-Mu," tetapi tidak memahami apa yang kita katakan. Kebenaran dari permohonan tersebut adalah membiarkan Allah untuk menempati kedudukan yang tepat dalam hati kita.

Bagaimana kita menguduskan nama-Nya?

Pertama, kita menguduskan nama-Nya ketika kita percaya bahwa Dia ada. Anda tidak pernah bisa menghormati Allah dan meninggikan-Nya jika Anda tidak percaya bahwa Ia ada. Namun, tidak hanya sampai di situ. Anda bahkan dapat mempercayai keberadaan Allah, tetapi masih tidak menguduskan nama-Nya. Bila Anda meragukan Allah, jika Anda tidak mempercayai-Nya, jika Anda mempertanyakan-Nya, dan tidak memuji nama-Nya setelah Ia melakukan sesuatu demi Anda; Anda tidak menguduskan nama-Nya.

Ketika Ayub dalam Kitab Ayub 30:21 mengatakan, "Engkau menjadi kejam terhadap aku," ia menuduh Tuhan sebagai Allah yang tidak berbelas kasih. Ketika Anda memiliki pikiran-pikiran yang salah seperti itu tentang Tuhan, ketika Anda tidak mengenal siapa Tuhan sebenarnya, Anda tidak menguduskan nama-Nya. Ketika Anda membiarkan diri Anda masuk ke dalam konsep tentang Allah yang salah dan yang tidak tepat, Anda tidak menguduskan nama-Nya. Orang yang mengaku Kristen bisa melakukan kesalahan ini tidak hanya dengan memiliki pikiran-pikiran yang salah tentang Allah, tetapi juga dengan tidak mengenal siapa Allah sebenarnya. Jika Anda tidak benar-benar mengenal pribadi Allah dengan benar, Anda akan meragukan-Nya; Anda akan mempertanyakan-Nya; Anda tidak akan percaya kepada-Nya; Anda akan menjadi tidak taat, dan Anda akan menyebabkan orang lain untuk meragukan Tuhan; dan dengan semua itu, Anda tidak menguduskan Tuhan. Untuk menguduskan nama-Nya, Anda harus percaya bahwa Tuhan adalah kudus, Anda harus menyadari bahwa Dia adalah Dia (Keluaran 3:14 -- red.).

Kedua, kita menguduskan nama-Nya dengan terus-menerus menyadari kehadiran-Nya. Terkadang, kita memikirkan Allah dengan sangat intens, tetapi di lain waktu, kita sama sekali tidak memikirkan Dia. Namun demikian, menguduskan nama-Nya berarti menempatkan Allah ke dalam pikiran, kata dan tindakan kita sehari-hari. Apakah Anda melihat bahwa Tuhan hadir di sekitar Anda? Apakah Anda menguduskan nama-Nya dalam hidup Anda? Apakah Ia termanifestasi secara terus-menerus dalam semua yang Anda lakukan dan katakan; dan kemanapun Anda pergi, apakah Anda melihat Tuhan bermanifestasi? Menguduskan Allah berarti kita harus percaya bahwa Dia adalah Dia, dan bahwa kita harus selalu menyadari kehadiran-Nya. Namun, Anda bisa melakukan semua hal itu dan masih tidak menguduskan nama Allah jika Anda tidak taat kepada-Nya.

Kita menguduskan nama Allah ketika kita hidup dalam ketaatan kepada-Nya. Itu adalah kunci yang terakhir. Anda tidak bisa sampai pada kepenuhan dalam menguduskan nama-Nya kecuali jika Anda taat kepada-Nya. Untuk mengatakan, "Saya percaya bahwa Engkau adalah Engkau, saya percaya Engkau adalah pribadi yang Alkitab katakan, dan saya menyadari kehadiran-Mu dalam hidup saya", tetapi kemudian tidak taat kepada-Nya, berarti memutuskan kemampuan Anda untuk menguduskan nama-Nya. Doa tidak hanya berarti bahwa nama Allah akan dikuduskan di surga, di seluruh dunia, atau di dalam diri saya; ketika doa berkata , "Tuhan jadikanlah saya sebagai alat untuk kekudusan-Mu," di situlah doa yang sejati dimulai.

Bagaimana kita menguduskan nama Allah, ketika ajaran kita dan juga hidup kita sudah benar-benar Kristen? Ketika kita memiliki pikiran yang benar tentang Allah, kita menguduskan nama-Nya. Bagian pertama dari doa ini adalah, "Tuhan, tolong ajari aku kebenaran, dan tolong aku untuk menjalankannya". "Dikuduskanlah nama-Mu," berarti "Ya Tuhan, manifestasikanlah kekudusan-Mu dalam diriku melalui pengetahuanku yang benar tentang diri-Mu dan melalui cara hidup benar dalam menanggapi pengetahuan itu". Itulah sebabnya, I Korintus 10:31 berkata, "Jika engkau makan atau jika engkau minum, jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah." Itu adalah cara hidup yang benar dan yang harus kita jalani; Yesus berkata, "Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga" (Matius 5:16). "Dikuduskanlah nama-Mu," berarti "Bermanifestasilah dalam diriku, dan biarlah cahaya-Mu bersinar melaluiku sehingga Aku dapat memuliakan Engkau".

Bagaimana Anda melakukan hal itu? Bagaimana Anda taat dengan cara seperti itu? Bagaimana Anda benar-benar membiarkan Tuhan dimanifestasikan melalui Anda? Pertama, dengan hidup dalam ketaatan kepada Firman-Nya. Alkitab mengatakan bahwa kita menguduskan Allah dengan mengakui-Nya sebagai Tuhan. Kedua, kita menguduskan Allah dengan iman. Ketiga, kita menguduskan Allah dengan menghasilkan buah yang baik. Keempat, kita menguduskan Allah dengan pujian. Kelima, kita menguduskan Allah dengan rasa syukur. Keenam, kita menguduskan Allah dengan memproklamasikan kebenaran-Nya. Ketujuh, kita menguduskan Allah dengan penginjilan. Kedelapan, kita menguduskan Allah dengan kesatuan tubuh Kristus. Kesembilan, kita menguduskan Allah dengan menunjukkan keagungan dan kemuliaan Allah sehingga orang lain yang melihat kita akan membuat penilaian yang tepat tentang siapa Allah itu dan ditarik kepada-Nya.

Tuhan, ajarlah kami berdoa.(t/Jing Jing)

Diterjemahkan dari:

Nama situs : Christian Articles
Alamat URL : http://www.christianarticles.net/articledetail.php?artid=4381&catid=71&title=Focus-of-Prayer
Judul asli artikel : Focus on Prayer
Penulis artikel : Paul George
Tanggal akses : 3 April 2013

Komentar