Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Doa

Loading

Prioritas Doa Syafaat 2

4. Sebuah Komitmen untuk Bertahan

Sementara Yesus melanjutkan pelayanan-Nya ke kota-kota dan desa-desa dekat Yerusalem, maka semakin dekatlah waktunya bagi Dia harus mengurbankan hidup-Nya di atas kayu salib. Ketika Ia sedang melayani di salah satu desa, sekelompok orang Farisi mendatangi-Nya dengan peringatan keras, "Pergilah dan tinggalkanlah tempat ini karena Herodes hendak membunuh Engkau" (Lukas 13:31).

Yesus segera menjawab, "Pergilah dan katakanlah kepada si serigala itu: Aku mengusir setan dan menyembuhkan orang, pada hari ini dan besok, dan pada hari yang ketiga Aku akan selesai. Tetapi hari ini dan besok dan lusa Aku harus meneruskan perjalanan-Ku, sebab tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh kalau tidak di Yerusalem (Lukas 13:32-33).

Ketika Yesus berbicara bahwa diri-Nya akan disempurnakan pada hari ke tiga, Ia menunjuk kepada kematian-Nya di atas kayu salib yang akan terjadi tiga hari kemudian. Hari-hari itu merupakan saat-saat yang penuh dengan penderitaan, hari-hari yang meliputi peperangan rohani di taman Getsemani, pengkhianatan terhadap diri-Nya, dan Kalvari sendiri. Setiap orang yang mengetahui bahwa peperangan rohani semacam itu sedang menunggunya, kemungkinan besar akan mengundurkan diri ke suatu tempat yang terpencil untuk beristirahat sebelum menghadapi peperangan. Tetapi Yesus memunyai tugas yang harus dilakukan dan Ia akan memberitakan Injil sepanjang hidup-Nya sampai pada kayu salib. Pada waktu diberitahukan agar menyembunyikan diri karena takut kepada Herodes, Yesus menjawab dengan nada mendesak, "Aku harus meneruskan perjalanan-Ku hari ini, besok, dan lusa". Itulah cara Dia mengatakan, "Aku harus tetap bertekun sampai tiba waktu-Ku yang telah ditentukan!"

Semangat doa syafaat adalah ketekunan -- suatu sifat yang Kristus tunjukkan di dalam pelayanan-Nya. Dengan demikian, Ia telah memberikan kepada kita suatu dasar sebagai prioritas keempat kita: "Untuk menjadi seperti Yesus, saya harus menolak untuk menyerah. Kristus telah menunjukkan kepada kita, bahwa kemenangan mutlak memerlukan sebuah komitmen untuk bertahan".

Yesus tahu bahwa ia akan mati dalam waktu tiga hari. Namun demikian, Ia menyadari bahwa masih ada tugas yang harus dikerjakan-Nya. Sesungguhnya, bahkan di atas kayu salib pun pelayanan-Nya di dunia masih berlanjut, ketika Ia menjangkau dengan kasih kepada pencuri yang sedang sekarat itu.

Perhatikan kata "disempurnakan" dalam Lukas 13:32. Dari kata Yunani teleioo, "disempurnakan" artinya menyelesaikan atau mengakhiri suatu pekerjaan atau tugas, atau menyelesaikan sesuatu seperti yang diinginkan. Kristus bekerja dengan setia pada hari-hari terakhir-Nya di bumi, senantiasa bertekun sampai Ia "sempurna" atau "menyelesaikan" pekerjaan bagi umat-Nya di atas kayu salib di Yerusalem.

Itulah gambaran dari pendoa syafaat yang benar. Ketekunan adalah kunci dari komitmen mereka. Kalau didefinisikan, artinya kemauan untuk meneruskan suatu tugas meskipun menghadapi kesulitan atau perlawanan. Pendoa syafaat yang benar seperti yang Yesus lakukan adalah sebuah komitmen untuk terus bertahan.

5. Sebuah Komitmen untuk Hubungan

Pada suatu hari pelayanan Kristus membawa-Nya ke kota Yerikho yang ramai, di mana banyak orang telah berkumpul untuk melihat-Nya. Berita mengenai mukjizat-mukjizat yang dibuat-Nya telah menarik banyak orang datang berbondong-bondong dengan harapan dapat memperoleh pandangan sekilas dari pengkhotbah Galilea ini. Salah seorang dari mereka yaitu seorang pemungut cukai -- Zakheus yang bertubuh pendek, mencari jalan di antara kerumunan orang banyak itu. Zakheus terpesona dengan apa yang didengarnya mengenai si pembuat mukjizat ini, dan akhirnya memutuskan untuk memanjat pohon supaya dapat melihat-Nya.

Lukas menjelaskan: Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: "Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu"(Lukas 19:5). Yesus ingin bertemu secara pribadi dengan Zakheus. Ia melihat nilai dari jiwa yang satu ini, dan Ia mau meluangkan waktu sebanyak-banyaknya yang diperlukan untuk memperkenalkan Injil Kerajaan kepadanya.

Kristus peduli kepada orang lain -- suatu sifat yang harus dimiliki dalam gaya hidup seorang pendoa syafaat. Ia menunjukkan kepedulian-Nya kepada Zakheus melalui perkataan-Nya, "Hari ini Aku harus menumpang di rumahmu". Ucapan itu sepertinya dikatakan sambil lalu saja, tetapi di dalamnya berisi prioritas yang lain bagi seorang calon pendoa syafaat: "Untuk menjadi seperti Yesus, saya harus peduli kepada orang lain".

Yesus telah membuat sebuah komitmen untuk suatu hubungan. Ia ingin dekat dengan orang lain. Perhatikan, Ia tidak berkata, "Zakheus, Aku akan mengadakan serangkaian pertemuan di Bait Allah pada akhir minggu ini; Kuharap bisa bertemu denganmu di sana". Yesus langsung pergi ke rumah Zakheus. Ia mengunjungi tempat di mana ia tinggal.

Kebanyakan orang tidak bertemu dengan Kristus pada suatu kebaktian penginjilan, tetapi karena seseorang menceritakan kepada mereka langsung di tempat tinggal mereka. Meskipun mereka bertemu dengan Kristus ketika sedang menghadiri suatu pertemuan di gereja, biasanya mereka datang ke sana karena diajak oleh teman yang telah meluangkan waktu untuk menceritakan apa yang menjadi kebutuhan orang tersebut.

Betapa akan lebih efektifnya penginjilan zaman modern ini, jika kita mau kembali pada pola Perjanjian Baru, yaitu pelayanan dari rumah ke rumah. Dalam pertemuan Kristus dengan Zakheus, seisi rumah pemungut cukai itu terpengaruh oleh kunjungan Kristus. Pendoa syafaat yang menjamah satu orang dengan Injil di tempat ia tinggal, bisa menjamah sebuah generasi dengan berita hidup kekal dari Kristus.

6. Sebuah Komitmen untuk Berkurban

Doa syafaat dan kurban erat hubungannya. Seperti telah ditekankan sebelumnya, mati bagi diri sendiri adalah penting bagi seorang pendoa syafaat. Yesus memakai kemutlakan ilahi dalam menunjuk kepada pengurbanan-Nya di atas kayu salib: "Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal." (Yohanes 3:14-15) Dengan memakai bentuk orang ketiga, Kristus menunjuk kepada diri-Nya sendiri sebagai "Anak Manusia" yang "harus ditinggikan".

Sering kali ayat ini dipakai oleh para pengkhotbah untuk menantang orang-orang percaya untuk "meninggikan Yesus" sehingga dunia ditarik kepada Dia. Sebenarnya, Kristus membuat pernyataan ini berkenaan dengan ditinggikannya diri-Nya di atas kayu salib. Ia membuat suatu persamaan ketika pada zaman Musa umat Tuhan diserang oleh suatu wabah dan Musa diperintahkan untuk mengangkat seekor ular ke atas pohon. Hal ini merupakan suatu pandangan yang jelas pada kuasa yang akan datang dari kayu salib untuk menghancurkan rencana ular itu di masa yang akan datang.

Di sini Kristus memberikan kepada kita sebuah prinsip prioritas yang lain lagi: "Untuk menjadi seperti Yesus, saya harus memikul salib saya setiap hari. Salib melambangkan sebuah komitmen untuk berkurban, suatu sifat penting untuk doa syafaat".

Paulus juga menggambarkan prinsip ini ketika ia menulis, "Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Bahkan segala sesuatu kuanggap rugi karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku lebih mulia daripada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus" (Filipi 3:7-8).

Kayu salib adalah gambaran yang sempurna dari doa syafaat. Di sini kita melihat Yesus yang mengambil kedudukan-Nya sebagai Pendoa Syafaat abadi di sebelah kanan Tuhan, tergantung di salib antara surga dan bumi sebagai perantara atau mediator. Sebagai pendoa syafaat yang memikul kurban salib kita sendiri, kita juga berdiri di antara umat manusia yang sedang terluka dan seorang Bapa yang mengasihi, membawa permasalahan mereka kepada Tuhan dalam doa.

7. Sebuah Komitmen pada Kesempatan

Cobalah latihan sederhana ini yaitu menyadari akan kesempatan yang ada. Berhentilah sejenak, tutuplah matamu, dan katakan dalam hati ayat Yohanes 3:16. Hanya perlu waktu singkat, tidak lebih dari sepuluh detik untuk mengatakan, "Karena begitu besar kasih Tuhan akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal". Sungguh menyedihkan pada saat yang sama, diperkirakan lima belas orang akan meninggal. Itu berarti 5.400 orang dalam satu jam berikutnya, atau lebih dari 130.000 esok hari pada waktu yang sama, dan separuh dari mereka tidak mengetahui bahwa Kristus telah mati bagi dosa-dosa mereka.

Angka-angka ini menunjukkan betapa besar kebutuhan akan doa syafaat! Kita tidak boleh melewatkan kesempatan untuk melayani. Dalam hal ini tentu Yesuslah teladan kita. Ia mengetahui nilai "waktu". Ia tidak pernah melewatkan kesempatan untuk melayani. Ketika Ia bertemu dengan orang yang buta sejak lahir, para murid-Nya hanya tertarik pada penyebab dari penyakit ini. "Rabbi," mereka bertanya, "siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri, ataukah orang tuanya sehingga ia dilahirkan buta?" (Yohanes 9:2) Tetapi Kristus melihat peristiwa ini dari sudut pandang lain. Jawab Yesus: "Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia. Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorang pun yang dapat bekerja." (Yohanes 9:3-4) Di sini kita menemukan prinsip prioritas Kristus yang lain untuk pendoa syafaat: "Untuk menjadi seperti Yesus, saya harus melakukan sesuatu hari ini! Hal itu menyatakan sebuah komitmen pada kesempatan dan suatu rasa mendesak yang ilahi".

Berikut ini adalah pengalaman dari seorang pekerja lapangan dari gerakan Every Home for Christ yang memunyai dedikasi tinggi di Brasilia beberapa tahun yang lalu, yang menggambarkan keadaan di atas. Pekerja ini membagi-bagikan traktat tentang Injil yang sederhana. Ketika berjalan menyusuri jalan yang ramai di suatu area pertokoan, ia membagikan bahan bacaan, dan bercakap-cakap tentang Kristus bilamana ada kesempatan. Salah satu percakapan terjadi dalam sebuah tempat cukur rambut. Pekerja ini sedang bersaksi kepada seorang pria yang sedang dicukur rambutnya, ketika tukang cukur rambut itu sendiri mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Dalam beberapa saat saja, tukang cukur rambut itu diyakinkan secara luar biasa dan ia bertanya apakah ia dapat menerima Kristus sebagai Juru Selamat pribadinya saat itu juga. Jadi, sementara pelanggan itu memandang dengan terheran-heran sambil duduk dengan tenang di kursinya, tukang cukur rambut itu menerima Kristus sebagai Juru Selamatnya.

Pekerja itu meneruskan perjalanannya mengunjungi toko-toko yang ada di daerah itu. Ketika hari menjelang malam, ia berjalan pulang dan mendekati tempat cukur rambut, di mana pagi tadi ia telah memimpin seseorang kepada Yesus, ia melihat ada keributan di tempat itu. Jalan masuk ke tempat itu dipenuhi banyak orang. Ada sebuah ambulans yang sedang menunggu di depan. Pekerja itu tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tukang cukur rambut yang pagi tadi dituntunnya untuk menerima Yesus, kini tergeletak mati di atas kursinya. Air mata mengalir keluar dari mata pekerja itu, tetapi itu adalah air mata sukacita, bukan air mata kesedihan. Ia telah berada di tempat yang benar, pada waktu yang benar, dan telah memakai kesempatan pada saat itu. Dan yang terindah dari semua itu ialah bahwa tukang cukur rambut itu berada dalam surga!

8. Sebuah Komitmen untuk Menyelesaikan Pertandingan

Kesempurnaan akhir doa syafaat kita juga datangnya dari Injil Yohanes 10:1-18. Di sini, Yesus menggambarkan diri-Nya sendiri sebagai Gembala yang Baik yang "memberikan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya". Ia berkata, "Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala." (Yohanes 10:16)

Segera Kristus harus menyelesaikan tugasnya dan menggenapi tujuan-Nya datang ke dunia ini. Kayu salib hanya tinggal beberapa hari lagi. Cara Ia berjalan dan bekerja, mengasihi dan hidup dengan suatu kebutuhan yang mendesak sekali, sedang hampir mencapai puncaknya dalam suatu ledakan penggenapan abadi yang penuh kemuliaan. Ia akan mengejar tujuan-Nya sampai pada kayu salib -- bahkan lebih dari itu. Pelayanan-Nya sebagai pendoa syafaat di sebelah kanan Bapa, bersama-sama dengan doa-doa kita di bumi dalam satu kesatuan dengan Dia, akan menjadi bagian dari rencana-Nya yang harus tercapai untuk menjamah setiap lidah dan suku, kaum dan bangsa (Wahyu 5:9).

Ia akan menyelesaikan apa yang Ia harus kerjakan sesuai dengan rencana kedatangan-Nya di bumi. Dan dari doa Kristus yang terpanjang, yang pernah dicatat yaitu di dalam Yohanes 17, kita menemukan suatu penjelasan dari komitmen untuk menyelesaikan ini: "Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya" (Yohanes 17:4).

Ketika Yesus mengatakan bahwa ada domba-domba lain yang bukan dari kandang ini yang harus Ia tuntun, Ia sedang memberi kita sebuah dasar untuk prinsip prioritas akhir dari Kristus: Untuk menjadi seperti Yesus, saya harus menyelesaikan tugas yang diberikan. Hal itu adalah sebuah komitmen untuk menyelesaikan, yaitu penyempurnaan yang merupakan penyelesaian atau penggenapan dari sebuah rencana atau tujuan. Apa yang Yesus doakan di atas kayu salib, "Aku telah menyelesaikan tugas itu," telah dirangkum dalam sebuah kata penyelesaian di atas kayu salib: "Sudah selesai!"

Di sini, ada roh seorang pendoa syafaat. Kita akan menjadi rekan sekerja Kristus, Pendoa Syafaat abadi kita, dalam melaksanakan penyelesaian dari komitmen "domba-domba lainnya". Kita akan memberi, kita akan pergi, kita akan menangis, kita akan bekerja sampai "setiap kaum dan suku di bumi ini memberikan segala kemuliaan kepada Dia dan memahkotai Dia sebagai Tuhan atas segalanya!"

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Kasih yang Bertumpu pada Lutut
Judul asli buku : Love on Its Knees
Judul artikel : Prioritas Doa Syafaat
Penulis : Dick Eastman
Penerjemah : Liana Kosasih
Penerbit : Nafiri Gabriel, Jakarta 2000
Halaman : 51 -- 58

Komentar