Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Doa

Loading

Roh Kudus dan Karunia Doa

Tuhan Yesus Pemberi Roh Kudus

Doa seharusnya bersifat dari hati ke hati--hati saya dengan hati Kristus, yang ada dalam hati gereja. Doa melibatkan pemikiran dan bahkan perasaan yang intens, sekaligus bersifat pribadi dan interpersonal. Memasuki hati Tuhan adalah sebuah perjalanan yang membawa kita ke dalam hati kita sendiri, dan hati semua orang yang Tuhan kasihi. Pada awalnya, imajinasi, pikiran, perasaan, dan intuisi adalah alat bantu doa yang bermanfaat. Namun, saat kita masuk lebih dalam, apa yang bisa kita lakukan hanyalah diam dalam keheningan. Dalam hening kesadaran akan kelemahan, keterbatasan, dan ketidaksempurnaan kita, kita menemukan kekuatan ilahi bekerja. Hal ini bukanlah hasil kehendak kita. Sebaliknya, tugas kita adalah menerimanya sebagai karunia. Ini adalah karunia terbesar dari semua karunia-karunia Roh Kudus yang Yesus janjikan untuk dicurahkan kepada mereka yang dikasihi-Nya.

Kadang-kadang, doa berawal sebagai sebuah latihan pikiran--Saya mencoba untuk memaksakan diri memikirkan hal-hal yang saleh, atau setidaknya memikirkan sesuatu yang orang lain katakan harus saya pikirkan ketika sedang berdoa. Saya mencoba untuk melakukan ini dan itu, dan saya merasa bahwa semuanya itu sangat kering, tidak memuaskan. Tampaknya, banyak orang menyerah berdoa karena mereka berpikir bahwa berdoa itu mudah. Meskipun benar bahwa berpikir dapat menjadi hal yang penting dalam berdoa--berpikir tanpa hati adalah sikap doa yang kaku.

Di pihak lain, doa yang emotif, tidak berakar pada kebenaran, adalah sikap hati yang tidak benar. Jika doa dilakukan dengan emosi yang datar (karena kebiasaan), kita belum benar-benar melampaui diri kita sendiri dan masuk ke dalam hati Allah. Sebaliknya, betapa pun nyamannya perasaan kita, kita hanya terjebak dalam kenyamanan diri kita. Ya, St. Bernard (biarawan pendiri ordo Cistercian - Red.) mengatakan bahwa dalam berdoa, kita mengasihi diri kita sendiri demi diri kita, dan kita mungkin mengasihi Allah demi diri kita sendiri. Akan tetapi, doa seperti ini tidak membuat kita mengasihi Allah atau diri kita sendiri bagi Tuhan. Hal ini bukan benar-benar doa dari hati ke hati.

Faktanya adalah bahwa doa bukan hanya apa yang kita pikirkan atau rasakan--doa menjangkau kepada sesuatu yang lebih besar yang tidak bisa dicapai dengan usaha-usaha kita sendiri. Hal ini karena doa yang benar adalah lebih dari sekadar pikiran dan kasih sayang. Namun, doa dapat menghasilkan pengalaman yang lebih indah yang tidak dapat dipahami oleh kekuatan pikiran, dan memunculkan kasih sayang yang begitu dalam sehingga tidak ada kata-kata yang bisa mengungkapkan hal tersebut. Inilah yang terjadi ketika doa merupakan suatu percakapan dari hati ke hati dengan Allah yang Hidup. Dia tidak hanya ingin kita berbagi pikiran kita dengan-Nya, tetapi Dia ingin berbagi pengalaman ilahi-Nya dengan kita. Dia tidak hanya merasakan penderitaan kita sendiri, tetapi ketika kita siap, Dia rindu untuk berbagi apa yang membuat hati-Nya terluka.

Kitab Mazmur menjadi bukti doa-doa semacam ini. Setiap kali mazmur-mazmur itu dipanjatkan, mereka menjadi saksi hidup hati Allah. Athanasius (Uskup Alexandria abad ke-4 - Red.) menegaskan bahwa Mazmur mengajarkan kita merasakan dengan cara yang sama seperti yang diajarkan oleh seluruh sisa dari bagian Alkitab kepada kita mengenai Allah. Hal ini karena Allah telah memilih untuk menyatakan diri-Nya: apa yang Dia pikir, rasa, dan hidupi. Namun, Dia tidak hanya ingin berbagi kasih sayang dan pikiran-Nya. Dia rindu membiarkan pikiran ilahi-Nya dan gerakan hati-Nya mengubah cara kita melihat Dia, diri kita, dan seluruh dunia di sekitar kita.

Roh Kudus

Inilah sebabnya, mengapa doa sangat penting bagi kehidupan orang Kristen. Selama kita dibatasi oleh pikiran manusia dan cara biasa dalam melihat hal-hal di sekitar kita, kita kekurangan visi dan kekuatan untuk menjalankan kehendak Allah. Akan tetapi, ketika kita bertumbuh melalui doa dan membiasakan diri dengan prioritas-prioritas hati Allah, kekuatan supernatural dialirkan kepada kita, dan kita terlibat dalam kehidupan-Nya melalui iman. Pengalaman ini dijelaskan dengan banyak cara yang indah oleh mereka yang telah merasakan dalamnya kehidupan doa. John van Ruusbroeck menggambarkan pengalaman doa ini sebagai "dampak ilahi", John of the Cross menggambarkan tentang perjumpaan yang indah dengan mempelai pria, dan Elisabeth dari Trinity berbicara tentang doa sebagai tindakan sederhana dan penuh kasih. Sumber doa-doa semacam ini bukanlah hasil karya kita sendiri -- itu sebenarnya dikerjakan di dalam kita dengan karunia yang dijanjikan kepada kita oleh Kristus sebelum Ia naik ke tanah surgawi. Yesus terus-menerus mencurahkan hati-Nya kepada Bapa sehingga kita bisa menerima karunia Roh Kudus. Bapa tidak pernah berhenti untuk menjawab doa Anak-Nya dengan mengirimkan Roh Kudus selalu, lagi dan lagi, ke dalam hati orang-orang yang percaya kepada Yesus. Penasihat Yang Ajaib melawat kita dengan terus-menerus mengajarkan segala hal, yang menurut Rasul Paulus "berdoa dalam hati kita dengan 'keluhan yang tak terucapkan'". Pembela ini mengantar kita ke tanah air kita yang sebenarnya: persekutuan dengan Tritunggal Kudus tersedia untuk kita saat ini, sekarang juga, yang sudah "diawali dan masih terus berjalan" sejak kekekalan.

Karunia doa semacam ini adalah karunia yang dicurahkan kepada gereja pada hari Pentakosta. Roh Kudus terus-menerus melawat kita dalam cara-cara baru dan tak terduga -- memenuhi kita dengan kasih Allah. Dia tidak pernah berhenti mengungkapkan kedalaman hati Kristus kepada mereka yang terbuka kepada bisikan hati-Nya. Apa yang kita perlukan adalah apa yang selalu dibutuhkan orang-orang yang ingin mengenal Allah yang hidup -- hati yang terbuka dan taat, dan selalu siap untuk menanggapi, "Biarlah terjadi kepadaku sesuai dengan firman-Mu." (t/Jing-Jing)

Download Audio

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Beginnning to Pray
Alamat URL : https://beginningtopray.blogspot.co.id/2009/05/holy-spirit-and-gift-of-prayer.html
Judul asli artikel : Holy Spirit and The Gift of Prayer
Penulis artikel : Anthony Lilles
Tanggal akses : 10 Januari 2017

Komentar