Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Doa

Loading

Rangkaian Mukjizat

Diringkas oleh: Novita Yuniarti

Sabtu sore, 7 Agustus 2004, ketika sedang mandi, saya merasa dada kanan saya seperti terhantam sesuatu. Malamnya, saat berbaring, dada saya serasa tertekan. Sudah dua kali saya pergi ke dokter untuk memeriksakan keadaan saya. Namun, keadaan tidak membaik, bahkan semakin parah. Senin, 16 Agustus 2004, saya berkonsultasi dengan sahabat saya, Dr. Mira dan ia menyarankan agar saya segera rontgen Thorax. Setelah mendapat surat pengantar dari Mira, saya langsung ke RS. Carolus. Melihat hasilnya, dokter kaget dan langsung menyuruh saya untuk rawat inap saat itu juga. Ternyata paru-paru kanan saya sudah hampir tenggelam.

Rabu sore, dokter menyedot cairan yang ada di paru-paru saya sebanyak 1 liter. Esok siangnya, saya menjalani CT-scan dan sorenya USG. Hasilnya, ada massa berdiameter 2,5 cm di paru-paru kanan bagian bawah, dan kista berdiameter 4,2 cm di indung telur saya. Jumat sore, cairan di paru-paru saya di sedot lagi sebanyak 1,4 liter! Sabtu, 21 Agustus 2004 saya di bronkoskopi [tindakan medis yang bertujuan untuk melakukan visualisasi trakea dan bronkus, Red.]. Melalui pemeriksaan ini, saya dinyatakan terkena kanker paru-paru stadium 3B, dan usia saya tinggal 4 sampai 6 bulan! Saat itu yang terpikir oleh saya hanyalah, bagaimana saya harus memberitahu Dian, anak saya. Dian masih kelas 3 SMU, masih membutuhkan saya. Apalagi dia akan ujian. Bagaimana nanti kalau Dian harus kehilangan ibunya?

Setelah menenangkan diri, saya menelepon sahabat-sahabat saya. Sorenya, berita tentang saya terkena kanker -- yang sangat mengejutkan semua yang mendengarnya -- sudah tersebar melalui SMS hampir ke semua teman saya, termasuk yang tinggal di luar negeri. Sejak itu, mereka mendoakan saya secara rutin. Hari-hari berikutnya, ketika para relasi bisnis di berbagai negara mendengar saya terkena kanker, jejaring doa ini semakin melebar. Sabtu malam, teman-teman kantor saya berdoa serentak di rumah mereka masing-masing. Hari-hari berikutnya, mereka berdoa bersama pukul 22.00 WIB, dan dari tanggal 6 sampai dengan 14 September 2004, mereka berdoa setiap pukul 11.00 WIB di kantor. Doa-doa ini membuat saya tenang. Sejak divonis terkena kanker, perhatian dari teman-teman merupakan mukjizat tersendiri karena bagi saya mereka adalah perpanjangan kasih Tuhan kepada saya.

Minggu, 29 Agustus 2004, saya berangkat ke Singapura ditemani kakak saya, Nindya, dan adik saya, Rani. Saya berharap dokter di Indonesia salah dalam melakukan diagnosa. Tetapi setelah diperiksa ulang, hasilnya sama -- saya terkena kanker. Dr. Ang Peng Tiam -- onkolog paling terkemuka di Asia Tenggara, yang memeriksa saya mengatakan saya terkena kanker stadium 4 dan sudah tak bisa diobati lagi! Dr. Ang mempersilakan saya pulang ke Indonesia. Saat itu, tak ada yang bisa saya lakukan, selain menyerahkan segalanya kepada Tuhan. Sebelum meninggalkan rumah sakit, dokter berpesan kepada suami saya bahwa paru-paru saya seminggu sekali harus disedot.

Tanggal 31 Agustus 2004, cairan di paru-paru saya harus disedot untuk yang ketiga kalinya. Ketika cairan dalam paru-paru saya akan disedot, sejak bangun tidur saya sudah batuk-batuk. Dalam ruang tindakan, perawat berpesan, "Sebelum, selama, dan 4 jam setelah disedot, Anda dilarang batuk!" Saya bertanya kepada perawat itu, "Kalau saya tidak tahan mau batuk bagaimana?"

Perawat itu berkata, "Tidak boleh! Harus ditahan, sebab kalau Ibu batuk, udara bisa masuk ke paru-paru melalui lubang jarum sedot, dan itu bahaya sekali!"

Saat itu juga saya berdoa mohon pertolongan Tuhan agar jangan batuk. Penyedotan dilaksanakan pukul 09.30 dengan mengeluarkan cairan sebanyak 900 cc. Empat jam setelah proses penyedotan, paru-paru saya diperiksa. Tiga jam kemudian saya diperiksa lagi. Setelah dinyatakan aman, tak ada udara di paru-paru saya, saya diizinkan pulang. Setiba di tempat menginap -- yang hanya di seberang rumah sakit -- sekitar pukul 18.00, saya langsung batuk-batuk lagi!

Saya juga meminta kepada Dr. Ang untuk di PET Scan (Positron Emission Tomography). Saya hanya ingin tahu, kanker saya sudah menyebar ke mana saja. Dr. Ang menjadwalkan saya untuk PET Scan esok harinya. PET Scan dilakukan pada pukul 11.00. Hasilnya baru akan keluar esok harinya pukul 12.00. Tetapi, Jumat sore asisten Dr Ang menelepon dan meminta saya untuk bertemu Dr. Ang. Dalam pertemuan tersebut, Dr. Ang memberitahu bahwa kanker di paru-paru saya telah lenyap, meskipun kista di saluran indung telur saya masih ada. Untuk mengobati kanker ini, satu-satunya yang mungkin dilakukan adalah kemoterapi. Dokter menjelaskan bahwa dua kemo pertamalah yang menentukan. Jika setelah dua kali kemo tidak ada perubahan, maka saya tidak memiliki harapan lagi, karena itu berarti sel kankernya tak bereaksi terhadap obat kemo.

Esok harinya, saya menjalani kemoterapi yang pertama. Hari Minggunya kami pulang ke Indonesia. Kira-kira 10 hari usai kemo pertama, saya mengalami mual, tubuh sakit semua, tulang-tulang ngilu, sembelit, diare, rambut, alis, serta bulu mata rontok, seperti yang dialami orang-orang lain yang mengalami kemoterapi. Kalau biasanya saya bergerak gesit dan berjalan cepat, usai kemo saya terpaksa berjalan tertatih-tatih. Tapi tak apa, saya anggap saja obatnya sangat manjur dan sedang bekerja.

Tiga minggu kemudian, saya kembali ke Singapura untuk kemoterapi yang kedua. Tuhan sungguh baik. Ketika hendak melakukan kemoterapi yang pertama, berdasarkan hasil tes laboratorium, CA 125 saya (jumlah sel kanker dalam darah per miligram) adalah 991 -- angka normal 0 - 35. Setelah kemoterapi yang pertama, CA 125 saya angkanya merosot menjadi 404,5. Usai kemoterapi kedua, hasil tes darah menunjukkan bahwa CA 125 saya sudah turun sampai 100,5. Dr. Ang mengingatkan, "Kanker itu tak bisa diduga, bisa sekarang turun, tapi kali berikutnya naik." Tapi saya percaya, CA 125 saya akan terus turun. Usai kemoterapi ketiga, CA 125 merosot jadi 37,2. Menurut Dr. Ang kalau hasil pemeriksaan terakhir nanti menunjukkan kanker di saluran indung telur semakin mengecil, saya bisa operasi angkat rahim. Kemungkinan lain adalah melanjutkan kemoterapi, dan yang paling ringan adalah berobat jalan dengan pil. Setelah mempertimbangkannya, saya sudah mantap, apa pun risikonya, saya tak mau operasi.

Ketika selesai menjalankan kemoterapi yang ke-4, angka CA 125 saya menjadi 19,9! Bagi saya ini bukan angka kebetulan. Sesuai nasihat dokter, saya melanjutkan kemo sampai tuntas. Kemo ke-6 -- yang terakhir, suami saya, memberi masukan, "Sebetulnya kalau rahimnya diangkat, kamu malah seperti tidak pernah kena kanker." Saya sempat bimbang, tapi tetap memutuskan tidak mau operasi. Bukan karena saya takut karena mendengar cerita-cerita bahwa setelah operasi biasanya kanker malah jadi menyebar ke mana-mana, tetapi karena saya yakin, saya tidak perlu operasi. Pada 10 Januari 2005, saya kembali menjalani PET Scan. Dan hasilnya: TAK ADA LAGI KANKER DI TUBUH SAYA! Tuhan telah menganugerahi saya mukjizat kesembuhan yang sungguh luar biasa! Saya bersyukur Tuhan memilih saya menjadi alat untuk menyatakan kebesaran dan kasih-Nya, menjadi bukti hidup bahwa Tuhan sungguh menyayangi umat-Nya, dan bahwa tak ada doa yang tak didengar Tuhan. Puji Tuhan.

Diringkas dari:

Judul majalah : Curahan Hati, Januari 2006
Penulis : Listiana Srisanti
Penerbit : Yayasan Curahan Hati
Halaman : 23 -- 26

Komentar