Disiplin Doa
Doa pada dasarnya adalah sebuah percakapan antara kita, sebagai anak-anak Allah, dan Bapa kita di surga.
Opini, refleksi, dan pemikiran seputar kehidupan doa serta kerohanian, yang mengajak Anda melihat doa secara relevan dalam konteks hidup dan pelayanan masa kini.
Doa pada dasarnya adalah sebuah percakapan antara kita, sebagai anak-anak Allah, dan Bapa kita di surga.
Minggu lalu di blog kami, kami bertanya apakah gereja Anda sehat, dan kami menerima sejumlah tanggapan dari pelanggan email kami tentang kerinduan mereka untuk melihat gereja mereka bertumbuh dalam nama Yesus. Minggu ini, kami akan membagikan tiga disiplin rohani serta cara-cara Anda dapat menantang gereja Anda untuk mempraktikkannya.
Disiplin Rohani #1: Membaca dan Menghafalkan Firman Allah
“Lalu, mereka menyanyikan suatu nyanyian baru, katanya: Engkau layak mengambil gulungan kitab itu dan membuka segel-segelnya karena Engkau telah disembelih, dan dengan darah-Mu, Engkau telah menebus orang-orang dari setiap suku, bahasa, kaum, dan bangsa bagi Allah.”
(Wahyu 5:9, AYT)
Kebangunan rohani adalah persoalan “keluarga”—yaitu keluarga Allah. Kebangunan rohani diperlukan ketika umat Allah mulai berkompromi, apatis, malas membicarakan dosa, dalam keadaan rohani yang “tertidur”, atau kehilangan perbuatan-perbuatan saleh dalam kehidupan lahiriah kita.
Biarlah para imam-Mu berbajukan kebenaran, dan biarlah orang-orang saleh-Mu bersorak-sorai.
Mazmur 132:9 (AYT)
Pemberitahuan awal: Istri saya sedang menyelesaikan sentuhan akhir sebuah renungan berjudul "Doa Syafaat yang Penuh Keberanian". Renungan ini termasuk sedikit karya yang sepenuhnya berfokus pada doa syafaat dan merupakan hasil kolaborasi antara saya dan empat belas penulis kontributor. Kami berharap dapat menerbitkannya dalam format buku cetak di Amazon pada tanggal 1 November.
Di hadapan takhta, Anak Domba memerintah—air mata dihapus, luka disembuhkan, dan semua bangsa bersatu dalam penyembahan kekal.
Dari air mata di kubur lahir pengharapan kekal: Yesus bangkit, memanggil nama, mengalahkan maut, dan memberi damai bagi yang percaya.
Di kayu salib, Yesus mengampuni musuh, menerima pendosa, dan menyerahkan nyawa-Nya—kasih ilahi menang atas dosa, maut, dan penolakan manusia.
Di Getsemani, Yesus memilih taat di tengah duka, ditinggalkan sahabat, dan ditangkap—kasih-Nya tetap teguh demi keselamatan manusia.