Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Doa

Loading

Doa Bapa Kami 1 (Matius 6:5-14)

Seluruh isi Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, menggambarkan dan membimbing kita untuk berada dalam suatu "hubungan", yaitu hubungan antara Bapa dengan kita sebagai anak-anak-Nya dan hubungan antara kita dengan sesama kita. Doa Bapa Kami menyatakan secara jelas hubungan antara Bapa dengan anak, dan pengakuan kita sebagai anak serta Dia sebagai Bapa. Secara duniawi, hubungan antara bapa dengan anak memberikan gambaran bapa yang mengayomi anaknya, bapa yang melindungi anaknya, bapa yang senantiasa mendidik, serta membimbing anaknya. Tetapi hubungan Bapa dengan anak secara rohani adalah hubungan pribadi, kesatuan antara Bapa dengan anak, dan kemanunggalan antara Bapa dengan anak. Dengan demikian, apa yang dilakukan oleh Bapa Surgawi tidak berbeda dengan apa yang dilakukan oleh bapa duniawi, yaitu melindungi dan membimbing kita dalam satu hubungan batin yang intim, sehingga roh kita dan Roh Kristus menjadi satu, dan dari kesatuan ini akan terjadi perkara-perkara yang besar, yang mendatangkan mukjizat dan berkat.

Doa Bapa Kami membawa kita untuk memiliki hati Bapa yang pasti memberikan dampak kepada pemulihan antara Bapa dengan anak dan antara Bapa dengan gereja-Nya. Yang mengajarkan Doa Bapa Kami adalah Tuhan Yesus sendiri, dan Ia berfirman: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup" (Yohanes 14:6a). Oleh karena itu, dalam Doa Bapa Kami, Yesus menuntun kita kepada jalan, kebenaran, dan hidup. Ada dua hal penting yang diajarkan Yesus dalam Doa Bapa Kami, yaitu pengakuan iman dan permohonan. Dalam Doa Bapa Kami, ada dua prinsip yang harus dilakukan.

  1. Doa Bapa Kami harus disampaikan secara roh, bukan secara lahiriah, sebab kalau hanya diucapkan secara lahiriah saja, maka tidak akan menghasilkan apa-apa. Jadi, Doa Bapa Kami tidak bisa dilakukan hanya secara agamawi. Jika Doa Bapa Kami dilakukan secara roh, maka akan menghasilkan kuasa yang berdampak pada jalan, kebenaran, dan hidup yang menghasilkan perubahan demi perubahan. Jika Doa Bapa Kami diucapkan secara lahiriah saja dalam kedagingan, maka hasilnya bukanlah kehidupan.

  2. Doa Bapa Kami harus dilahirkan dari sikap hati yang mengucap syukur karena doa ini dilahirkan dari Yesus sendiri yang sudah memberikan hidup-Nya dan berkorban untuk umat manusia. Sebagai contoh, dalam Lukas 17:11-19 dikisahkan bahwa pada waktu Yesus menyembuhkan sepuluh orang kusta, ternyata hanya satu orang saja yang datang kepada Yesus untuk mengucap syukur dan berterima kasih, sedangkan sembilan orang lainnya tidak kembali. Dari contoh ini, kita belajar bahwa KESELAMATAN itu ada 2 hal, yaitu berkaitan dengan tubuh dan berkaitan dengan roh. Keselamatan yang berkaitan dengan tubuh sifatnya sementara, tetapi yang berkaitan dengan roh adalah keselamatan kekal. Dari contoh tersebut, hanya satu orang Samaria itu yang merespons dan memahami arti keselamatan yang sejati, sehingga dalam ayat 19 Yesus sendiri berkata, "Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau." Kesimpulannya, iman akan mendatangkan keselamatan, dan dari keselamatan itu akan membuat kita memiliki sikap hati untuk mengucap syukur. Doa yang disertai ucapan syukur akan menyenangkan hati Tuhan, dan inilah kunci bahwa Doa Bapa Kami dengan sikap hati yang mengucap syukur akan mendatangkan perubahan yang luar biasa, Kerajaan Allah turun, permohonan dikabulkan, dan kebutuhan hidup dicukupkan sebab Ia adalah jalan, kebenaran, dan hidup.

"Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya." (Matius 6:5)

Pelajaran doa yang disampaikan oleh Tuhan Yesus di sini adalah bahwa doa bukanlah pekerjaan daging yang harus tampak dan dilihat orang lain; pekerjaan daging akan menghasilkan daging. Doa itu bukan bentuk lahiriahnya yang tampak oleh orang lain, melainkan pekerjaan roh dari dalam batin kita. Dalam Efesus 6:18 dikatakan ".... Berdoalah setiap waktu di dalam Roh ...." Demikian juga dalam 1 Korintus 14:15, Paulus mengatakan, "Jadi, apakah yang harus kubuat? Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku." Jadi, ada waktunya kita berdoa dengan roh kita, tapi ada waktunya juga kita berdoa dengan akal budi kita. Oleh karena itu, jiwa (akal budi, perasaan, dan kemauan) kita juga ikut berdoa. Dalam 1 Petrus 4:7 dikatakan, "Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu, kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa." Jiwa harus tenang supaya kita bisa berdoa.

Sehubungan dengan akal budi atau pikiran ini, firman Tuhan secara khusus menyatakan sebagai berikut.

  1. "Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus."(Filipi 2:5)

  2. "... supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu." (Efesus 4:23)

  3. ".... Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus." (2 Korintus 10:5b)

  4. "Akan tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada mereka, `Apakah yang kamu pikirkan dalam hatimu?`" (Lukas 5:22)

Berdasarkan ayat-ayat tersebut, dapat disimpulkan bahwa jiwa dan pikiran itu dipakai oleh Tuhan di dalam berdoa. Yang dimaksudkan di sini adalah pikiran yang sudah ditundukkan oleh pikiran Kristus. Jadi, doa adalah pertemuan atau perjumpaan di alam roh, yang membuat kita dituntun untuk hidup di dalam roh, dibimbing untuk hidup oleh roh. Dalam Roma 8:1-2, 5-9 dikatakan, "Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut .... Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh. Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera. Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah. Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus."

Dengan demikian, buah doa itu adalah "... kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri ..." (Galatia 5:22-23). Pada ayat-ayat sebelumnya, Paulus berkata, "Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging -- karena keduanya bertentangan -- sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki. Akan tetapi jikalau kamu memberi dirimu dipimpin oleh Roh, maka kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat. Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu -- seperti yang telah kubuat dahulu -- bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah" (Galatia 5:16-21). Perbuatan daging inilah yang menjadi salah satu penghambat doa, yang dapat menjauhkan hubungan intim antara Bapa dan anak-Nya.

"Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu." (Matius 6:6)

Doa adalah pertemuan yang intim. Doa adalah pertemuan pribadi. Doa adalah pertemuan khusus antara Bapa dengan anak. Doa adalah pembicaraan atau komunikasi yang sangat spesifik. Doa digambarkan seperti hubungan antara suami istri di dalam kamar dengan pintu yang tertutup, untuk menyatakan hubungan yang sangat intim. Hubungan seperti inilah yang membuat roh kita menjadi kuat. Contoh yang konkret mengenai hal ini dapat kita lihat dalam kehidupan Yusuf (Kejadian 39:1-23) dan kehidupan Simson (Hakim-hakim 15). Baik Yusuf maupun Simson, keduanya dikenal oleh Tuhan. Mereka sama-sama dipilih, dipanggil, ditetapkan, diberi kekuatan, dan dipakai secara luar biasa oleh Tuhan. Penyertaan dan hikmat yang Tuhan berikan kepada Yusuf sungguh luar biasa. Demikian pula kekuatan yang diberikan Tuhan kepada Simson pun sungguh luar biasa, sehingga hanya dengan sebuah tulang rahang keledai ia bisa membunuh seribu orang Filistin.

Akan tetapi, apa sebabnya ketika Delila terus-menerus merengek-rengek, maka Simson pun kemudian menjadi tak tahan, jatuh dalam pelukan Delila dan akhirnya ia mati? Sedangkan Yusuf, ia dibenci oleh saudara-saudaranya, dimasukkan ke dalam sumur, dijual, dijadikan budak, digoda terus-menerus oleh istri Potifar, dan kemudian difitnah hingga ia dijebloskan ke dalam penjara. Secara nalar manusia, semestinya Yusuflah yang jatuh atau meninggalkan Tuhan karena ujian dan godaan yang dihadapinya jauh lebih berat. Tetapi hal itu tidak terjadi pada diri Yusuf. Ia tetap bertahan, setia, dan taat sampai ia akhirnya menjadi raja di Mesir. Secara jasmani dan rohani, seharusnya bukan Simson yang jatuh, melainkan Yusuf yang jatuh dalam menghadapi segala penderitaan, tekanan, hinaan, godaan, dan fitnah. Tetapi justru Yusuf tidak jatuh, malah sebaliknya kariernya terus naik sampai ia menjadi pribadi yang benar-benar sukses. Mengapa bisa demikian? Penyebabnya karena roh yang dimiliki Yusuf lebih kuat daripada roh yang dimiliki Simson. Seorang hamba Tuhan bisa saja ketika berdiri di mimbar ia kelihatan kuat, penuh urapan, dan bersemangat melayani Tuhan. Tetapi begitu ia turun dari mimbar dan saat menghadapi sakit-penyakit, tekanan-tekanan, masalah keuangan, ia bisa jatuh sebab rohnya sendiri lemah.

Bagaimanakah supaya roh kita bisa menjadi kuat? Roh kita bisa menjadi kuat jika kita hidup di dalam doa, dan di dalam firman Allah. Kita melayani Tuhan seperti domba di tengah-tengah serigala. Ada banyak hal, banyak tantangan di depan yang tidak kita duga bisa terjadi. Musuh kita bukanlah darah dan daging, melainkan pemerintah-pemerintah, penguasa-penguasa, penghulu-penghulu dunia yang gelap, dan roh-roh jahat di udara. Kita dapat menang jika roh kita kuat, dan sekali lagi, kekuatan roh kita terletak pada doa dan firman yang secara konsisten kita terima setiap hari. Makanan bagi tubuh adalah nasi, lauk-pauk, dan olahraga. Makanan bagi jiwa adalah ilmu pengetahuan, bacaan yang sehat, musik, dan hiburan. Tetapi makanan bagi roh adalah firman Allah yang hidup dan doa yang membuat roh kita menjadi kuat serta menjadikan roh, jiwa, dan tubuh seimbang. Roh tidak bisa diberi makanan ilmu pengetahuan, kepandaian, harta benda, roh-roh lain di gunung-gunung, dan di lautan. Orang yang rohnya kuat akan menyala-nyala, siap, serta berani menghadapi masalah apapun dan imannya semakin bertumbuh. Orang yang rohnya kuat adalah orang yang sedang membangun hidupnya menjadi manusia Roh, karakter dan gaya hidupnya akan terbentuk dari rohnya yang kuat.

Seorang hamba Tuhan, meski pelayanannya besar dan hebat, tanda-tanda ajaib dan mukjizat-mukjizat menyertai pelayanannya, tapi kalau rohnya lemah ia bisa saja jatuh. Orang yang rohnya kuat, hidupnya berpusat pada Tuhan. Orang yang rohnya lemah, hidupnya berpusat pada dunia. Orang yang rohnya kuat bagaikan pohon dengan akarnya yang kuat, bisa menghasilkan buah yang manis (Galatia 5:22-23), ia menjadi terang dan dapat mengimpartasikannya kepada dunia. Karena di dalam doa itu ada pertemuan yang intim, pertemuan pribadi, pertemuan khusus yang mendalam, maka dampak yang dihasilkan dari kehidupan doa yang dalam adalah sebagai berikut.

  1. Pendoa Mengerti Kehendak Bapa (Yeremia 29:11-14a) Pendoa yang memiliki hubungan yang intim dengan Bapa pasti dapat mengerti kehendak Bapa, sehingga dalam pelayanannya ia bisa dengan jelas dan tegas memberikan arah, menyatakan visi dan misi yang dari Tuhan, dengan mantap ia menentukan langkah-langkah pelayanan dan menyampaikan firman dengan berani.

  2. Pendoa Mengerti Perasaan Yesus (Lukas 19:41-44) Pendoa yang memiliki kehidupan doa yang mendalam pasti dapat mengerti perasaan Yesus. Ia mengetahui hati Yesus. Ia bersyafaat berjam-jam, mencucurkan air mata, mencurahkan isi hatinya, memikul beban, dan menangisi bangsa-bangsa. Dengan tetesan air matanya, ia memuji, menyembah, dan masuk lebih dalam lagi ke hati Yesus. Pendoa seperti ini, di mana pun dan kapan pun ia berada, akan amat peka terhadap situasi dan kondisi yang dihadapi, mudah meneteskan air mata, dan sering kali muncul nyanyian baru dalam hatinya.

  3. Pendoa Mengerti Pikiran Bapa, Yesus, dan Roh Kudus (1 Korintus 2:16) Pendoa yang mengerti pikiran Bapa, Yesus, dan Roh Kudus, ke mana pun atau di mana pun berada, ia akan mengajar dan menyampaikan kebenaran firman Allah dengan pengajaran yang sistematis dan jelas. Hatinya dan tutur katanya selalu mengarah kepada mengajar.

Jika ketiga kategori hamba pendoa tersebut bersatu di dalam pelayanan, maka akan terjadi suatu gerakan pembangunan pelayanan yang luar biasa, yang dampaknya akan membuat terobosan-terobosan baru di dalam lima gerakan Roh Allah (gerakan doa, gerakan pujian dan penyembahan, gerakan wujud kasih, gerakan misi, dan gerakan kesatuan tubuh Kristus) dan pemulihan lima jawatan di dalam gereja Tuhan (nabi, rasul, gembala, penginjil, dan pengajar).

Roh yang kuat:

  1. Dibangun dalam kehidupan doa.

  2. Dibangun oleh firman Tuhan, sebagai dasar yang kokoh, dan ini berpengaruh besar untuk pembangunan selanjutnya, yaitu bila tantangan datang akan tetap berdiri tegak, teguh, tak akan jatuh, tak akan roboh. Tujuannya supaya menjadi bangunan Allah yang sempurna, siap untuk dipakai. Fondasi yang kuat akan membuat roh menjadi kuat, sebaliknya fondasi yang lemah akan membuat roh menjadi lemah.

  3. Dibangun melalui tantangan, masalah. Segala sesuatu diizinkan oleh Tuhan dengan maksud supaya melalui segala tantangan ini, kedagingan dimatikan dan memunculkan manusia roh. Jadi, semakin banyak menghadapi tantangan, semakin pula membangun manusia roh sehingga kuat, muncul karakter ilahi, dan kerendahan hati (1 Petrus 1:3-9).

"Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan." (Matius 6:7)

Doa memiliki fokus, sasaran, dan tujuannya. Doa itu bukan formalitas, namun keluar dari hati dan dilukiskan seperti Bapa dan anak yang berunding. Doa yang ada sasarannya sama seperti panah- panah api yang diluncurkan. Yang dilihat oleh Bapa adalah hati kita ini, bukan kepandaian berbicara atau fasih lidah kita, bukan ilmu pengetahuan atau kekuatan kekayaan kita. Manusia batiniah yang di dalam inilah yang diperhitungkan oleh Bapa; dan yang tersembunyi, yang di dalam hati itulah yang dibalas oleh Bapa. 1 Korintus 3:16 mengatakan, "Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?" Ayat ini menjadi prinsip yang amat penting, yaitu bahwa Roh Allah itu berada dan diam di dalam kita, sehingga Bapa mengetahui segala keperluan kita. Selanjutnya, Roma 8:26-27 mengatakan, "Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus."

"Karena itu berdoalah demikian: "Bapa kami yang di surga." (Matius 6:9a)

Ungkapan yang diajarkan Tuhan Yesus dalam bagian awal doa ini menggambarkan bahwa dasar doa, prinsip doa, dan arti doa sesungguhnya adalah hubungan yang intim, hubungan yang manis, ikatan kasih dan komunikasi antara Bapa dengan anak, dan sebaliknya. Ada banyak doa yang hambar, hanya formalitas, tak ada hubungan kasih yang intim karena kita tidak bisa menggambarkan atau membayangkan hubungan yang baik antara Bapa dengan anak seperti hubungan dengan ayah kita di dunia ini. Yang mendorong adanya hubungan intim antara Bapa dengan anak, dan sebaliknya antara anak dengan Bapa, adalah kerinduan. Tanpa adanya kerinduan yang dalam, maka hubungan itu akan menjadi formal atau sekadar bertemu saja. Pertumbuhan rohani seseorang juga sangat ditentukan oleh kerinduan hatinya, yaitu rindu untuk berdoa, rindu untuk beribadah, rindu untuk memuji dan menyembah Tuhan, rindu untuk mendengarkan firman Tuhan serta melakukannya, dan rindu untuk berjumpa dengan Yesus. Besarnya kerinduan inilah yang sangat menentukan pertumbuhan rohani seseorang.

Pada hakikatnya, karakter Bapa adalah kasih agape, artinya kasih yang berkorban atau kasih yang memberi. Kasih Bapa ini adalah kasih yang tak ada batasnya, kasih yang tanpa syarat. Meskipun saya jatuh dalam dosa, Bapa tetap mengasihi saya. Walaupun saya memberontak, Bapa tetap mengasihi saya. Sekalipun saya menjauhi Bapa, Ia tetap sabar menanti saya kembali dengan kasih-Nya. Inilah kasih yang tanpa syarat! Kasih agape selalu berkaitan dengan "koinonia", artinya persekutuan yang sangat dalam. Bapa selalu rindu bersekutu dengan anak-anak-Nya supaya Ia bisa menyalurkan atau memberikan kasih-Nya kepada anak-anak-Nya. Dalam bahasa Ibrani, doa selalu dihubungkan dengan tiga kata berikut: "Pene Hala Yahweh", yang arti harafiahnya, mengusap wajah atau membelai wajah. Inilah gambaran doa, yaitu pertemuan dengan dasar kasih dan dengan kerinduan yang dalam di mana antara Bapa dengan anak saling membelai, saling mengusap wajah, dan saling bergurau. Dan inilah yang menyebabkan seseorang tahan berdoa sampai berjam-jam karena menerima kasih sayang Bapa, menerima kesegaran, ada ikatan batin yang dalam, ada hubungan/komunikasi yang intim. Oleh karena itu, pada tingkat hubungan dalam doa seperti tersebutlah yang menyebabkan pendoa terus-menerus memburu atau mengejar Yesus di mana pun, bagaimana pun keadaannya, dan sampai kapan pun.

Doa adalah perjumpaan antara anak dengan Bapa, perjumpaan dengan kebenaran, dan kebenaran inilah yang memerdekakan kita. Kebenaran itu merupakan pelita bagi kaki kita, yang menuntun kita ke jalan-jalan Allah. Kebenaran itu mendatangkan kuasa yang mengungkap, menerobos, membongkar, membangun, dan memurnikan. Perjumpaan antara anak dengan Bapa adalah perjumpaan dengan kasih yang melembutkan, memulihkan, menghidupkan, menyelesaikan segala perkara, dan membuat kita bisa mengasihi orang lain. Perjumpaan antara anak dengan Bapa adalah perjumpaan dengan terang yang mengalahkan kegelapan, menyatakan keadilan, kebenaran dan kasih, serta yang menerobos jalan-jalan yang sukar. Perjumpaan antara anak dengan Bapa adalah perjumpaan dengan kuasa yang melumpuhkan si jahat, memberikan kemenangan demi kemenangan, dan memberikan keberanian kepada kita untuk menyatakan bahwa: "Yesus adalah Juru Selamat dunia!"

Doa adalah perjumpaan dengan sang Pencipta. Doa adalah perjumpaan dengan sang Juru Selamat. Doa adalah perjumpaan dengan sang Pembimbing. Dari perjumpaan di dalam doa inilah terjadi impartasi dan transfer karakter Yesus, impartasi kuasa, impartasi kasih, impartasi terang, dan impartasi kebenaran sehingga kita bisa menjadi saksi-saksi yang hidup. Perjumpaan dengan Bapa di dalam doa adalah perjumpaan dengan sumber kuasa, sumber kasih, dan sumber kebenaran yang mendatangkan kekuatan dahsyat untuk mengalahkan kuasa gelap. Perjumpaan dengan Sumber kuasa, kasih, dan kebenaran itulah yang membuat aliran kuasa, kasih, dan kebenaran tersebut keluar melalui kehidupan kita, dan inilah kuasa terang yang mengalahkan kegelapan. Oleh karena itu, doa membuat kita melekat dengan Sumber kuasa, kasih, dan kebenaran itu.

Orang yang berdoa sama dengan menerima napas kehidupan Allah, yang membuat kita berada dalam kehidupan Allah. Dan kehidupan Allah adalah kekal, tidak ada kematian. Waktu kita menerima Yesus, itu sama dengan artinya kita menerima kehidupan Allah dan hidup kita dikendalikan oleh kehidupan Allah. Inilah sebabnya pendoa berani menghadapi tantangan karena ada Yesus di dalam dirinya. Firman Tuhan mengatakan bahwa Roh Dia yang telah membangkitkan Yesus dari kematian ada di dalam kita (Roma 8:11). Inilah pendoa yang berjalan dalam kehidupan Allah! Kita akan memanifestasikan kehidupan Yesus. Firman-Nya mengatakan, "Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan." (Yohanes 10:10b)

Dalam 2 Tawarikh 7:14 dikatakan: "... umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, dan berbalik dari jalan-jalan-Nya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari surga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka." Berdoa dan mencari wajah Bapa ini adalah satu kesatuan yang menggambarkan kehidupan serta hubungan yang intim antara anak dan Bapa, seperti seorang anak yang berada di pangkuan ayahnya, dengan tangannya yang selalu diangkat untuk menggapai serta membelai wajah ayahnya dengan kelembutan mata yang memandang wajah ayahnya, dan sang ayah juga membelai wajah anaknya. Seperti seorang anak kecil, pada saat ia terjatuh atau mengalami kesulitan, pasti ia menangis dan mencari ayahnya. Begitu ia melihat wajah ayahnya, ia sudah merasa aman dan tenteram, ayahnya pasti segera memangku atau menggendong dia dan membelai wajahnya. Hal ini menggambarkan pertemuan yang manis antara anak dan Bapa di dalam doa.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Sekolah Doa
Penulis : J. H. Gondowijoyo
Penerbit : Andi, Yogyakarta 2004
Halaman : 29 -- 43

Komentar