Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Doa

Doa Dalam Keputusasaan

Pada akhir Oktober, ketika badai besar, yaitu "Hurricane Sandy", datang menerpa pantai timur laut, saya dan istri saya berada di Atlanta sedang menyaksikan siaran cuaca dengan kekhawatiran yang memuncak. Rumah kami yang berharga di Chesapeake Bay, tempat istirahat di hari Sabat dan kenangan musim panas yang berharga, hampir tepat di jalur badai tersebut. Ketika prediksi kehancuran menjadi semakin mengerikan, saya mengucapkan doa secara spontan, "Jangan, Tuhan - tolong, jangan!"

Ini bukan doa yang dewasa; saya segera menyadarinya. Bagaimanapun, kami selamat, bermil-mil jauhnya dari bahaya, sementara jutaan orang benar-benar dalam bahaya. Dan, di sini saya mengucapkan permohonan yang parau dan mementingkan diri sendiri untuk sebuah rumah. Bagaimana saya bisa melakukan itu, bahkan walaupun secara refleks? Ketika cahaya pagi mengungkapkan bahwa rumah kami tidak rusak, pikiran sombong yang terlintas bahwa doa saya terjawab, benar-benar dibatalkan oleh cuplikan berita yang mengerikan mengenai kematian dan kehancuran di tempat itu.

Beberapa orang akan mengatakan bahwa doa saya tidak hanya egois, tetapi benar-benar naif. Gagasan bahwa Allah dengan cara tertentu akan bertindak di tengah-tengah bencana alam adalah peninggalan dari pandangan dunia primitif. Pat Robertson mungkin mencoba untuk mengendalikan badai dengan doa, tetapi tidak bagi orang-orang beriman yang bijaksana. Ketika Gubernur Texas, Rick Perry, meminta para warga untuk berdoa memohon hujan di tengah kekeringan, sebuah surat kabar Dallas bertanya kepada para hamba Tuhan mengenai pendapat mereka. Salah satu pendeta berpendapat bahwa meskipun berdoa seperti itu dapat memperluas belas kasihan dari orang-orang yang berdoa, memercayai bahwa Allah dengan cara tertentu akan terpengaruh adalah konyol. "Nah," kata pendeta itu, "saya berharap agar kita ... berbuat lebih daripada meminta kepada para dewa agar hujan tercurah atas kita." Jika Anda benar-benar ingin mengubah cuaca, katanya, lakukan sesuatu terhadap masalah lingkungan.

Saya memahaminya. Berteriak kepada Allah di tengah-tengah kekeringan atau badai tanpa disertai dengan melakukan apa yang kita bisa untuk mengendalikan gas rumah kaca, bisa menjadi kesalehan yang kosong. Akan tetapi, saya juga bertanya-tanya, apakah semangat manusia dalam bertindak tanpa pemahaman yang bermakna tentang doa hanyalah semacam ateisme fungsional.

Dalam esainya "God of Power and Might", teolog Cambridge, Janet Martin Soskice, menunjukkan bahwa masalah doa syafaat sekarang ini adalah termasuk asumsi bahwa doa ditujukan kepada Allah yang serupa dengan Wizard of Oz (film musikal terkenal di Amerika yang mengetengahkan cerita dan tokoh dengan kemampuan sihir - Red.), "sosok ilahi yang memperbaiki sesekali". Ini adalah "Allah yang akan menyerang York Minster (Gereja Katedral Gothic terbesar di Eropa Utara - Red.) dengan petir, Allah yang bisa dibujuk atau tersanjung dengan doa syafaat" untuk menjangkau ke dalam tatanan alam dan membuat perubahan-perubahan.

Akan tetapi, menurut pendapat Soskice, itu bukanlah Allah menurut tradisi Kristen, Allah menurut Augustine, Anselm, dan Aquinas. Sosok ilahi yang memperbaiki ini, yang ada di luar penciptaan dan siap untuk campur tangan saat dipanggil, ironisnya dihancurkan oleh Pencerahan dan juga diciptakan olehnya. Allah menurut iman Kristen, kata Soskice, bukan hanya suatu kekuatan di antara yang lain, suatu makhluk -- meskipun lebih kuat -- di antara makhluk lainnya, dan kuasa Tuhan tidaklah "bermain-main dengan urutan sebab-akibat", melainkan "Pengendali seluruh yang ada, di dalam kasih yang melimpah, dan yang memberikan segalanya."

Dan, bagaimana jika Allah menciptakan sebuah dunia, Soskice melanjutkan dengan bertanya, "Di mana seorang manusia dibangkitkan dari kematian atau di mana doa-doa syafaat dikabulkan?" Maka, doa dan kebangkitan bukanlah interupsi penciptaan atau manipulasi ilahi eksternal, tetapi merupakan bagian dari "tindakan kekal penciptaan" Allah.

Pemikiran ini mendalam. Kebangkitan dan doa bukanlah pelanggaran terhadap yang disebut hukum alam, tetapi ditenun menjadi tindakan penciptaan Allah yang sedang berlangsung, sama persis seperti gravitasi atau pasang surut. Doa-doa syafaat kita, karenanya, jauh dari naif, adalah partisipasi di dalam hidup yang sama dari Allah yang selalu menciptakan. Allah, seperti yang dikatakan oleh pemazmur, "... bertakhta di atas pujian bangsa Israel" dan menopang dunia sebagian melalui doa-doa orang percaya.

Akan tetapi, bagaimana dengan doa yang bodoh, doa sepele dan doa-doa yang egois? Karl Barth memberikan penghiburan di sini. "Kita tidak tahu bagaimana doa yang tepat itu," dia mengakui, dan bahwa kita berlari kepada Allah di dalam doa dengan "terburu-buru dan gelisah" sebenarnya merupakan tanda iman kita. Dengan melakukannya, kita menyatakan kepercayaan bahwa kita berada dalam persekutuan dengan Allah, yang berdoa untuk kita dengan keluhan yang jauh lebih dalam daripada kata-kata, yang mendengar dan menjawab doa-doa "terlepas dari kelemahan atau kekuatan kita, kemampuan atau ketidakmampuan kita untuk berdoa". "Dalam doa," kata Barth, "kita berdiri di samping Allah sebagai teman."

Jadi, ketika kita berada dalam kesulitan atau membutuhkan pertolongan, kita berseru kepada Allah dalam doa-doa yang lahir dari persahabatan. Ketika kita meresahkan apakah doa putus asa seperti itu layak -– entah itu doa untuk meminta hujan, untuk penghematan rumah, atau agar anak kita tidak akan kesepian dan ditinggalkan di sekolah -- mungkin merupakan kecemasan yang tidak pada tempatnya, serta sentuhan keangkuhan, seolah-olah doa yang salah dari bibir kita bisa mengirim Allah robotik meluncur di luar kendali. Kita bukan Allah, dan hikmat Allah tidak akan terganggu oleh seruan doa kita yang bodoh.

Sesungguhnya, setiap doa, tanpa kentara dikelilingi oleh doa yang terdalam dari semua: "Bukan kehendakku, melainkan kehendak-Mu yang terjadi." (t/Jing Jing)

Diterjemahkan dari:

Nama situs : The Christian Century
Alamat URL : http://www.christiancentury.org/article/2012-11/desperate-prayers
Judul asli artikel : Desperate Prayers
Penulis artikel : Thomas G. Long
Tanggal akses : 17 April 2013

Komentar