Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Doa

Loading

Penglihatan Dalam Kemuliaan: Doa

Banyak dari kita yang mengharapkan terjadinya pertemuan pribadi dengan Allah, tetapi kita ingin agar pertemuan itu terjadi sesuai dengan kehendak kita. Kita menginginkan lawatan Allah, tetapi kita menolak untuk naik ke tempat kediaman-Nya. Kita menginginkan tempat kediaman-Nya, tetapi apakah kita menyadari apa yang terlebih dahulu Ia minta dari kita? Sebelum setiap nabi dalam Perjanjian Lama membawa pesan penghakiman kepada suatu bangsa yang dapat mendatangkan perubahan, mereka menerima penglihatan dari Takhta Allah dan tempat kemuliaan Allah. Hari ini, kita pun banyak yang merindukan lawatan Allah, tetapi kita belum mengalami pertemuan dengan Takhta Allah. Kita rindu agar Allah membawa "turun" Takhta-Nya, tetapi kita tidak mau naik ke tempat Ia berada, untuk melihat Pribadi-Nya yang sesungguhnya.

Kitab Wahyu adalah contoh yang baik dari hal ini. Ketika Yohanes, berada di Pulau Patmos, gereja pada saat itu sedang mengalami kemerosotan. Penginjilan menurun, gereja patah semangat, dan mereka telah kehilangan fokus -- hampir sama dengan kondisi kita pada hari ini. Yohanes menerima kunjungan ilahi untuk naik [ke surga] dan melihat hal-hal yang akan terjadi. Kita melihat bahwa Yohanes sedang berada dalam Roh dan berada pada Hari Tuhan. Yohanes telah mengkhususkan suatu waktu bagi Tuhan; ia menghormati hari Sabat. Ketika ia datang dengan kerendahan hati di hadapan-Nya, ia pun mengalami kunjungan ilahi. Kunjungan ilahi yang sama tersedia bagi kita hari ini. Ketika Yohanes mendekat dan memasuki Takhta Allah dan memandang keindahan Allah, ia melihat lautan kaca, takhta suci, 24 tua-tua, dan ia melihat Anak Domba yang layak mengambil gulungan Kitab serta membuka meterainya. Pengajaran tentang Takhta Allah adalah suatu topik tersendiri, tetapi yang saya ingin tunjukkan dalam hal ini adalah bahwa Yohanes menjawab panggilan dari kunjungan ilahi tersebut untuk naik ke tingkat yang lebih tinggi dari yang pernah ia lakukan sebelumnya. Ketika ia menanggapinya, ia melihat hal-hal yang kita baca dalam kitab Wahyu.

Ketika kitab Wahyu diberikan kepada gereja setelah pertemuan ilahi ini, gereja disegarkan dengan api yang baru dari surga. Gereja memahami bahwa mati bagi Injil merupakan hikmat Allah, daripada bertahan dalam penderitaan zaman ini. Injil tersebar, gereja disegarkan, penginjilan meledak kembali, dan kehidupan Allah nampak dalam hidup orang-orang percaya. Hari ini, berapa banyak dari kita yang sungguh-sungguh mengalami pertemuan ilahi seperti yang dialami Yohanes, yang mencangkokkan kehidupan Roh ke dalam gereja dan pelayanan? Berapa banyak dari kita yang telah menyediakan waktu untuk memasuki tempat doa untuk mencari wajah-Nya sampai Ia menjawab kita? Tanpa penglihatan akan kemuliaan, pesan yang kita beritakan tidak lengkap dan kita tidak dapat memberitakan pesan tersebut dengan pemahaman penuh. Saya percaya bahwa inilah salah satu tempat yang tidak dimiliki oleh gereja dan sangat dibutuhkan gereja saat ini, yaitu memasuki tempat doa dan menerima penglihatan akan kemuliaan. Kita memberitakan sebuah pesan meskipun kita tidak dapat sungguh-sungguh menjawab pertanyaan yang ada dalam hati banyak manusia, sebab kita sendiri belum mengalami hal-hal tersebut.

Pertemuan berikutnya yang kita lihat tentang Betania, tempat kediaman Yesus, menunjukkan penglihatan akan kemuliaan Allah di Bukit Zaitun, yang sesungguhnya berada di sebelah Betania. Bukit Zaitun yang berada hanya 1 atau 2 mil di luar Betania tersebut menghalangi sebagian Betania. Bukit tersebut adalah tempat pohon zaitun bertumbuh. Itu adalah tempat matahari menyinari cabang-cabangnya agar bertumbuh dan menghasilkan buah. Itu juga merupakan tempat Bapa menyinarkan wajah-Nya kepada Anak dan menghasilkan buah khusus yang melimpah. Di sinilah pertemuan yang berikutnya untuk membangun sebuah tempat kediaman tersingkap. Kita menemukan pertemuan ini dalam Lukas 9, yang secara umum disebut sebagai kejadian Yesus dimuliakan di atas gunung. Para murid diminta untuk pergi bersama Yesus dan berdoa. Yesus menyelinap dari kesibukan-Nya dan Ia ingin agar murid-murid-Nya mengalami sukacita dan kenikmatan dari doa. Dalam Yesaya 56:7, "mereka akan Kubawa ke gunung-Ku yang kudus dan akan Kuberi kesukaan di rumah doa-Ku. Aku akan berkenan kepada korban-korban bakaran dan korban-korban sembelihan mereka yang dipersembahkan di atas mezbah-Ku, sebab rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa."

Ketika Yesus membawa murid-murid ke Bukit Zaitun, Ia memberikan kepada mereka kunjungan ilahi yang kemudian dijawab oleh Yohanes tentang naik ke tempat yang lebih tinggi dan melihat hal-hal yang akan datang. Para murid memperoleh kesempatan untuk naik ke Gunung Allah yang kudus dan di sana mereka dapat mengalami sukacita doa. Meskipun demikian, ketika Yesus meluangkan waktu bercakap-cakap dengan Bapa, para murid tertidur. Hari ini, tampaknya banyak gereja sedang tertidur, dan kita harus dibangunkan untuk dapat sungguh-sungguh melihat dan memahami apa yang Allah kerjakan pada saat ini. Yesus dan Bapa sedang berada di tengah percakapan ilahi pada saat ini di gunung yang kudus. Kira-kira, apakah yang Mereka katakan?

Ketika para murid akhirnya bangun, mereka melihat wajah Yesus berubah. Alkitab berkata bahwa Ia bersinar, yang diterjemahkan sebagai "seperti dibungkus oleh terang" [TB: putih bersinar seperti terang, Red.]. Saya percaya, ketika kebangunan rohani dan kebangkitan datang, kedua hal tersebut akan terjadi secara tiba-tiba di dalam gereja. Mata kita akan terbuka dan kita akan melihat Yesus bersinar seperti terang di hadapan kita. Terang Injil dan pewahyuan akan Yesus ini akan meliputi kita sepenuhnya. Inilah kebenaran kita yang bersinar sebagai keselamatan kita, menyala seperti Anak Domba (Yesaya 62:1). Keselamatan kitalah yang mengakibatkan terang itu. Kebenaran kitalah yang menangkap refleksi dari api keselamatan. Refleksi inilah yang dilihat oleh orang lain. Mereka tidak dapat sungguh-sungguh melihat keselamatan kita; mereka melihat buahnya, sama seperti buah zaitun menyatakan karya yang tak terlihat dari cabang-cabangnya. Pada pertemuan di atas gunung ini, para murid mengalami hal yang sama seperti yang Yohanes alami. Mereka semua melihat dan mendengarkan kemuliaan Allah dinyatakan dalam saat-saat doa ini. Pertemuan semacam inilah yang mengubah kita selamanya.

Doa menjadi bagian penting dalam setiap kebangunan rohani, sebab dengan berdoa hati kita diubahkan. Doa adalah tempat kerinduan batin diwujudkan. Doa adalah tempat setiap orang percaya diubahkan dan mendengar serta melihat alam kemuliaan. Doa adalah kunci dalam melepaskan mukjizat-mukjizat yang kita lihat dalam kebangunan rohani. Doa adalah pintu yang terbuka dari alam kemuliaan yang sangat kita rindukan. Tanpa doa, tidak ada tempat kediaman Allah sebagai tempat bercakap-cakap. Untuk memiliki percakapan, Anda harus dekat dengan seseorang agar dapat berbicara dengannya dan mendengarkannya. Doalah yang mengundang Allah untuk mendekat.

Mungkin kita rindu agar orang lain dan bukan kita sendiri yang mendoakan kita. Mungkin kita rindu agar pemimpin kita yang membuka jalan. Setiap orang percaya harus memanfaatkan kesempatan untuk mendekat kepada Allah, walaupun sebagai pemimpin kita harus memimpin jalan ke dalam waktu doa. Setiap orang percaya memiliki kemampuan untuk membangun tempat kediaman Allah. Hal-hal lainnya yang kita lihat dari pertemuan di gunung Transfigurasi [tempat Yesus berubah rupa, Red.] adalah bahwa hal itu terjadi untuk orang-orang lingkar dalam. Ia mengajak Petrus, Yohanes, dan Yakobus, ketiga murid yang terdekat dengan hati-Nya. Ia mengundang mereka ke tempat doa. Petrus sangat tergerak oleh apa yang ia lihat sehingga ia berkata, "Guru, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan sekarang tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa, dan satu untuk Elia" (Lukas 9:33), tanpa mengetahui apa yang sesungguhnya ia katakan.

Kerinduan hati Petrus setelah ia mengalami saat doa ini, terlepas dari kenyataan bahwa ia tertidur, muncul ketika ia melihat suatu pandangan dari alam kemuliaan Allah dan manifestasi hadirat-Nya sehingga ia tidak ingin pergi tetapi ingin menyembah. Ia ingin pergi ke tempat ia dapat merasakan kedekatan [Allah] dan tidak ingin pergi. Sering kali kita mengalami hal yang sama dalam penyembahan atau doa kita -- seakan-akan Allah begitu dekat dan kita ingin tinggal. Saat-saat seperti ini waktu terasa seperti berhenti, lalu tiba-tiba saat-saat tersebut berlalu. Tuhan ingin agar kita lebih dari sekadar tinggal. Ia ingin agar kita menjadi bagian dari apa yang sedang Ia lakukan, dengan cara menikmati-Nya. Hal yang kita butuhkan adalah meningkatkan dan memperbesar kapasitas kita bagi Dia. Kita harus memperbesar fokus kita. Kita harus meningkatkan kemampuan kita dalam doa dan menyembah. Lagipula, apakah kita sekadar mengejar lawatan-Nya ataukah kita ingin berdiam?

Setelah Petrus berbicara, awan kemuliaan datang dan menaungi mereka. Banyak kali, Allah datang dan jalan-jalan-Nya lebih tinggi daripada jalan-jalan kita dan rancangan-Nya menyatakan sesuatu yang sama sekali berbeda dari apa yang kita rancangkan. Ayat tersebut berkata bahwa awan kemuliaan datang dan menaungi mereka. Kata menaungi berarti "membungkus atau membayangi". Kata itu berasal dari bahasa Yunani yang berarti "bayangan yang terjadi karena menangkap terang" atau "sebuah gambaran disebabkan oleh obyek yang melambangkan bentuk dari obyek tersebut". Awan yang menaungi mereka, kemuliaan Allah, berada pada sisi belakang dan merefleksikan awan yang memancarkan bayangan tersebut kepada mereka. Dan Alkitab berkata bahwa mereka menjadi takut ketika mereka masuk ke dalam awan itu. Ketika kita memasuki hadirat Allah yang sejati, takut akan Tuhan akan mencengkeram hati kita.

Banyak dari apa yang kita sebut sebagai kemuliaan Allah atau awan kemuliaan Allah sesungguhnya hanyalah refleksi dari kecemerlangan Allah yang terlihat, dan bukan diri-Nya sendiri. Kita begitu takjub oleh karena urapan yang segar atau tingkat urapan yang lebih dalam sehingga kita mengacaukan antara urapan dengan kemuliaan. Kita merasa puas dengan urapan, sementara yang Tuhan ingin berikan adalah kemuliaan. Urapan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan umat, tetapi kemuliaan adalah untuk menyatakan hadirat-Nya. Urapan adalah bagi bagian luar rumah, kemuliaan bagi bagian dalamnya. Kemuliaan Allah turun dan manifestasi hadirat Allah datang, takut akan Allah akan mencengkeram hati manusia dan kita akan tahu pasti bahwa mereka baru saja bertemu Yesus. Kesaksian mereka akan menjadi lebih dalam, pesan yang keluar lewat hidup mereka akan semakin besar, dan datang kepada Allah dalam doa akan menjadi suatu sukacita. Inilah yang terjadi dalam hidup orang-orang yang telah melihat dan mengalami penglihatan akan kemuliaan semacam ini.

Para murid memiliki kesimpulan yang sama dengan Yohanes Pembaptis bahwa Yesuslah Kristus, Dialah Anak Allah, dan Dialah yang [dinubuatkan] akan datang. Pewahyuan semacam ini hanya terjadi kepada mereka yang sungguh-sungguh mencari kebangunan rohani. Doa atau komunikasi ilahi memampukan kita untuk melihat keindahan kekudusan dan memasuki iman yang sejati. Tidak ada orang banyak yang ditambahkan di sini; inilah tempat rahasia dari kebangunan rohani. Inilah tempat doa. Inilah karya tersembunyi yang tetap tidak terlihat. Inilah tempat tanda-tanda ajaib dan mukjizat dilahirkan. Ketika mereka turun dari Bukit Zaitun, Petrus, Yakobus, dan Yohanes tidak menceritakan kepada siapa pun apa yang terjadi. Keesokan harinya ketika mereka turun untuk menunjukkan bahwa mereka telah melewatkan sepanjang malam dalam doa, orang banyak berbondong-bondong menantikan mereka di kaki bukit.

Kehidupan tanpa doa adalah kehidupan tanpa kuasa. Dalam Lukas 9:38-42, Yesus bertemu dengan seseorang yang memiliki anak yang kerasukan setan. Pria tersebut menjelaskan bahwa mendadak anaknya berteriak dan roh tersebut mengguncang-guncangkannya sehingga mulutnya berbusa dan roh itu menyiksa dia. Ia telah meminta kepada murid-murid-Nya untuk mengusir roh itu tetapi mereka tidak dapat. Lalu Yesus berkata, "Hai kamu angkatan yang tidak percaya dan yang sesat, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu dan sabar terhadap kamu? Bawa anakmu itu kemari!" (ayat 41) Ia mengusir setan itu keluar.

Para murid dihardik, Ia menyebut mereka tidak percaya dan sesat. Mereka baru saja mengalami Bukit Zaitun, tempat doa. Hal yang Yesus maksudkan adalah bahwa mereka harus melewatkan waktu dalam doa jika mereka ingin memiliki kuasa untuk mengalahkan segala sesuatu yang akan menyerang serta melawan mereka dan orang-orang. Iman timbul dan selalu bergantung pada pemahaman dan penerimaan kita akan pengampunan ketika kita bertobat. Jika kita tidak memiliki keyakinan dalam hal ini, bagaimana mungkin kita dapat melangkah lebih jauh untuk mengusir setan?

Bukit Zaitun memiliki tipologi lain di dalamnya. Semak-semak zaitun tumbuh di sisi bukit agar memperoleh sinar matahari paling banyak agar hidup dan bisa menghasilkan buah zaitun yang paling besar. Zaitun itu lalu dipetik dan diperas dan menghasilkan minyak zaitun. Sering Allah membuat kita pergi ke tempat yang disinari terang-Nya, sebab kerinduan-Nya adalah mengirik kita agar minyak atau urapan tersebut dapat mengalir dari hidup kita. Dalam doa sering kali terjadi pemerasan dari hal-hal yang akan melawan kita. Hal itu memampukan kita untuk berjalan dalam urapan yang lebih besar dan memampukan urapan Allah yang telah ada menyatakan diri. Sama seperti zaitun yang tidak memiliki nilai sampai ia diperas, sebab yang dicari adalah minyak yang ada di dalamnya, hal yang sama juga yang Allah cari dari hidup kita. Karunia-karunia dan hal-hal yang tersembunyi yang telah Ia taruh dalam hidup kita dan urapan yang belum terpakai harus bangkit ke permukaan. Allah rindu melakukannya. Ia rindu urapan tersebut bertambah dalam hidup kita.

Mungkin kita harus pergi ke tempat yang lebih tinggi terlebih dahulu sebelum kita melihat lawatan turun. Mungkin kita harus memahami dan memiliki takut akan Allah seperti yang dimiliki oleh mereka yang berada di gunung tempat Yesus dimuliakan, agar ketika Allah menyatakan diri dalam ibadah-ibadah kita dan melakukan hal-hal yang dahsyat, kita tidak akan mencuri kemuliaan tersebut bagi diri kita sendiri, tetapi memuliakan dan menyukakan Dia, sebab kita tahu bahwa segala yang kita miliki berasal dari-Nya. Bahkan urapan adalah milik-Nya yang Ia titipkan pada kita. Dialah yang telah membawa kehidupan atas kita. Dialah yang telah membawa kita pada kepenuhan dari yang kita hidupi sekarang. Namun, kita tidak akan pernah melihat kuasa mengalir melalui gereja sampai para pemimpin terlebih dahulu pergi ke tempat tinggi, lalu umat mengikuti mereka. Kita harus naik ke Bukit Zaitun dan melihat Yesus dimuliakan dalam hidup kita, melihat Dia sebagaimana adanya Dia, memahami alam kemuliaan, dan menerima penglihatan akan kemuliaan.

Diambil dan disunting dari:

Judul asli buku : The House of Bethany
Judul buku : 5 Kunci Kebangunan Rohani di Kota Anda
Judul artikel : Penglihatan dalam Kemuliaan: Doa
Penulis : Greg Crawford
Penerjemah : Leony Melina
Penerbit : Yayasan ANDI, Yogyakarta 2005
Halaman : 48 -- 58

Komentar