Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Doa

Pertanyaan Seputar Doa 1

APAKAH DOA ITU?

Doa itu percakapan dengan Allah -- berbicara dengan Dia, mendengarkan Dia, berada di hadirat-Nya. Percakapan dalam doa termasuk menceritakan segala pemikiran, perasaan, keragu-raguan, masalah, keluhan, harapan, dan kegembiraan Anda. Doa itu melibatkan juga soal pengakuan dosa, penyembahan Allah, penyerahan diri Anda untuk mematuhi Dia, pengucapkan terima kasih, pengajuan permohonan bagi Anda dan bagi orang-orang lain, dan intinya adalah penyediaan diri Anda bagi Allah.

MENGAPA SAYA HARUS BERDOA?

Jika Anda mengasihi seseorang, Anda ingin bersama-sama dengan dia; Anda ingin menceritakan apa yang ada di dalam pikiran Anda dan menikmati kehadiran orang yang Anda kasihi itu. Doa adalah cara kita memakai waktu untuk bercengkerama dengan kekasih kita dan menjadi akrab dengan Dia. "Kepunyaan kekasihku aku, kepadaku gairahnya tertuju." (Kidung Agung 7:10) Sebagaimana Allah itu Kekasih kita, terlebih dari itu Ia adalah Tuhan kita. Doa adalah salah satu cara untuk melatih kehendak kita untuk melayani Dia, memuja kebesaran-Nya, mengakui kelemahan kita, mendapatkan perspektif-Nya, dan berusaha mengetahui instruksi-instruksi-Nya yang spesifik. Doa dan pemahaman Alkitab bekerja sama untuk membenamkan kita ke dalam sikap, tata nilai, keinginan, cara-cara, dan sasaran-sasaran Tuhan kita. Jika kita ingin menaati Dia, kita perlu menyediakan waktu untuk bersama-sama dengan Dia.

Akhirnya, Allah adalah Bapa kita (Roma 8:15). Allah tidak menciptakan robot-robot untuk melakukan kehendak-Nya dengan otomatis. Ia menciptakan manusia yang dapat menjadi anak-anak-Nya, baik laki-laki maupun perempuan. Baik kita anak-anak maupun orang-orang dewasa secara rohani, kita semuanya memunyai berbagai kebutuhan, perasaan, dan tanggung jawab. Bapa kita mengasuh dan mengajar kita dengan disiplin, tidak menjadi soal apakah kita meminta-Nya atau tidak karena Ia mengetahui kebutuhan-kebutuhan kita. Tetapi, sama seperti ayah duniawi manusia, Ia mau supaya anak-anak-Nya mengatakan kepada-Nya apa yang mereka inginkan, bagaimana perasaan mereka, dan bagaimana mereka menghargai Bapa mereka.

APAKAH PENGUCAPAN SYUKUR, PUJIAN, DAN PENYEMBAHAN ITU?

Alkitab tidak membuat perbedaan yang tegas antara pengucapan syukur, pujian, dan penyembahan, sehingga orang-orang Kristen telah mengembangkan aneka ragam pengertian yang banyak menolong. Berikut ini beberapa pengertian yang mendalam.

Penyembahan dimulai dengan pujian. Pujian hanyalah tindakan yang menyatakan penghargaan atau mengakui kebaikan seseorang atau sesuatu. Kita memuji atlet, wanita cantik, minuman, makanan enak, dan sebagainya. Pujian sebagai tindakan yang menyatakan penghargaan atau kekaguman dapat diterapkan baik kepada barang maupun kepada Allah. Sebaliknya, penyembahan hanya dapat dikenakan kepada hal yang ilahi.

Pujian adalah kegiatan manusia yang mengakui Allah. Penyembahan adalah kegiatan Allah di dalam diri kita sebagai respons terhadap pujian yang kita berikan. Penyembahan itu diliputi oleh keajaiban keakraban; Allah sendiri yang mengambil inisiatif di dalamnya. Dalam penyembahan, kita bergerak melampaui apa yang sedang kita lakukan sebagai manusia, dan kita tenggelam dalam apa yang sedang dilakukan Allah di dalam dan melalui kita. Pujian mempersiapkan kita untuk memasuki penyembahan, tidak lebih dari itu.

Dari banyak kata Ibrani untuk "penyembahan" dalam Perjanjian Lama, "shachah" adalah salah satu yang umum. Artinya adalah "membungkukkan diri sampai ke bawah". Allah bertambah-tambah; aku berkurang-kurang. Aku terkagum-kagum oleh-Nya. Diriku mati, dan bersama dengan itu juga kehormatanku, martabatku, dan keangkuhanku (Keluaran 34:5-9, Yosua 5:13-15).

Ada orang Kristen yang memandang seluruh kehidupannya sebagai suatu penyembahan atau kebaktian, kita "(melakukan) semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus" (Kolose 3:17), dengan "mempersembahkan tubuh (kita) sebagai persembahan yang hidup... itu adalah ibadah (kita) yang sejati" (Roma 12:1). Ada lagi yang lain yang memandang pekerjaan dan pelayanan sebagai ibadah yang melimpah keluar dan merupakan sesuatu yang dipersembahkan kepada Allah dalam ibadah. Pujian dalam kedua pandangan itu, adalah aspek dari ibadah; di dalamnya kita merayakan siapa Allah itu dan apa yang telah dilakukan Allah.

MENGAPA SAYA HARUS MEMUJI ALLAH? APAKAH ALLAH ITU EGOTISIK?

    Dengan memberi pujian, Anda terlepas dari sifat yang suka memusatkan segala sesuatu pada diri Anda sendiri. Allah menekankan pujian, pengucapan syukur, dan penyembahan bukan karena Ia "egotis" dan memunyai keinginan-keinginan yang mementingkan diri sendiri, melainkan karena Allah memerhatikan hal yang terbaik bagi kita. Pujian dan pengucapan syukur mengangkat kita naik untuk dapat mengatasi sifat kita yang suka memusatkan segala sesuatu pada diri kita sendiri kepada sifat yang suka memusatkan segala sesuatu kepada Kristus. Hal-hal itu akan membuat kita memusatkan hati dan pikiran kita pada Tuhan dan menjadikan kita makin menyerupai Kristus. Kita menipu diri kita sendiri jika kita melalaikannya, karena hal-hal itu bagaikan obat kuat yang menambahkan sukacita dan kekuatan rohani.

    (Egotis dan egotistik berbeda dari egois; egotis merupakan istilah filosofi yang berhubungan dekat dengan narsis dan narsistik dan berhubungan dengan dirinya sendiri, sementara egois berkenaan dengan tindakannya terhadap orang lain. Egotisme lebih buruk dan lebih memalukan daripada egoisme. Sifat egotistik berarti selalu dan secara berlebihan menyebut-nyebut dan menonjolkan diri sendiri dalam segala hal.)

  1. Anda akan bertumbuh dalam iman dan pengalaman akan kuasa Allah. Pujian dan penyembahan terhadap Allah menguatkan iman kita karena kita memusatkan diri kita pada apa yang kita ketahui sebagai kebenaran tentang Dia dan tidak memusatkan diri kita pada bagaimana perasaan kita tentang keadaan kita. Itu sebabnya, pujian dan penyembahan membuat Allah bebas untuk bertindak dengan kuasa. Waktu menghadapi malapetaka, Raja Yosafat memuji Allah sampai 6 ayat yang panjang (2 Tawarikh 20:6-11).

    "Ya Tuhan, Allah nenek moyang kami, bukankah Engkau Allah di 
    dalam sorga? Bukankah Engkau memerintah atas segenap kerajaan bangsa? 
    Kuasa dan keperkasaan ada di dalam tanganMu, sehingga 
    tidak ada orang yang dapat bertahan melawan Engkau." (ayat 6)

    Kemudian, dalam ayat 12, Yosafat secara singkat menyatakan kesusahannya. Ketika jawaban Tuhan datang, Yosafat dan seluruh bangsa memberi respons seperti berikut.

    "Lalu berlututlah Yosafat dengan mukanya ke tanah. Seluruh 
    Yehuda dan penduduk Yerusalempun sujud di hadapan TUHAN dan 
    menyembah kepada-Nya. Kemudian orang Lewi ... bangkit berdiri 
    untuk menyanyikan puji-pujian bagi TUHAN, Allah Israel, dengan 
    suara yang sangat nyaring." (2 Tawarikh 20:18-19)
  2. Anda mengalami kehadiran Allah. Dalam bukunya "Reflections on the Psalms", C.S. Lewis menggambarkan saat-saat ketika ia bergumul dengan masalah mengapa pujian itu penting: "Saya tidak melihat bahwa di dalam proses disembah itulah Allah mengomunikasikan kehadiran-Nya kepada manusia. Memang itu bukanlah cara satu-satunya. Tetapi bagi banyak orang dalam banyak kejadian, 'keindahan Tuhan' diperlihatkan terutama dan hanya sewaktu mereka menyembah Dia."

  3. Allah memang layak untuk dipuji dan disembah. Selanjutnya, kita memuji Allah karena Ia memang layak untuk dipuji. Kita dalam segala hal berutang kepada-Nya, sehingga kita ini bukan manusia jika kita tidak meluap-luap dengan rasa cinta dan terima kasih kepadanya.

    Aku akan memuji Engkau, ya TUHAN,
     Sebab Engkau telah menarik aku ke atas (Mazmur 30:2)
    Ya Tuhan dan Allah kami,
     Engkau layak menerima puji-pujian
     dan hormat dan kuasa,
     Sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu;
     dan oleh karena kehendak-Mu
     semuanya itu ada dan diciptakan. (Wahyu 4:11)
  4. Anda akan menikmatinya. Akhirnya, pujian dan penyembahan merupakan kenikmatan bagi kita. C.S. Lewis menulis: "Saya pikir kita senang memuji apa yang kita nikmati karena pujian bukan hanya mengungkapkan tetapi juga menyempurnakan kenikmatan itu: hal itu merupakan semacam kelengkapan yang sudah ditetapkan. Jika 2 orang sedang bercinta, mereka terus-menerus saling mengatakan betapa cantik atau gagahnya kekasih mereka. Itu bukan karena mereka ingin saling memuji, tetapi karena kesenangan itu baru sempurna bila diucapkan atau dinyatakan. Makin berharga objeknya, makin besar kesenangannya. Seandainya jiwa manusia, yang merupakan hasil ciptaan Allah itu, dapat secara sempurna "menghargai", artinya mengasihi objek yang paling berharga dibandingkan dengan segala sesuatu, dan bersamaan dengan itu pada setiap saat mengungkapkan dengan sempurna kesenangan ini, maka jiwa itu akan berada dalam keadaan sukacita yang luar biasa sempurna.

Gagasan-Gagasan untuk Penerapan

Bacalah beberapa dari Mazmur pujian dengan suara yang nyaring (misalnya pasal-pasal: 8, 19, 29, 30, 33, 47, 66, 100, 103 s/d 108, 111, 113, 136, 138, 145 s/d 150), atau dari Wahyu (4:8,11; 5:9-10, 12-13; 7:12; 11:15-18; 15:3-4; 19:1-8). Perhatikanlah bagaimana para penulisnya mengungkapkan berbagai perasaan mereka tentang Allah, dan perhatikanlah berbagai hal yang menyebabkan mereka memuji Dia. Kemudian, ambillah waktu untuk mengatakan kepada Allah apa yang Anda hargai tentang Dia. Janganlah melakukan sesuatu untuk membangkit-bangkitkan emosi Anda, tetapi biarlah pujian membawa Anda sampai pada titik pada saat Anda secara rohani (bahkan mungkin secara fisik juga) bertelut dan menyembah Tuhan.

BAHAYA-BAHAYA APAKAH YANG ADA DALAM PUJIAN DAN BAGAIMANA SAYA DAPAT MENGHINDARINYA?

Pemikiran atau pandangan yang keliru tentang pujian dapat menimbulkan berbagai masalah: Orang Kristen yang sebenarnya bukan Kristen, yang hanya bertopengkan senyum walaupun di dalamnya terdapat berbagai perasaan yang ditekan; orang Kristen yang tidak berserah yang melalui pujian, yang berharap dapat membuat Allah melakukan apa pun yang mereka inginkan; orang Kristen yang sedang bingung, mereka yakin bahwa Allah yang menyebabkan terjadinya pencobaan yang sedang mereka alami, padahal sebenarnya mereka sendirilah yang membuat hal itu terjadi; orang Kristen pasif yang menggunakan pujian untuk memecahkan masalah-masalah hidup mereka dan menggantikan akal budi mereka; dan orang Kristen yang pemarah, yang menyalahkan Allah karena tidak memberi imbalan untuk pujian-pujian mereka dengan kehidupan yang bebas dari kesukaran.

Jika kita memandang pujian sebagai obat untuk semua penyakit dan rahasia utama untuk keberhasilan dalam kehidupan Kristen, maka kita cenderung untuk mengabaikan hal-hal penting lainnya -- doa untuk diri kita sendiri dan orang-orang lain, makan dari firman Allah dengan rajin, dan setiap hari taat kepada Kristus sebagai Tuhan. Jika kita terlalu banyak meletakkan penekanan pada aspek emosional dari pujian, kita menjadi kecewa bila kita sampai pada salah satu dari periode-periode kehidupan kita yang kering secara emosional. Atau, kita mematahkan semangat saudara-saudara seiman kita yang tulus namun yang jarang mengalami emosi-emosi yang kuat pada waktu mereka memuji, dan membuat mereka berpikir bahwa mereka tidak akan pernah bisa membina suatu kehidupan yang suka memuji secara wajar. Sebaliknya, jika kita takut dan menghindari emosi ketika kita memuji, maka kita akan kehilangan banyak kesenangan dan manfaat yang sebenarnya dapat kita nikmati.

Untuk menghindari jebakan yang menjatuhkan, ingatlah akan prinsip-prinsip berikut ini.

  1. Hiduplah berdasarkan fakta, bukan berdasarkan perasaan. Perasaan mudah diombang-ambingkan oleh bermacam-macam angin, seperti apakah kita cukup tidur semalam, atau apa yang dikatakan seseorang kepada Anda sejam yang lalu; perasaan bukan sarana yang baik untuk mengukur kenyataan. Pusatkan perhatian Anda pada apa yang Anda ketahui sebagai hal yang benar tentang Allah, diri Anda, dan dunia ini. Ini berarti membangun pujian berdasarkan firman Allah, dan hidup menurut kehendak Allah dan anugerah Allah dan bukannya hidup menurut berbagai perasaan Anda. Pujian kepada Allah sering dapat mengangkat emosi Anda dan pada waktu yang bersamaan iman Anda dikuatkan dan Anda dibawa ke dalam hadirat Allah, tetapi janganlah memakai pujian sekadar untuk mendapatkan perasaan atau emosi yang melambung tinggi.

  2. Janganlah berpura-pura merasa bahwa Allah itu hebat kalau Anda sesungguhnya tidak merasa demikian. Anda bebas memilih untuk menyembah Allah sebagai langkah kehendak Anda, sambil mengakui kepada Allah dan orang-orang lain bahwa Anda merasa sedih, khawatir, bimbang, atau marah. Akuilah perasaan-perasaan Anda dengan jujur, hanya saja janganlah membiarkan perasaan-perasaan itu menguasai Anda.

  3. Janganlah berusaha untuk memakai pujian untuk menyogok Allah supaya melakukan apa yang Anda inginkan. Ini merupakan pujian yang bersifat menjilat dan yang dilakukan secara terencana, bukan pujian yang bersifat menyembah, dan hal ini sama saja dengan upacara magis yang bukan Kristen.

  4. Janganlah memakai pujian untuk mencari penyelesaian untuk berbagai masalah dalam hidup ini sebagai pengganti dari usaha yang seharusnya dilakukan dengan menggunakan akal budi yang sudah Tuhan berikan.

MENGAPA SAYA HARUS MENGAKUI DOSA-DOSA SAYA KEPADA ALLAH? BUKANKAH ALLAH SUDAH MENGETAHUI SEMUANYA ITU?

Mazmur 32:3-5, 51:1-19, dan 1 Yohanes 1:8-9 melukiskan maksud-maksud pengakuan seperti berikut ini.

  1. Dosa-dosa yang tersembunyi itu membusuk dan merusak serta menceraikan dan menghancurkan. Allah mengetahui dosa Anda, tetapi jika Anda belum mengakuinya secara terbuka, maka Anda dapat menipu diri Anda dengan meyakinkan diri Anda bahwa itu sebetulnya bukan dosa, dan bahwa Anda tidak perlu melakukan sesuatu dengan dosa itu, dan bahwa hal itu tidak menimbulkan sesuatu kerugian bagi Anda. Pengakuan adalah langkah awal menuju pertobatan, berpaling, dan menghentikan tindakan atau sikap yang salah itu.

  2. Pengakuan mendatangkan pengampunan. Jika Anda tidak merasa bersalah, darah Tuhan Yesus tidak dapat melakukan apa-apa bagi Anda. Jika Anda mengakui bahwa Anda bersalah, maka barulah Allah dapat menyucikan Anda. Kesalahan yang diangkat ke permukaan adalah sahabat Anda, karena hal itu akan memungkinkan salib berpengaruh pada situasi itu.

  3. Pengakuan mengantar Anda ke keadaan yang sesungguhnya. Allah menghendaki agar hubungan Anda dengan Dia didasarkan pada kebenaran dan kenyataan. Kata dalam bahasa Inggris yang artinya mengakui, dalam bahasa Latin berarti "mengatakan hal yang sama seperti". Setuju dengan Allah tentang apa yang benar itu berarti mendasarkan hubungan Anda pada kenyataan. Pengakuan membebaskan Anda dari belenggu-belenggu kebohongan, penipuan terhadap diri sendiri, dan dari khayalan, karena iblis memang menghendaki Anda hidup di dalam khayalan.

  4. Pengakuan memulihkan hubungan Anda dengan Allah. Jika Anda hidup dalam kebohongan dan tidak mau mengampuni, tidaklah mungkin bagi Allah untuk mendengar dan menjawab doa-doa Anda (Yesaya 59:1-2).

  5. Pengakuan membuat kehidupan Anda lebih menyenangkan. Tidak mau mengaku berarti Anda kehilangan sukacita, damai, penghiburan, dan pada akhirnya juga kesehatan Anda. Keadaan demikian akan lebih banyak merugikan diri Anda.

BAGAIMANA CARANYA SAYA MENGAKUI DOSA SAYA?

Mazmur 51 merupakan suatu contoh yang luar biasa tentang pengakuan. Kadang-kadang, Anda ingin mengakui secara spesifik dosa-dosa yang telah Anda perbuat, sedangkan pada waktu-waktu lain Anda hanya perlu mengakui kelemahan-kelemahan Anda secara umum di hadirat Tuhan.

Suatu segi yang penting dalam pengakuan sering kali adalah sekadar mengatakan kepada Allah bagaimana perasaan Anda tentang berbagai hal. Kitab Mazmur penuh dengan apa yang dapat kita sebut "pengakuan negatif", di dalam pengakuan itu pemazmur mengatakan kepada Allah bagaimana perasaan hatinya, betapa kecewanya ia terhadap Allah, dan seterusnya.

"Aku kehabisan tenaga dan remuk redam
 aku merintih karena degap-degup jantungku." (Mazmur 38:9)

Pemazmur melakukan hal ini bukan untuk bergelimang dalam sikap mengasihani dirinya sendiri, tetapi untuk mengawali doanya dengan kejujuran. Dalam Mazmur 38 dan di bagian lain, Daud menyelingi keterusterangan semacam ini dengan keputusan-keputusan untuk memercayakan diri kepada Tuhan, walaupun hal tersebut bertentangan dengan perasaan-perasaannya dan dengan permohonan-permohonannya kepada Allah yang dipercayainya.

"Tuhan, Engkau mengetahui segala keinginanku,
 dan keluhku pun tidak tersembunyi bagi-Mu;
 jantungku berdebar-debar, kekuatanku hilang
 dan cahaya mataku pun lenyap daripadaku
 Sahabat-sahabatku dan teman-temanku menyisih karena
 penyakitku
 dan sanak saudaraku menjauh....
 Tetapi aku seperti orang tuli, aku tidak mendengar
 seperti orang bisu yang tidak membuka mulutnya....
 Sebab kepada-Mu, ya TUHAN, aku berharap
 Engkau yang akan menjawab, ya Tuhan, Allahku....
 Ya, aku mengaku kesalahanku,
 aku cemas karena dosaku
 Jangan tinggalkan aku, ya Tuhan, Allahku
 janganlah jauh daripadaku!
 Segeralah menolong aku,
 ya Tuhan, keselamatanku!" (Mazmur 38:10-12, 14, 16, 19, 22-23)

Mengakui perasaan-perasaannya dan sikap-sikapnya yang berdosa menolong Daud untuk melepaskan dosa-dosa itu dan mengambil keputusan untuk memercayakan diri kepada Allah. Berikut ini ada dua peringatan yang perlu diingat dalam pengakuan.

  1. Jangan memupuk perasaan bersalah. Sering kali, supaya pasti, kita perlu minta ampun untuk sesuatu yang jelas dan pasti. Kalau demikian tidak akan ada kesulitan apa-apa. Tetapi, sama seperti Anda, saya sering berada di dalam keadaan kurang pasti yang sulit diatasi: entah itu merupakan suatu perasaan berdosa yang samar-samar atau merupakan suatu pembenaran diri yang diam-diam dan sama samar-samarnya. Apakah yang harus kita lakukan bila berada di dalam keadaan yang demikian?

    Secara keseluruhan, saya menyimpulkan bahwa orang tidak dapat melakukan sesuatu secara langsung terhadap kedua perasaan semacam itu. Orang tidak boleh memercayai yang mana pun dari keduanya itu. Memang, bagaimana mungkin hal yang samar seperti kabut itu dapat dipercaya? Saya kembali pada ucapan Rasul Yohanes: "Jika kita dituduh olehnya, Allah adalah lebih besar dari pada hati kita" (1 Yohanes 3:20). Dan demikian pula, jika hati kita merayu kita, Allah itu lebih besar daripada hati kita ....

    Jika saya benar, kesimpulannya ialah bahwa apabila suara hati kita tidak memojokkan kita dengan tegas melainkan hanya menuduh samar-samar atau membenarkan samar-samar, kita harus berkata kepadanya, "Diamlah, jangan banyak mulut" -- dan berjalanlah terus.

  2. Jangan menjadikan pengakuan itu sebagai pengganti pertobatan. Penyesalan yang dalam bukanlah pertobatan. Yang pertama merupakan perasaan dan kata-kata sedangkan yang kedua merupakan tindakan.

APAKAH GUNANYA DOA PERMOHONAN JIKA ALLAH MENGETAHUI APA YANG SAYA BUTUHKAN LEBIH DARI SAYA SENDIRI MENGETAHUINYA?

Permohonan dalam doa itu sebenarnya hanyalah memohon kepada Allah apa yang kita inginkan. Karena Allah selalu mengetahui kita secara sempurna, termasuk kebutuhan-kebutuhan dan keinginan-keinginan kita, maka kita melihat seakan-akan doa permohonan itu tindakan yang bodoh. Namun dengan mengungkapkan keinginan-keinginan kita dengan sukarela, kita memperlakukan Allah sebagai pribadi, bukannya sebagai benda. Demikian juga kita memperlakukan Dia sebagai Bapa, Kekasih, Sahabat, dan bukannya sebagai suatu mesin yang Mahatahu di kejauhan sana yang menjalankan alam semesta ini.

Makna permohonan (dan syafaat atau pengantara) bukanlah untuk mengubah pikiran Allah, sesuatu yang mendorong-Nya untuk melakukan sesuatu yang baik bagi kita yang tidak akan dilakukannya seandainya kita tidak menarik-narik lengannya. Allah tidak hidup di dalam kerangka waktu kita. Ia tidak dengan mendadak mengatur kembali segala sesuatu sehubungan dengan respons-Nya terhadap permohonan kita. Ia hidup di dalam kekekalan, Ia dapat melihat seluruh waktu dengan sekali pandang. Sejak dunia ini diciptakan, Ia melihat setiap doa dan masing-masing doa itu dipertimbangkan-Nya ketika ia merencanakan apa yang akan terjadi. Kita tidak berdoa untuk mengubah pemikiran Allah, melainkan (oleh karena suatu hubungan kasih yang penuh misteri dengan yang Mahakuasa) kita berdoa supaya permohonan kita dijadikan bahan pertimbangan.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Kompas Kehidupan Kristen
Judul buku asli : A Compact Guide to the Christian Life
Judul artikel : Doa
Penulis : K. C. Hinckley
Penerjemah : Gerrit J. Tiendas
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, Bandung 1989
Halaman : 25 -- 34

Komentar