Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Doa

Loading

Sembilan Kualitas Seorang Pendoa Syafaat yang Efektif

*Seorang pengacara yang baik memiliki kualitas pribadi dan kualitas kerja seperti di bawah ini. Mari kita lihat bagaimana kualitas ini juga dapat membantu menghasilkan pendoa syafaat yang baik.

1. Dedikasi. Pendoa syafaat harus berkomitmen kepada Kristus, kepada orang lain, dan pada tugas berdoa syafaat. Dedikasi adalah syarat mutlak. Phillips Brooks pernah berkata, "Jika manusia adalah manusia dan Allah adalah Allah, hidup tanpa doa bukan hanya hal yang mengerikan, itu suatu kebodohan."

2. Keandalan. Allah tidak mencari kemampuan kita, tetapi kerelaan kita. Daniel Paul Rader pernah berkata, "Jika Anda bisa mengalahkan iblis dalam hal berdoa secara teratur setiap hari, Anda bisa mengalahkan dia dalam hal apa pun. Jika dia bisa mengalahkan Anda dalam hal berdoa, dia mungkin bisa mengalahkan Anda dalam hal apa pun." Atau, sebagaimana seorang pengkhotbah desa pernah berkata, "Jika hari-hari Anda dipenuhi dengan doa, hari-hari Anda akan lebih baik."

Doa dalam gereja

3. Integritas. Dalam bukunya yang berjudul Beyond the Veil, Alice Smith menulis, "Jika kita menerima tugas dari Tuhan, kita boleh percaya bahwa Ia akan membangun integritas diri kita. Saya (Alice) menyukai Mazmur 26:11-12 yang berbunyi, 'Namun, aku berjalan dalam ketulusan. Tebuslah aku dan kasihani aku. Kakiku berdiri di atas tanah yang datar. Dalam perkumpulan, aku akan memuji Tuhan.'”

"Interpretasi saya demikian, 'Dalam semua tugas yang saya lakukan, saya akan berlaku lurus dan memerhatikan kebenaran, kejujuran, keadilan, dan belas kasihan. Saya tidak akan membuat rencana jahat atau mementingkan diri sendiri. Saya akan setia kepada kebenaran Firman. Saya akan menjalani kehidupan yang bertanggung jawab, baik secara pribadi maupun di depan umum. Saya berdiri kokoh pada prinsip-prinsip perilaku yang tepat, dan saya tidak akan menyimpang.'"

4. Objektivitas dan empati. Objektivitas dan empati adalah dua hal yang perlu disikapi dengan bijak. Keduanya diperlukan, tetapi harus tetap seimbang.

Jika kita seorang pendoa syafaat yang berempati, yang tidak dapat bersikap objektif ketika berdoa, kita akan larut dalam emosi dan pada akhirnya merasa terbebani dengan permohonan doa yang harus kita tanggung. Ingat kata-kata dari lagu lama berjudul Leave It There (Tinggalkan di sana - Red.) oleh Charles Albert Tindley: "Bawa beban Anda kepada Tuhan dan tinggalkan di sana".

Di sisi lain, jika kita pendoa syafaat yang bisa bersikap objektif, tetapi tidak memiliki empati, tidak dapat merasakan kebutuhan mereka yang kita doakan, kehidupan doa kita akan terasa membosankan dan akhirnya kering.

5. Kebaikan hati. Seorang pendoa syafaat perlu memiliki kebaikan hati, seperti yang digambarkan oleh kisah berikut.

Seorang pria tua membawa sebuah kaleng minyak kecil ke mana pun dia pergi. Jika ia melewati pintu dengan engsel berderit, ia mengoleskan sedikit minyak pada engsel tersebut. Jika pintu itu sulit dibuka, ia menuangkan sedikit minyak pada kaitnya.

Setiap hari, ia menemukan berbagai cara untuk bisa menggunakan minyak di sakunya bagi kepentingan orang lain. Para tetangga mengira dia eksentrik, tetapi dia tetap melakukannya. Melakukan dengan semua kekuatannya untuk melumasi tempat yang kaku dan membuat hidup orang lain menjadi lebih mudah dan lebih menyenangkan.

Apakah kita juga membawa "minyak kebaikan"? Ketika lalu lintas macet, ketika bertemu pramuniaga toko yang kasar, atau menerima keputusan yang buruk dari atasan Anda, apakah Anda juga memberikan "minyak kesukaan"? Maju dan lakukan! Ini akan membuat hari Anda berarti.

6. Disiplin. Pendoa syafaat tidak akan berhasil tanpa menerapkan sikap disiplin. Sikap disiplin sangatlah penting, seperti digambarkan dalam cerita berikut ini.

Seorang pengunjung di sebuah bengkel tembikar yang terkenal, terheran-heran melihat sebuah pekerjaan yang seperti tanpa tujuan. Dalam satu ruangan, ada gundukan tanah liat yang sedang diolah oleh seorang pekerja. Sesekali, si pekerja mengambil palu besar dan menghunjamkan beberapa pukulan dengan terampil di permukaan gundukan tanah liat tersebut. Rasa ingin tahu membuatnya bertanya,

"Mengapa Anda melakukan itu?"

"Tunggu sebentar, Pak, dan lihatlah ini!" jawabnya.

Pengunjung menurut, dan segera puncak gundukan mulai mengembang dan membengkak. Gelembung-gelembung terbentuk di permukaannya.

"Sekarang, Anda melihat," kata pembuat model dengan tersenyum. "Saya tidak pernah bisa membentuk tanah liat ini menjadi sebuah vas jika gelembung-gelembung udara tadi berada di dalamnya. Karena itu, secara bertahap saya memukulnya keluar."

Bagi si pengunjung, hal itu terdengar seperti perumpamaan dalam Roma 5:3-5 (AYT), "Kesengsaraan menghasilkan ketekunan ... tahan uji ... pengharapan." Bukankah disiplin hidup, yang terkadang begitu sulit untuk ditanggung, adalah seperti pengosongan gelembung kesombongan dan keinginan diri sendiri sehingga Sang Guru dapat membentuk sebuah bejana guna menyimpan harta surgawi?

7. Kemampuan Memimpin. Dalam bukunya yang berjudul Wind and Fire, Bruce Larson menceritakan beberapa fakta menarik mengenai burung bangau.

"Burung-burung besar ini, yang terbang dalam jarak jauh untuk mencapai benua lain, memiliki tiga kualitas yang luar biasa. Pertama, mereka memimpin secara bergantian. Seekor burung akan terbang di ujung formasi, tetapi tidak akan berada di sana sepanjang waktu."

Kedua, mereka memilih pemimpin yang dapat menghadapi turbulensi, dan selama seekor burung memimpin di depan formasi, burung-burung lainnya menyuarakan dukungan mereka untuk si pemimpin.

"Gereja bisa mencontoh hal ini. Gereja membutuhkan pemimpin yang dapat menahan guncangan, dan sadar bahwa kepemimpinan harus dibagi. Namun, lebih dari semua itu, kita perlu sebuah gereja tempat kita semua bisa saling mendukung."

Patut diingat pula bahwa tugas-tugas doa kita juga sedang ditanggung oleh orang-orang Kristen lainnya. Maka, mari kita menjaga hati kita terhadap perasaan bahwa kita--dan doa kita--adalah "satu-satunya alasan" mengapa sesuatu bisa terjadi.

Rasul Paulus memperingatkan kita bahwa kita "jangan memikirkan hal-hal yang lebih tinggi daripada yang harus ia pikirkan, tetapi supaya berpikir jernih sesuai ukuran iman yang telah Allah berikan kepada setiap orang" (Roma 12:3, AYT).

8. Sikap moral yang tinggi. Seorang biksu Buddha di Sri Lanka, yang mempelajari kekristenan dan juga agama Buddha, suatu kali mendapat pertanyaan mengenai apa perbedaan besar di antara kedua agama ini. Dia menjawab, "Ada banyak hal baik di kedua agama ini dan mungkin di semua agama."

"Akan tetapi, perbedaan terbesar di antara keduanya adalah bahwa Anda orang Kristen tahu apa yang benar dan memiliki kekuatan untuk mengerjakannya, sementara kami umat Buddha tahu apa yang benar, tetapi tidak memiliki kekuatan untuk mengerjakan kebenaran itu."

Biksu itu benar. Kemerdekaan sejati bukanlah hak untuk berbuat sekehendak hati kita. Itu adalah kekuatan untuk melakukan apa yang benar!

Seorang pengacara yang tinggal di dalam kamar di sebuah kuil bercerita tentang seorang pria tua berambut abu-abu yang tinggal di kamar sebelahnya, yang berlutut setiap malam dan menaikkan doanya dengan keras. Pembatas antara kamar mereka tipis sehingga ia bisa mendengar perkataan orang tua itu dengan cukup jelas. Dia sangat terkejut ketika mendengar pria tua itu selalu memanjatkan doa ini, "Tuhan, jadikan saya anak yang baik."

Doanya mungkin terdengar menggelikan. Akan tetapi, jika Anda merenungkan doa itu, Anda akan tersentuh oleh keindahannya. Bertahun-tahun sebelumnya, ketika masih kanak-kanak, orang tua itu menyandarkan diri di lutut ibunya. Sang ibu mengajarkan doa ini, "Tuhan, jadikan saya anak yang baik."

Kemudian, selama bertahun-tahun ia hidup dengan berbagai ujian, ia masih merasa perlu menaikkan permohonan yang lama, dengan bahasa yang sederhana dari masa kanak-kanaknya dan dengan mengetahui bahwa di mata Allah yang tak kenal usia, ia masih anak-anak.

Pendoa syafaat yang efektif harus hidup kudus dengan memiliki sikap moral yang tinggi, sama seperti seorang pengacara yang baik harus menjadi pribadi yang memilki sikap moral yang tinggi.

9. Seorang pemain dalam tim. Membentuk jaringan pendoa syafaat adalah cara berdoa yang jarang diterapkan. Di banyak tempat, doa syafaat dilakukan secara sendiri-sendiri. Untungnya, gereja mulai menyadari pentingnya jaringan pendoa syafaat!

Berdoa syafaat

Kami juga mulai membentuk jaringan pendoa syafaat. Kami menyadari bahwa semakin banyak kesaksian yang kami miliki dalam persidangan, maka semakin kuat pula argumen kami. Kami berterima kasih kepada 61 pendoa syafaat pribadi yang setia mendoakan kami dan pelayanan kami. Kami menghargai setiap waktu yang mereka pakai untuk mendoakan persidangan atas nama kami.

Kami tidak pernah berhenti merasa kagum pada disiplin diri yang diterapkan oleh pendoa syafaat. Kemampuan untuk bekerja dengan baik walau di bawah tekanan dan bekerja tanpa menuntut pengakuan adalah anugerah terbesar yang Allah berikan kepada mereka. Kepada pendoa syafaat, kami mengagumi kesetiaan Anda untuk secara sukarela menghabiskan waktu Anda berdoa mewakili orang lain.

Kita dapat mengalami transformasi dalam keluarga, kota, dan bangsa jika kita mau bekerja bersama-sama. (t/Jing-Jing)

Catatan: *Penulis adalah pengacara, dan ketika menulis artikel ini ia sedang menggunakan analogi cara kerja seorang pengacara.

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Charisma Magazine
Alamat URL : http://www.charismamag.com/spirit/prayer/16016-9-qualities-of-an-effective-intercessor
Judul asli artikel : 9 Qualities of an Effective Intercessor
Penulis artikel : Eddie Smith
Tanggal akses : 14 Maret 2017

Komentar