Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Doa

Loading

Doa Daud untuk Anaknya yang Sakit (2 Samuel 12:16)

Untuk dapat mengerti mengapa doa ini tidak dijawab, kita perlu mengetahui apa yang tertulis dalam pasal 11. Dua pasal ini merupakan bukti dari ilham Tuhan dan kebenaran Alkitab. Allah mengatakan kebenaran semata-mata.

Daud kira-kira berumur 51 tahun ketika ia mengirim Yoab untuk menyerang bani Amon. Seharusnya ia berada di sana memimpin pasukannya dan seandainya ia melakukan hal itu, ia pasti tidak akan jatuh ke dalam dosa. Dari sotoh istananya, ia melihat Betsyeba sedang mandi. Dalam pelanggaran ini mungkin Betsyebalah yang mula-mula bersalah karena, karena ia terlalu memamerkan daya tariknya.

Keadaan santai dan bermalas-malasan ternyata menjadi sesuatu yang fatal bagi Daud; ketika ia sedang bermalas-malasan, ia jatuh ke dalam dosa. Apakah ia merasa menyesal? Pada mulanya tidak. Ia mencoba untuk menutupi dosanya; dan untuk sementara ia menutupinya dengan tipu dayanya sendiri, tetapi ia tidak memperhitungkan keadilan Allah. Hati nuraninya sedang tertidur.

Daud merasa sangat marah mendengar dosa orang kaya dalam perumpamaan Natan, tetapi ia melupakan dosanya sendiri (ayat 5). Kejahatan Daud tidak dibiarkan oleh Allah Yang Mahasuci dan Mahaadil. Allah tidak dapat mengampuni dosa Daud (2 Samuel 12:14). Hukum Taurat menuntut bahwa ia dan Batsyba harus dibunuh; dan walaupun ia seorang raja ia tak dapat lepas dari hukuman ini (Imamat 20:10).

Hanya dengan perkataan Natan yang menusuk hati: "Engkaulah orang itu!" (ayat 7), hati nurani Daud tergugah. Daud mengakui dosanya dan Mazmur 51:1-19 menunjukkan betapa sungguh-sungguhnya ia bertobat. Nabi Natan menyakinkannya bahwa Allah telah mengampuni dosanya, tetapi anak hasil perbuatannya dengan Batsyeba harus mati karena Allah tidak dapat menerima dosa yang seperti itu terdapat dalam diri raja Israel (2 Samuel 12:14).

Natan mengumumkan hukuman Allah atas Daud (ayat 10-12). Doanya untuk anak itu tidak dijawab walaupun ia telah berpuasa dan berdoa. Tetapi, kemurahan Allah dapat juga dilihat dalam hal Allah tidak membiarkan anak itu hidup. Anak itu akan selalu mengingatkan Daud akan dosanya. Anak yang belum berbuat dosa itu mati supaya Daud dan Betsyeba tidak perlu mati. Apakah hal ini mengingatkan kita akan Anak Allah yang tak berdosa yang mati untuk kita?

Hukuman Allah dilaksanakan sepenuhnya, Daud dipermalukan oleh anaknya Amnon(2 Samuel 13:14), diusir oleh Absalom (2 Samuel 15:14), ditentang oleh Adonia (1 Raja-raja 1:5,13), dikutuk oleh seorang rakyatnya (2 Samuel 16:5), dikhianati oleh Yoab dan yang lain (1 Raja-raja 1:7) dan ditinggalkan oleh rakyatnya. Walaupun begitu, Allah tetap menaruh belas kasihan kepada Daud ("seorang yang berkenan di hati Allah", Kisah Para Rasul 13:22), sebagaimana dapat dilihat dalam doa pujian Daud yang berikutnya kepada Allah.

Allah tidak menurunkan Daud dari takhtanya, tetapi mengizinkannya untuk memenangkan pertempuran melawan bani Amon di Raba. Ia mengizinkannya untuk mengumpulkan semua bahan, emas dan perak, untuk pembangunan bait Allah dan menyiapkan kebaktian di bait Allah. Bilamana seseorang mengakui mengakui dosanya dan dengan sungguh-sungguh bertobat, maka Allah mengampuni, melupakan dosanya dan memulihkan hubungannya dengan diri-Nya. Allah kembali menyenanginya dan kembali memberinya kesempatan untuk dipakai Allah. Kita harus sepenuhnya percaya bahwa Allah bersedia mengampuni dan kembali mengasihi kita dan memulihkan hubungan-Nya dengan kita, 1 Yohanes 1:9. "Di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah" Roma 5:20.

Ada dua pepatah yang kedua-duanya tidak dapat dibenarkan. Prtama, "Seorang raja tidak dapat melakukan kesalahan," seorang raja boleh saja berpendapat bahwa apa yang dilakukannya itu benar, tetapi Allah tidak akan berpendapat demikian. Kedua, "Burung yang sayapnya patah tidak dapat terbang tinggi." Mungkin hal ini benar untuk burung, tetapi tidak demikian halnya dengan seorang manusia yang memiliki hati yang hancur dan penuh penyesalan.

Umur Daud 51 tahun ketika ia berbuat dosa dengan Batsyba. Perbuatannya memperingatkan kita akan budayanya jika kita sedang santai dan bermalas-malasan.

Komentar