Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Doa

Loading

Nehemia: Doa dan Visi

Pada zaman pembuangan bangsa Israel di tanah Persia, Nehemia adalah seorang Yahudi yang memunyai kedudukan cukup tinggi dan memunyai hubungan dengan raja negeri itu, Artahsasta. Ia mendapat izin dan dukungan raja untuk kembali ke Yerusalem guna membangun tembok-tembok kotanya yang telah runtuh. Di bawah kepemimpinan Nehemia, tembok Yerusalem selesai dibangun dalam 52 hari (Nehemia 6:15). Keberhasilan itu membuat malu musuh-musuh Israel yang mencemoohnya (Nehemia 6:16).

Semasa di Persia, Nehemia menjadi juru minum raja, sebuah jabatan yang istimewa. Raja Artahsasta sangat peduli dengan Nehemia dan mau mendengarkan aspirasi orang kepercayaannya itu. Dari hubungan itulah Nehemia berhasil melobi Artahsasta sehingga diberi izin untuk pulang ke Yerusalem guna membangun kota itu kembali (Nehemia 2:5). Bahkan, raja berkenan memberinya bantuan material berupa kayu-kayu untuk membangun pintu-pintu gerbang, bait suci, dan tembok kota Yerusalem (Nehemia 2:8).

Ketika tiba di Yerusalem, Nehemia melakukan penyelidikan rahasia untuk kemudian membuat perencanaan pembangunan (Nehemia 2:11-15). Selanjutnya, ia membagikan visi pembangunan itu kepada orang-orang Yahudi dan mereka pun merespons sangat positif (Nehemia 2:17). Dengan wibawa kepemimpinan yang kuat, Nehemia segera menggerakkan banyak orang untuk terlibat langsung dalam proses pembangunan tembok Yerusalem (Nehemia 3). Ketika pembangunan menghadapi tantangan, Nehemia menetapkan strategi-strategi yang jitu (Nehemia 4:16-19).

Nehemia bukan hanya berhasil membangun tembok Yerusalem, tetapi juga menjadi seorang pengembang (developer) yang mengatur perkembangan kota Yerusalem, baik secara teknis maupun tatanan sosial masyarakatnya (Nehemia 7:4-5). Di bawah kepemimpinan Nehemia, kota Yerusalem marak kembali.

Nehemia juga sangat memerhatikan pembangunan mental-spiritual bangsanya. Ia sangat tegas dalam menjaga kemurnian ibadah. Karena dosa imam Elyasib, Nehemia menjadi marah dan sedikit bersikap kasar (Nehemia 13:7-8). Ia lantas memerintahkan penahiran supaya ibadah Israel dimurnikan kembali (Nehemia 13:9).

Nehemia adalah seorang pemimpin yang benar-benar menjaga integritas kepemimpinannya. Sebagai bupati di tanah Yehuda, ia tidak mencari untung sendiri (Nehemia 5:18). Nehemia sangat menentang praktik korupsi yang merugikan rakyat!

KEHIDUPAN DOA NEHEMIA

Ketika pada suatu hari Raja Artahsasta bertanya kepada Nehemia: "Jadi, apa yang kauinginkan?" (Nehemia 2:4a), ia tidak langsung menjawab. Tetapi, Nehemia berdoa dulu kepada Tuhan (Nehemia 2:4b). Di sini terlihat jelas prinsip iman Nehemia: ia tidak minta kepada manusia, tetapi minta kepada Tuhan.

Jika Anda seorang pendeta yang sedang membangun gedung gereja, lalu tiba-tiba datang kepada Anda seorang pengusaha kaya raya yang menanyakan apa keingian Anda, apa yang akan Anda lakukan? Mungkin secara refleks Anda akan langsung berkata, "Wah, saya sedang butuh seratus juta!", dengan harapan memperoleh donasi. Tetapi, pemimpin yang baik akan cepat mendengar dan lambat untuk berkata-kata (Yakobus 1:19). Lebih dari itu, ungkapkanlah dulu dan yang terutama keinginan Anda pada Tuhan. Jangan pernah berharap pada manusia!

Ketika menghadapi tantangan, cemooh, dan hinaan musuh, Nehemia tidak membalas, tetapi berdoa. Nehemia berseru, "Ya, Allah kami, dengarlah bagaimana kami dihina ...." (Nehemia 4:4). Pemimpin yang belum dewasa akan mudah terpancing emosi ketika harkat dan martabatnya diusik. Tetapi pemimpin Kristen yang dewasa membalas kejahatan dengan kebaikan, sebab Tuhan sajalah yang memunyai hak untuk melakukan pembalasan (Roma 12:19-21).

Nehemia menerapkan prinsip "ora et labora" (berdoa dan bekerja). Ketika Sanbalat dan Tobia mencoba menentang dan hendak menyerang pembangunan tembok Yerusalem, Nehemia menggalakkan doa (Nehemia 4:9) tanpa mengurangi semangat kerja yang gigih (Nehemia 4:16-18).

Ada pemimpin Kristen yang terjerumus dalam salah satu ekstrem: berdoa melulu tanpa bekerja, atau bekerja saja tanpa berdoa. Mengandalkan kekuatan sendiri tanpa doa tidak akan berhasil, malahan terkutuk (Yeremia 17:5). Tetapi, tanpa usaha juga tidak akan ada kemajuan. Ganjaran bagi seorang pemalas adalah kemiskinan (Amsal 6:9-11).

Nehemia selalu memohon perlindungan Tuhan melalui doa-doanya. Pada waktu orang-orang berusaha membunuhnya, Nehemia berdoa kepada Tuhan (Neheima 6:14). Ia tidak mau terancam oleh ancaman manusia, tetapi memohon perlindungan Tuhan.

Kehidupan doa Nehemia yang kuat membuatnya peka mendengar bisikan Roh Kudus. Meskipun bukan seorang pelihat, roh Nehemia yang sensitif sanggup menangkap kehendak Tuhan. Rencana-rencana yang dibuatnya bukan berasal dari pikirannya sendiri, namun merupakan ilham yang diberikan Tuhan (Nehemia 7:5).

BEBAN VERSUS PANGGILAN

Kisah Nehemia dimulai dari bagaimana ia menerima informasi buruk tentang tembok Yerusalem yang telah terbongkar dan pintu-pintu gerbangnya yang telah terbakar habis (Nehemia 1:3). Mendengar kabar itu, Nehemia menangis, berkabung selama beberapa hari, dan berdoa puasa di hadirat Allah semesta langit (Nehemia 1:4). Perasaan duka itu tidak bisa ditutup-tutupinya, Nehemia selalu muram meskipun tubuhnya sehat walafiat (Nehemia 2:2).

Doa bertumbuh dari beban terhadap orang lain. Seorang pemimpin akan tekun berdoa jika hatinya sensitif dan mudah tergerak oleh belas kasihan. Pemimpin yang cuek biasanya tidak tertarik untuk berdoa. Tetapi, sampai di sini, harus diingat bahwa beban itu berbeda dengan panggilan. Rasa terbeban akan mendorong kita untuk berdoa, tetapi tidak sekaligus menjadikan kita terpanggil dalam beban itu. Melihat gelandangan di perempatan jalan hati kita terbeban, tetapi tidak selalu berarti bahwa Tuhan memanggil kita untuk melakukan pelayanan khusus bagi orang-orang tersebut.

Itulah sebabnya, Nehemia tidak langsung secara gegabah menetapkan pelayanannya. Begitu beban tentang kehancuran Yerusalem itu muncul di hatinya, Nehemia berdoa untuk beberapa waktu lamanya. Ia tidak langsung pergi ke Yerusalem untuk membangun reruntuhan itu. Bahkan, ketika ditanya oleh raja Artahsasta mengenai keinginan hatinya, Nehemia berdoa dulu (Nehemia 2:4), baru kemudian memberi jawaban yang berupa visi pelayanan untuk membangun kembali tembok Yerusalem.

Sebelum menangkap visi itu, Nehemia terlebih dahulu berdoa dan berpuasa (Nehemia 1:4). Nehemia kemudian menaikkan syafaat untuk kota Yerusalem (Nehemia 1:5-6). Doa-doa itu dilakukannya siang dan malam dengan tekun dan terus-menerus (Nehemia 1:6). Di dalam doanya, Nehemia juga merendahkan diri dengan mengaku dosa (Nehemia 1:6). Akhirnya, Nehemia mengingatkan Tuhan akan janji-janji-Nya kepada bangsa Israel (Nehemia 1:8-11).

Banyak pemimpin Kristen tidak berjalan dengan visi dari Tuhan. Pelayanan dan organisasinya dibangun atas dasar cita-cita dan pemikiran akal budi manusia. Pemimpin yang sejati akan diberi visi oleh Tuhan, dan itu diperolehnya melalui doa.

Pengerjaan visi itu juga dilandasi dengan doa yang kuat. Sebelum memberitahukan visinya kepada raja, Nehemia berdoa lebih dulu (Nehemia 2:4). Alhasil, visi itu direspons dan bahkan didukung penuh. Pelayanan harus kita mulai dan terus kita bangun dengan doa, sebab jika bukan Tuhan yang mendirikan, maka semua akan sia-sia (Mazmur 127:1).

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Mezbah Doa Para Pemimpin
Penulis : Haryadi Baskoro
Penerbit : Yayasan ANDI, Yogyakarta 2008
Halaman : 63 -- 68

Komentar